
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Tidak ada anak yang bodoh. Semua anak itu istimewa dengan kelebihan mereka masing-masing...
...~Elea Anindhiya Dilla...
***
Matahari telah menghilang. Berganti dengan langit yang mulai menggelap. Cahaya bulan perlahan menerang. Hawa dingin menelisik.
Malam ini Elea tidur bersama Cila di kamar anak itu. Bi Mia telah pulang sehingga mereka hanya berdua. Namun Elea tak khawatir karena ada satpam yang berjaga 24 jam di depan pagar dengan shift masing-masing.
Cila sedang berbaring sedang Elea mengusap-usap rambut Cila sambil bercerita tentang kisah Nabi Isa.
"Muktitat itu apa, Bunah?" Cila menyela cerita Elea.
Matanya yang sedari tadi memejam mendadak terbuka. Rasa penasaran mengalahkan rasa kantuk seketika.
Elea menjawab dengan sabar "Mukjizat adalah kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang terpilih."
"Muktitat Nabi Ita apa, Bunah?" pertanyaan yang lagi terlontar. Kantuk Cila sekarang mendadak sirna. Ia lebih tertarik dengan kisah Elea.
Kisah yang belum pernah ia dengar dari siapapun.
Elea tersenyum lembut "Mukjizat nabi Isa yaitu mampu bicara saat masih berumur beberapa jam. Saat masih bayi, Nabi Isa bahkan mampu bicara dengan lancar dan mengenalkan dirinya pada masyarakat."
Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
(Surat Maryam: 30).
__ADS_1
"Nabi Ita bita bicala saat umul bebelapa tam. Tenapa Tila yang tudah betal tidak lancal bicala, Bunah."
Wajah Cila terlihat kecewa. Kadang ia diledek temannya yang sudah bisa bicara dengan lancar. Meski juga ada beberapa temannya yang belum lancar bicara sepertinya.
"Bukan tidak lancar, Sayang. Tapi belum lancar. Nanti suatu saat Cila akan bicara dengan lancar kok." Elea memuji. Menenangkan Cila yang sudah berkaca-kaca.
"Tila ndak bodoh kan, Bunah. Tila pintel dan Tila akan mandili."
Elea menyerngit. Sudah beberapa kali Cila berkata bahwa ia akan mandiri. Seperti ada yang mendorong anak itu untuk melakukan hal tersebut.
"Iya, Cila pinter."
"Kata temen Tila anak yang tidak mandili itu anak yang bodoh." Cila menirukan gaya bicara temannya sambil menggerak-gerakkan jari telunjuk.
"Tidak ada anak yang bodoh, Sayang. Semua anak itu istimewa dengan kelebihan mereka masing-masing." jelas Elea membuat Cila mengangguk.
Saat Elea ingin mengatakan bahwa Cila harus tidur. Tiba-tiba suara bel berbunyi beberapa kali.
"Ada yang datang, Bunah." perkataan Cila sedikit membuat Elea was-was.
Siapa yang bertamu malam-malam. Keberadaan rumah mereka sangat privasi. Tak banyak yang tahu.
Tak mungkin Mama Nira dan Papa Dave karena mertua Elea itu sedang berada diluar negeri.
Tak mungkin juga Ardha. Karena kalaupun benar Ardha tak mungkin jika laki-laki itu memencet bel karena Ardha sendiri pun ada mempunyai kunci duplikat.
"Cila tunggu disini sebentar ya, Sayang. Bunda mau liat siapa yang datang."
Cila mengangguk tanpa sepatah kata pun. Ia mengambil buku kisah nabi-nabi yang tadi Elea bacakan.
__ADS_1
Sedang Elea berjalan perlahan menuju balkon untuk mengintip siapa yang sedang bertamu. Tapi sayang, Elea tak dapat melihat siapa yang sedang bertamu.
Namun dari posisi Elea, ia dapat melihat satpam yang berjaga pun tidak ada.
Ting
Nong
Kembali bel berbunyi. Dengan ragu Elea menuruni tangga. Ia akan mengintip di balik jendela terlebih dahulu.
Dinding yang tebal pun tersibak. Kaca hitam yang hanya dapat dilihat dari dalam itu pun menampakkan seorang laki-laki yang sedang menunggu pintu untuk terbuka.
Elea menghela napas ternyata pak satpam yang sedang berada di depan pintu.
Lekas Elea memutar kunci.
"Ada apa, Pak?" tanya Elea. Pasalnya tak mungkin satpam tersebut datang tanpa ada hal yang penting.
"Maaf bu saya datang kemari karena saya sudah berulang kali menghubungi ibu namun tidak dijawab."
Elea mengangguk. Ia tak mendengar telepon rumah karena sedang berada dikamar Cila. Dan mereka sedang asik berbincang.
"Tidak apa-apak, Pak. Ada apa? Apa ada sesuatu yang penting?"
"Ada tetangga sebelah yang ingin bertamu. Katanya sebagai bentuk pengenalan."
Jelas satpam tersebut.
Baru saja besok Elea berencana untuk berkenalan dengan tetangga barunya. Namun ternyata tetangga barunya itu telah lebih dulu berinisiatip untuk berkenalan lebih dulu.
__ADS_1
Satpam mengangguk setelah Ela mempersilahkan untuk tamunya dibiarkan masuk. Karena kata pak satpam tadi mereka telah menunggu di depan pagar.