
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Lihat! tanpa malunya aku memuji, mengangumi, dan menyebutmu dalam tiap narasi...
...Membuat frasa hanya antara kamu dan aku...
...Menggoreskan tiap lengkungan kata agar berbentuk kita...
...Merengkai sebuah alenia agar menjadi aksara...
...Hingga membuat kisah yang katanya berakhir indah...
...~ Elea Anandhiya Dilla...
***
Malam semakin larut, angin berhembus riang. Menggerakkan horden untuk ikut menari bersama.
Dibalik dinginnya angin malam, Elea masih terlelap dengan gelisah.
Pakaian Elea yang basah telah berganti dengan yang baru. Bukan ia yang mengganti dan tentu saja bukan Ardha, tapi Mama Nira.
Perempuan itu rela meninggalkan pesta karena merasa khawatir dengan menantu baru.
Cila yang telah ngantuk dan tertidur setelah melihat keberadaan Bunda. Gadik kecil itu meringkuk diatas kasur dengan sang Oma.
Sedang Ardha, meski mengantuk tapi laki-laki itu tak mengindahkan dan tetap menjaga Elea.
Ardha duduk disamping tubuh Elea yang terbaring dan menjadikan tangan sebagai tumpuan.
Tap,
Ardha tersentak karena ternyata ia sempat tertidur. Menggelengkan kepala dan tangannya pun terulur untuk kembali mencek suhu tubuh Elea.
Sedikit menurun dari sebelumnya, Ardha mengganti kompres dengan air yang baru dan dengan hati-hati meletakkan kembali didahi Elea agar tidak terlalu membasahi jilbab yang Elea pakai.
Sebenarnya Mama Nira tak memakaikan jilbab pada Elea, namun Ardha bersikeras untuk memakaikan Elea penutup kepala dengan alasan takut jika tiba-tiba ada yang datang.
Tik tik tik
Jarum terus bergerak, memindahkan detik ke menit, menit ke jam dengan putaran porosnya.
Hingga disela lelahnya, Ardha juga ikut berlarut dalam posisi duduk dan tak sadar jika seseorang yang ia tunggu telah sadar.
Elea membuka kelopak mata dan melihat Ardha yang sedang menelungkupkan wajah dibalik kedua tangan.
Saya serakah dan berharap untuk mengingnkanmu!
__ADS_1
Saya mencintaimu, suamiku
Kamu adalah orang yang Tuhan kirim untuk membimbing saya.
Kamu adalah orang yang berkali-kali menyelamatkan saya
Mengeluarkan saya dari lubang keterpurukan
Iya, kamu adalah takdirku
Imamku
Kita akan membaik bersama
Elea mengelus rambut Ardha dengan lembut, ia ingat sekarang, saat ia bunuh diri, wajah Ardha muncul dengan cahaya yang besar.
Menarik alam bawah sadarnya agar segera bangun.
Iya, tangan Ardha menggenggam erat tangan Elea. membawa wanita itu agar melompat pada sebuah lubang hitam.
Sama seperti mimpinya saat itu. Ardha juga datang dengan kuda terbang dan membawa Elea melalui sebuah heksagram.
Dan tadi, Elea juga melihat Ardha dibalik cahaya hitam yang mengaburkan pandangannya. Ardha juga yang menariknya untuk menerobos lubang besar dengan bau yang menyengat bagi Elea.
Iya, sekarang Elea yakin bahwa Ardha adalah takdirnya dan tak akan ia berikan pada wanita lain.
Membuat frasa hanya antara kamu dan aku
Menggoreskan tiap lengkungan kata agar berbentuk kita
Merengkai sebuah alenia agar menjadi aksara
Hingga membuat kisah yang katanya berakhir indah
Pagi menyongsong, cahayanya membias masuk melalui kaca jendela yang dilapisi horden tipis.
Ardha telah bangun setengah jam yang lalu dan sudah menyelesaikan sholat subuh yang dulu jarang ia kerjakan.
Melirik sebentar ke arah tempat tidur sembari melipat sajadah.
Elea masih terlelap, meski suhu panasnya telah menurun.
Ardha bersiap untuk menuju lokasi syutting, pagi ini terasa ada yang kurang karena tak ada Elea yang menyiapkan pakaian serta ocehan perempuan itu di pagi hari.
Sebelum berangkat, Ardha duduk disamping ranjang. Mencium dahi serta hidung Elea dengan lembut lalu diakhiri dengan usapan pelan.
“lo hadir sebentar tapi mampu membuat perubahan di hidup gue.”
__ADS_1
“Perempuan jutek yang banyak omong sekarang berubah menjadi perempuan manis namun tetap banyak omong.” ucap Ardha sambil mengangkat sudut bibirnya.
“Gue pamit! Jangan kangen!” Ardha terkekeh geli dengan perkataannya sendiri. Untung Elea tak menyadari apa yang ia ucapkan.
Ardha melangkahkan kaki menuju pintu, membuka dan menutup perlahan agar tak mengganggu istirahat Elea.
Sebelum benar-benar pergi, Ardha tak lupa untuk meminta Mama Nira menjaga Elea.
“Tolong janga Elea mah!” pinta Ardha sambil memohon.
“Kamu pikir Mama akan membiarkan menantu kesayangan Mama sendirian?”
Mama Nira mengomel karena permintaan Ardha. Tanpa Ardha minta pun Mama Nira akan menjaga dan merawat menantunya
Ardha menyengir dan berpamitan pada Mama Nira.
“Dulu aja bilangnya ga mau,” gerutu Mama Nira sambil menatap punggung Ardha.
Didepan pagar, telah terparkir mobil yang dikemudi oleh Fatih.
Sembari berjalan, Ardha sesekali menguap hingga matanya berair. Tidur larut dan bangun pagi membuat tubuhnya sedikit sakit.
“Lo kurang tidur?” Tanya Fatih saat Ardha baru saja menghempaskan bokong dikursi belakang.
“Kurang libur!” sahut Ardha dengan padat dan jelas.
Fatih mencebik mendengar sahutan Ardha yang menyebalkan.
“Habis syutting lo pulang duluan, gue mau ketemu Sovia.” Ujar Ardha kembali setelah mobil berjalan.
Dibalik kaca spion, Fatih melihat ke arah Ardha sambil bertanya “Lo jangan macam-macam! Ngapain ketemu Sovia?”
“Mau selingkuh!” jawab Ardha dengan wajah datarnya.
“Lo kalo selingkuh mikir-mikir bego!”
Fatih dengan polosnya menanggapi ocehan tak bermutu dari Ardha.
“Lo tenang aja, gue akan main halus dan ga akan ketahuan.”
“Yakin lo mau nyelingkuhin istri lo yang adem gitu?”
“Dia itu….” Ardha menjeda sejenak sambil membayangkan wajah Elea “Ga cantik, ga manis, cerewet, banyak omong, berisik,”
Sebuah candaan agar tak terlalu serius, dan sebuah candaan agar ia tak terlalu mengantuk.
Namun candaan Ardha dianggap serius oleh Fatih. Laki-laki itu mencengkram setir mobil dengan kuat. Membenarkan kembali pemikirannya untuk mengambi Elea dari Ardha.
__ADS_1