
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Apabila kamu gelisah, maka bacalah Al Quran. Karena Al Quran bisa membuat hati lebih tenang. Karena dengan membacanya berarti kita sedang berdzikir mengingat Allah SWT. Dan barangsiapa mengingat Allah maka hatinya akan diliputi ketenangan...
***
“Tenapa Bunah? Kok bulu-bulu. Bunah abit liat hantu?” Cila bertanya karena Elea menggandeng tangannya dan berjalan dengan cepat.
Bundanya itu langsung menuju bingkai pintu dengan tergesa.
Cila menengok kebelakang. Pagar telah ditutup oleh satpam. Dan Cila tak mendapati apapun yang membuatnya takut.
“Bunda mau ke toilet, Sayang. Buru-buru karena sudah sakit perut.” Kilah Elea. ia menyeka keringat yang menetes di pelipis. Memegang perut seolah benar sedang sakit perut.
Cila mengangguk dan ber oh. Duduk di sofa dan membiarkan Bundanya naik ke lantai atas.
“Bi Mia, temenin Tila gambal dong. Bunah lagi takit pelut.” Cila memanggil Bi Mia yang saat itu melintas menuju dapur.
Bi Mia mendekat dan menemani Cila mengambil buku gambar dan pensil warna.
Sementara Elea yang berada di lantai atas lekas berwudhu dan mengambil al quran. Salah satu cara agar hati menjadi tenang.
Apabila kamu gelisah, maka bacalah al quran. Karena al quran bisa membuat hati lebih tenang. Karena dengan membacanya berarti kita sedang berdzikir mengingat Allah SWT. Dan barangsiapa mengingat Allah maka hatinya akan diliputi ketenangan.
Elea membaca bait demi bait bacaan yang tergores indah dalam Al Quran
“Shadaqallahul azim.”
(Maha benarlah Allah yang Maha agung).
Elea menutup Al Quran. Dan benar saja hatinya sekarang jauh lebih tenang.
“Bunah lagi ngaji?” Cila muncul dari balik pintu. Gadis kecil itu perlahan mendekati Elea dengan membawa satu buah iqra dan kepalanya sudah tertutup dengan jilbab instan.
__ADS_1
“Tila mau ngaji, Bunah.” Cila duduk disamping Elea dan menyerahkan iqra pada Elea.
Elea tersenyum. Cila memang suka belajar. Biasanya jadwal mengaji Cila sehabis magrib. Tapi saat mendengar Elea mengaji, gadis itu juga mau mengaji.
“Nah apabila hurufnya seperti sebuah kawat maka disebut huruf?”
Elea bertanya pada Cila sembari mengetahui apakah Cila masih mengingat pembelajaran kemarin.
“Lam!” seru Cila antusias. Tentu ia ingat karena Bundanya mengajari dengan sebuah perumpamaan yang membuatnya lebih mudah untuk mengingat.
“Masya Allah. Anak Bunda hebat sekali. Masih ingat pembelajaran kemarin. Sekarang hurufnya seperti bebek dan ada 2 tanda titik dibawahnya adalah huruf?” Tanya Elea lagi.
Cila berpikir sejenak “Ya!” jawab Cila lagi dengan tepat. Wajahnya menampilkan sorot yang percaya diri.
“Betul seka-“ perkataan Elea terhenti karena melihat Ardha yang sudah berdiri di ambang pintu. Sontak juga membuat Cila menoleh.
Papihnya yang baru saja berangkat beberapa menit yang lalu sekarang telah berada di depannya.
“Mas, ada apa? bukannya kamu mau berangkat syutting tapi kenapa sekarang malah disini? Apa ada masalah?”
Ardha berjalan dan duduk di atas kasur sambil menghela napas.
“Aku mau ke jogja selama seminggu. Ada beberapa adegan yang harus dilakukan disana.”
Ardha berujar dengan berat karena harus meninggalkan Elea dan Cila. Inginnya mereka ikut tapi Cila harus sekolah dan tak mungkin untuk Ardha membawa Elea karena Cila pasti akan merengek.
“Seminggu, Mas?” Tanya Elea yang juga dengan nada berat. Seminggu adalah waktu yang lumayan lama. Pun Ardha dan Elea semenjak menikah tak pernah berpisah terlalu lama.
“Hmm. Kamu keberatan?”
Elea menggeleng meski dalam hati sangat berat.
“Kalau kamu keberatan aku akan bilang sama produser dan akan mengundurkan diri.” Jelas Ardha lagi.
__ADS_1
Cila hanya menyimak saja karena tak paham apa yang orang tuanya bicarakan.
Lagi-lagi Elea menggeleng. Ia tak mau menjadi penyebab Ardha untuk keluar dari dunia yang sangat ia sukai.
“Kamu ngak apa Mas tinggal selama seminggu?” Ardha memastikan.
“Iya Mas. Kapan mau berangkat? Biar aku siapin keperluan kamu.”
“Malam ini.”
Elea mengangguk dan mengambil koper yang terletak disudut lemari. Mengambil beberapa lembar baju Ardha dan memasukkan ke dalam koper. Sedang Cila mendekat dan duduk dipangkuan Ardha.
“Papih mau pelgi?”
“Hm, Cila sama Bunda di rumah ya. Jagain rumah. Papih pergi buat kerja sebentar. Cila jangan buat Bunda kewalahan.”
Ardha menjawil hidung Cila sambil mewanti anak tersebut agar tak membuat Elea repot. Cila merengut karena tak suka.
Sedang Elea terkekeh, suaminya itu memang sengaja menggoda Cila. Masa anak sendiri diminta untuk menjaga rumah. Jelas rumah tak akan pergi kemana-mana. Pun jika terjadi sesuatu sudah ada Pak Satpam di depan.
“Tila anak yang pintel. Nda akan bikin Bunah lepot. Jangan lupa bawain Tila tama Bunah oleh-oleh yang banyak.”
“Siap bos kecil.”Ardha menggerakkan tangan tanda sebagai hormat dan patuh pada atasan. Cila tergelak.
“Bos besal.” Ralat Cila. Bersamaan dengan Elea yang sudah selesai menyiapkan keperluan Ardha.
Elea dan Cila mengantar Ardha hingga depan gerbang. Mobil sudah dihidupkan dan Ardha sudah ingin masuk ke dalam mobil setelah berpamitan mobil pun melaju menyisakan Elea dan Cila kembali.
Dengan was-was Elea mengamati sekitar barangkali sosok laki-laki yang tadi ia lihat masih ada disekitar sini.
Sosok tersebut sudah tak ada namun ada sesuatu yang lagi membuat Elea menyerngit.
Rumah sebelah seperti sedang banyak aktivitas karena beberapa mobil terparkir.
__ADS_1
Elea menyangka bahwa rumah samping mereka telah dihuni orang baru karena Elea sempat melihat ada plakat bahwa rumah tersebut dijual.
Elea masuk lagi ke dalam rumah. Ia berpikir mungkin besok atau nanti saja untuk berkenalan dengan tetangga barunya karena saat ini tetangganya itu pasti sedang sibuk menyusun barang-barang mereka.