
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Masa lalu yang sangat kelam tak membuat Elea patah justru membuatnya menjadi sosok bidadari tak bersayap buat Ardha dan Cila...
***
"Ah sial!" Ardha mengacak-acak pakaiannya dalam koper dan tak lupa juga mengecek benda-benda sekitar. Namun nihil, ponselnya tak juga ditemukan.
Kemarin selepas menemui Sovia ia langsung merebahkan diri. Dan saat pagi hendak ke lokasi syutting, Ardha lupa dimana ia menaruh benda tersebut.
Ardha mengambil jaket dan berencana untuk membeli ponsel yang baru setelah selesai syutting.
Tak beberapa menit, Ardha telah sampai dilokasi. Wajah tak ramah dari produser menyambut Ardha pagi itu.
Laki-laki itu meminta Ardha untuk pergi ke ruangannya yang telah disediakan.
"Apa ini, Ar? bisa kamu jelaskan pada saya apa maksud dari artikel itu?" Sebuah postingan dari akun gosip pun terpampang pada sebuah tablet.
Mata Ardha memicing, membaca kata demi kata yang tertulis.
"Apa ini Pak? Siapa yang berani menulis berita tentang istri saya?"
"Seharusnya saya yang bertanya sama kamu? Apa maksud dari berita itu Ardha? Kamu tau berita itu bisa berdampak pada film yang sedang kita buat?" Sang Sutradara terlihat frustasi.
Sedikit banyak pasti akan berdampak pada film yang sedang tayang. Dan ia juga pasti akan mengalami kerugian karena citra aktrisnya yang buruk.
"Apa benar yang dituliskan dalam postingan itu bahwa istri kamu--"
Ardha menatap tajam, tak suka membuat sutradara bungkam.
Brak, Ardha menggebrak meja. Napasnya memburu.
"Benar atau tidaknya, media tidak berhak mengulik kehidupan istri saya! saya akan melaporkan orang yang telah mencemarkan nama baik istri saya. Dan saya tak akan segan untuk mencebloskannya ke penjara dengan masa tahanan yang lama!"
"Ardha tunggu! kamu mau kemana?"
Sutradara berusaha mengejar Ardha yang sudah melangkah dengan cepat.
__ADS_1
"Melindungi istri saya!" Ardha berucap tanpa menoleh lalu beralih yang sedari tadi berjalan cepat, sekarang laki-laki itu berlari.
Jas yang ia pakai karena kebetulan sedang syutting dengan tema kantoran pun terkibas ke kiri dan ke kanan. Mengikuti arah gerak Ardha.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan disana?" Ardha bermonolog dalam hati. Merasa gelisah dan takut jika terjadi sesuatu pada istrinya.
"Ardha tunggu!" Sutradara kehilangan Ardha karena sudah masuk ke dalam taxi.
Di dalam taxi, rasanya Ardha ingin mengumpat karena mobil tersebut rasanya berjalan lambat.
"Bisa lebih cepat, Pak? saya sedang buru-buru." tegas Ardha dengan tidak sabaran.
Sungguh sebuah musibah baginya. Ban mobil taxi tersebut ternyata bocor. Pantas saja jalannya terasa aneh dan sangat lambat.
Ardha mengecek jam tangan, jarum pendek berhenti di angka 4.
"Apa masih lama, Pak?"
"Sebentar lagi Mas. Mungkin sekitar 10 menit lagi."
Ardha menghela napas, ingin mencari taxi yang lain namun tak satu pun ada taxi yang lewat. Beruntung Sang Supir membawa ban mobil ganti.
Ardha mulai mengetik nomor Elea yang untungnya ia hapal.
Nomor yang anda tuju sedang sibuk
Ardha mencebik, nomor Elea tak bisa dihubungi. Sekarang ia beralih pada nomor Fatih.
Hanya dua kali deringan, telepon pun tersambung.
Hallo
Terdengar suara Fatih diseberang sana.
Gimana keadaan istri gue? dia baik-baik aja kan?
Tanya Ardha tanpa berbasa-basi karena ia tak punya banyak waktu.
__ADS_1
Diseberang sana Fatih menjauhkan ponselnya dan mengecek nomor pemanggil. Nomor tersebut tak ada dalam daftar kontak miliknya. Namun suara yang berada dalam panggilan mirip dengan suara Ardha.
Lo Ardha
Hm, Gimana keadaan istri dan anak gue disana?
Sial! lo kemana aja. Istri lo hampir diperkosa! gue hubungin berkali-kali ga pernah diangkat. Dan apa yang lo omongin sama Elea sampai dia nangis-nangis dan bilang gue sama lo itu pembohong!
Deru napas Fatih memburu terdengar sangat jelas.
Deg, diperkosa? dan apa tadi Fatih bilang? Elea menangis karena omongannya? Selama Ardha pergi saja Elea tak pernah mengangkat telponnya dan Ardha tak pernah bicara dengan Elea selama ia pergi.
Lo ngomong apa? siapa yang mau melecekan istri gue?
Yang penting sekarang adalah siapa orang yang berani melecehkan Elea. Dari balik telpon Fatih pun menjelaskan kejadian yang ia tahu.
Ardha mengembalikan ponsel milik supir taxi. setelah menghapus riwayat panggilan dan tak lupa memberi tips pada supir tersebut.
Setelah membereskan barang-barangnya, Ardha menuju bandara.
Dalam perjalanannya Ardha mengingat kembali siapa yang sudah menghubungi Elea lewat ponselnya. Padahal benda tersebut saja tak ada dalam genggaman Ardha.
Kemarin ia bertemu Sovia dan perempuan itu meminta Ardha untum melakukan kamuflase.
Namun permintaan Sovia jelas saja Ardha tolak. Ah sepertinya Ardha tau siapa dalang dibalik semuanya, jelas Sovia.
Rahang Ardha mengeras, urat menjalar hingga pelipis.
Sorot mata penuh kebencian menatap nyalang, membayangkan jika Sovia di depannya maka tak segan akan Ardha seret perempuan itu untuk bertekuk lutut pada Elea.
Mengingat Elea, Ardha yang sedang duduk dikursi tunggu pun memejam.
Membayangkan wajah sang istri. Betapa kuatnya perempuan itu. Masa lalu yang sangat kelam tak membuat Elea patah justru membuatnya menjadi sosok bidadari tak bersayap buat Ardha dan Cila.
Ardha sebenarnya sudah mengetahui masa lalu Elea. Jauh hari ia tak sengaja bertemu dengan orang yang telah menyelamatkan Elea saat tenggelam. Mereka menceritakan bagaimana masa lalu Elea.
Ardha ingin mengajaknya bertemu Elea, namun suami istri itu menolak karena sedang ada urusan.
__ADS_1
"Elea Anindhiya Dilla, tetaplah menjadi kuat." Ardha bermonolog.