Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Bertemu Kembali


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Rabbi najjini minal qaumidhalimin...


...Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim....


...(QS al-Qashash: 21)....


***


Siang berganti dengan malam. Tak seperti pada malam sebelumnya, malam ini Elea tidur bersama Bi Mia dan Cila.


Bukan tanpa sebab, karena Elea merasa takut dan was-was jika tiba-tiba laki-laki dimasa lalunya itu nekat masuk ke dalam rumah. Jadi Elea meminta Bi Mia untuk menginap malam ini.


Tak ada yang mencurigakan. Namun meski begitu tetap saja tidur Elea tak nyenyak. Sebab berulang kali Elea menghubungi Ardha namun sampai saat ini pun tak kunjung mendapat balasan.


Hingga adzan berkumandang membangunkan Elea. Rasanya ia baru saja memejam mata.


Dengan kepala yang berdenyut, Elea memaksakan untuk bangun dan melaksanakan kewajibannya. Tak lupa membangunkan Cila dan juga Bi Mia.


Mengambil wudhu dan sholat berjamaah.


Ueekkkk


Ueekkkkk


Tiba-tiba Elea merasa sangat mual. Perutnya seperti diaduk-aduk. Dengan cepat Elea melepas mukena dan lari ke arah westafel.


Ueeekkkk,


Cairan keluar dari mulut Elea. Lututnya terasa lemas. Bahkan peluh sebesar biji jagung menetes diarea pipi.


Bi Mia dan Cila terlihat khawatir. Ditangan Bi Mia terulur satu botol minyak kayu putih untuk Elea.

__ADS_1


"Bunah kenapa? Bunah takit?" Cila bertanya pada Elea yang sedang terduduk. Gadis itu mengusap peluh Elea dengan telapak tangan sedang Bi Mia membaluri tengkuk Elea dengan minyak kayu putih.


Elea menggeleng "Bunda hanya sedikit mual kok, Sayang. Mungkin masuk angin." jawab Elea.


"Tapi wajah Ibu pucat. Apa perlu kita ke dokter bu?" Bi Mia menyela. Wajah Elea memang terlihat pucat.


"Atau jangan-jangan Ibu hamil." Bi Mia kembali berucap. Sontak membuat mata Elea melotot tak percaya. Apa mungkin ia sedang hamil?


"Kapan Ibu terakhir datang bulan?"


Elea mengingat-ingat. Entahlah ia pun lupa kapan terakhir kali datang bulan.


Apa mungkin ia sekarang hamil? Wajah Elea mendadak berseri. Tanpa sadar Elea mengusap perutnya yang masih rata.


"Dalam pelut Bunah ada dedek bayi?" Cila bertanya dengan antusias. Menatap Elea dengan sorot mata penuh harapan.


"Semoga, doakan semoga ada adek bayi dalam perut Bunda."


Kejadian pagi itu pun berlalu. Cila berangkat sekolah meski ia berulang kali berkata jika ingin libur dan bersama Bunda saja dirumah. Namun berhasil Elea bujuk agar gadis itu berangkat ke sekolah.


Elea berbaring karena lagi-lagi kepalanya merasa pusing. Beristirahat sejenak dan menutup mata sesaat.


***


"Aduh, perut saya kok mendadak mules ya." satpam depan yang menjaga rumah pun tiba-tiba merasa sakit perut. Ia mulas tak tertahan lagi setelah memakan makanan pemberian seseorang yang katanya tetangga baru.


Tak tahan, satpam itu pun bergegas menuju toilet. Menuntaskan hajat yang sudah tak dapat lagi untuk ditahan.


Saat punggung satpam menjauh pun, sosok yang sedari tadi mengintai pun tersenyum sinis.


"Berhasil." monolognya.


Pintu pagar telah terbuka karena sosok tersebut berhasil mengambil kunci saat mengantarkan makanan untuk satpam. Sehingga ia tak perlu bersusah payah lagi.

__ADS_1


Perlahan langkahnya terayun sambil bersenandung. Tak sabar untuk menemui perempuan yang telah lama ia cari.


Ting


Nong


Bel berbunyi. Dengan berat Elea beranjak untuk memastikan siapa yang telah bertamu.


Bukankah ia telah berpesan pada satpam untuk tak membiarkan sembarang orang untuk masuk ke dalam rumah. Ataukah Bi Mia yang telah datang dari apotek? Tapi mengapa Bi Mia tak langsung masuk saja?


Elea terus bergumam sambil memijit pelipis. Perlahan menuruni tangga dan tepat pada jendela dekat pintu.


Deg, Elea dengan cepat menutup gorden. Napas Elea menderu tak beraturan.


Dengan gegas, Elea berbalik dan sedikit berlari untuk sembunyi di dalam kamar. Namun baru Elea beberapa langkah menjauh, dobrakan dari pintu membuat Elea membalikkan badan.


Nampak dorongan berkali-kali, membuat pintu bergerak.


Elea menutup mulut. Air matanya telah merembes karena takut.


"Rabbi najjini minal qaumidhalimin."


(Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim)


Elea berdoa sambil meminta perlindungan.


Brak,


Pintu berhasil didobrak. Sosok laki-laki dengan perawakkan yang tegap. Hidungnya bangir dengan bibir yang tebal. Tampan namun tak setampan Ardha.


Elea dan sosok tersebut saling bertatapan dan berhadapan.


"Selamat bertemu kembali, Dilla."

__ADS_1


Laki-laki itu mendorong pintu yang telah terbuka menggunakan kaki sehingga pintu tertutup sempurna.


"Da-Dariush."


__ADS_2