
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...kepercayaan adalah tiang dalam sebuah hubungan. Jika tiangnya saja lemah, lalu bagaimana bisa hubungan tersebut berdiri dengan kokoh?...
***
"Jangan sentuh saya!" teriak Elea sambil mendekap tubuh membuat Darius terkekeh.
"Kenapa? Bukannya dulu kamu datang padaku dengan suka rela? Kenapa sekarang berlagak seperti orang yang ketakutan?"
Dariush berjongkok menyamaratakan tubuh dengan Elea. Tangan Dariush terulur untuk mengangkat dagu Elea.
Elea menggeleng sambil berderai air mata. "Pergi dari sini atau akan saya laporkan pada suami saya." ancam Elea lagi.
Dariush tergelak "Suami kamu yang mana, Manis? Suami yang sedang bersama wanita lain?"
"Apa maksud anda? Jangan bicara omong kosong tentang suami saya!"
"Kamu tertipu, Manis."
Dariush mengambil ponsel dan mulai menggulir sesuatu. Tak lama sebuah foto pada layar ponsel Dariush terarah pada Elea.
Mata Elea membola, bahkan Elea sempat merasakan bahwa detak jantungnya terhenti sesaat.
"I-itu..."
Foto Ardha terpampang sedang makan bersama seorang perempuan yang tak asing bagi Elea. Perempuan yang ia tau sangat menyukai suaminya, Sovia.
__ADS_1
"Orang yang kamu anggap suami." Dariush menyela. Ia menyimpan kembali ponsel ke dalam saku kemeja.
"Apa suami kamu menganggap kamu sebagai istrinya? Apa benar dia menyukai kamu, Manis? Atau itu hanya kedok untuk menutupi hubungannya dengan wanita lain?" sambung Dariush lagi.
Elea menggeleng tak percaya. Ardha tak mungkin berbuat seperti itu dan Elea sangat percaya pada Ardha.
Ya, bukankah kepercayaan adalah tiang dalam sebuah hubungan. Jika tiangnya saja lemah, lalu bagaimana bisa hubungan tersebut berdiri dengan kokoh?
"Tak apa, manis. Ada aku yang tulus menyukai kamu. Kamu percayakan, dari dulu aku selalu memberikan apa yang kamu mau." tangan Dariush membingkai wajah Elea namun dengan sigap Elea tepis.
"Sekali lagi saya bilang pergi dari sini!"
Penolakan dari Elea membuat Dariush geram. Tangannya terkepal menahan amarah.
"Jangan menolakku atau aku akan berbuat lebih kasar dari yang pernah kamu terima." tekan Dariush. Rahangnya yang tegas semakin tercetak jelas.
Elea berusaha mendorong namun tenaganya kalah kuat dengan tangan Dariush.
"Teriak, Dilla." Dariush bersuara dengan lembut di indera pendengaran Elea. Suara Dariush seakan membius Elea.
Dariush melepaskan dasi yang terikat pada lehernya membuat Elea menangis tertahan karena tau apa yang akan terjadi setelahnya.
"Jangan mencoba melawan atau kamu akan semakin terluka." tangan Elea terikat dasi merah milik Dariush.
"Lepaskan saya," suara Elea sangat pelan. Memohon kepada Darius dengan wajah yang memelas.
Dariush semakin kencang mengikat tangan Elea.
__ADS_1
"Saya mohon, lepaskan saya." Dariush tak menghiraukan perkataan Elea. Ia sekarang sedang melepaskan kemeja dari tubuh.
Perlahan hingga kemeja itu terlepas menampilkan dada dengan bidang yang rata dan kokoh.
"Lepaskan saya. Status saya sekarang adalah perempuan yang sudah bersuami." Elea menjelaskan posisinya pada Dariush. Yang tanpa Elea sebutkan pun Dariush sudah tau.
Prang,
Sebuah vas bunga pecah dan berserakan diatas lantai. Elea terpekik karena terkejut.
"DIAM! jangan pernah sebut suami jika sedang bersamaku, Dilla."
"Tapi memang kenyataannya, saya adalah seorang istri." teriak Elea melawan bicara Dariush dengan lantang.
Dariush meradang, perempuannya yang dulu telah berubah dan ia tak terima. Ia hanya ingin Elea seperti dulu. Diam dan menerima apa saja yang ia perbuat.
"Katakan berapa uang yang kamu mau, Dilla. Aku akan memberikan yang lebih dari laki-laki itu. Jadi layani aku sekarang!"
Gelengan dari kepala Elea membuat Dariush naik pitam. Ia menggendong Elea dan membawa perempuan itu ke atas ranjang. Tak lagi mendengar ocehan dan rintihan Elea yang minta dilepaskan.
Sreeettt, jilbab Elea telah robek karena tarikan kasar dari Dariush.
"Jangan," pelan sekali karena tenaga Elea seakan habis karena terus meronta.
Elea memalingkan wajah saat Dariush mendekat. Terpaan napas Dariush mengenai pipi Elea.
"Mas Ardha," batin Elea begejolak. Berharap suaminya akan datang.
__ADS_1