
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Jangan anggap masa lalu bukan sebagai penghalang. Tapi anggap masa lalu sebagai bahan buat kamu terus belajar. Jangan peduli seburuk apa kamu dimasa lalu, tapi buktikan bahwa kamu mampu tumbuh sebagai sosok yang baru. Sebab, bukan dunia yang merubahmu tapi kamu yang merubah dunia...
****
Sebuah kursi kayu yang terbuat dari jati dengan ukiran kuno sedang Elea duduki. Masih dengan perasaan cemas, Elea berulang kali membuang napas.
Ingatan pada dua laki-laki yang mengejarnya tadi terus saja membuatnya terusik. Dan tentu saja juga takut.
"Diminum dulu, Nak. Mumpung masih hangat." seorang wanita paruh baya datang dengan nampan berisikan minuman yang masih mengepul.
Elea mengangguk dan menatap pada wajah yang telah menyelamatkannya berulang kali.
Ustadzah Aisyah, perempuan itu bersama suaminya Ustad Yusuf yang beberapa tahun lalu menemukannya hanyut disungai. Dan sekarang, mereka juga yang membantu Elea dari kejaran sosok misterius.
Air mata Elea kembali menganak. Merasa sangat bersalah pada perempuan yang saat ini berada di depannya.
"Maafkan Elea, Umi. Maaf Elea pergi tanpa pamit." sesal Elea karena ia pergi tanpa pamit. Bukan tanpa alasan.
Jika Elea pamit, tentu saja Ustad Yusuf dan Ustadzah Aisyah tak mengijinkan. Elea sudah mereka anggap sebagai anak mereka sendiri yang kebetulan belum dikarunia anak.
__ADS_1
Namun Elea merasa tak pantas berada disekitar mereka dengan dosanya yang sudah menumpuk.
Ustadzah Aisyah memeluk perempuan yang sudah ia anggap sebagai anak. Anak? Elea semakin merasa bersalah karena tak memberitahu mereka karena sudah menikah.
Sebenarnya tanpa Elea beritahu pun Ustadzah sudah mengetahui bahwa anak angkatnya itu telah menikah,tentu saja dari televisi dan beliau pun sudah pernah bertemu dengan Ardha.
Ustadzah Aisyah menenangkan Elea dan membiarkan Elea menceritakan tentang Dariush dan bagaimana ia diusir hingga dikejar oleh sosok misterius yang Elea duga adalah suruhan Dariush.
Karena saat Elea mengintip, ia sempat melihat tatto dengan ukiran huruf D pada tangan dekat jari kelingking mereka. Tanda bahwa ia bekerja pada Dariush.
Saat itu hanya ada Elea dan Ustadzah Aisyah. Sedang Ustad Yusuf pergi ke pesantren yang jaraknya tak terlalu jauh dari kediaman mereka.
"Astagfirullah, jadi dia kembali mengganggu kamu, Nak?" tanya Ustadzah Aisyah. Elea mengangguk.
"Lalu suamimu kemana, Nak. Apa dia tidak melindungi kamu?" tanya Ustadzah Aisyah lagi.
"Mas Ardha sedang syutting Umi diluar kota jadi gak tau kalau Elea diusir sama warga."
"Apa suamimu sudah tau tentang masa lalu kamu, Nak?" Ustadzah Aisyah menelisik wajah Elea yang mendadak menegang.
Sesuai perkiraannya bahwa Elea pasti tak mampu bercerita. Namun tanpa Elea ketahui, Ardha telah tau semua tentang masa lalu Elea.
__ADS_1
Elea menggeleng "Elea takut Umi. Elea belum sanggup buat cerita sama Mas Ardha. Tapi media sudah lebih dulu membuat berita. Elea yakin pasti sekarang Mas Ardha kecewa dan tidak peduli lagi sama Elea." keluh Elea sambil terisak lebih keras.
Membayangkan Ardha kembali seperti awal pertemuan mereka membuat dada Elea nyeri.
"Nak, Umi sudah pernah bilang. Hilangkan prasangka buruk. Karena sesungguhnya prasangka itu adalah dosa."
"Astagfirullah, jadi Elea harus bagaimana Umi?"
"Yakinkan diri kamu, Nak. Beri kepercayaan pada suamimu bahwa dia mau menerima kamu apa adanya. Ingat, kunci dari sebuah rumah tangga adalah kepercayaan."
"Tapi Elea takut, Umi. Disaat Elea mau memperbaiki diri, berusaha menghapus jejak kelam itu, selalu saja ada masa lalu yang menghalangi langkah Elea, Umi?"
"Jangan anggap masa lalu bukan sebagai penghalang, Nak. Tapi anggap masa lalu sebagai bahan buat kamu terus belajar. Jangan peduli seburuk apa kamu dimasa lalu, tapi buktikan bahwa kamu mampu tumbuh sebagai sosok yang baru. Sebab, bukan dunia yang merubahmu tapi kamu yang merubah dunia."
"Baik, Umi."
Ustadzah Aisyah tersenyum. "Mau Umi temani ke rumahmu. Umi mau bertemu dengan cucu Umi."
Elea yang sedari tadi menunduk, tiba-tiba mendongak dan seraya menggeleng "Bolehkah Elea tinggal disini, Umi? Elea mau mempersiapkan diri buat bertemu Mas Ardha."
Ustadzah Aisyah menghela napas. Wajah Elea memelas dengan sorot mata penuh permohonan.
__ADS_1
"Baiklah jika itu yang kamu mau, Nak."