
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Lo adalah orang yang tepat. Yang tuhan kirim untuk merubah gue. mulai sekarang gue berjanji buat berubah untuk menjadi lebih baik. Dan gue mau lo ikut andil di dalamnya....
***
“Gue cabut, mau ada urusan. Nanti kalo ada apa-apa lo urus aja, gue percayain semua sama lo.” Jelas Ardha, ia telah bersiap pulang dari lokasi syutting karena hari ini ijin pulang lebih awal.
Mudah bagi Ardha mendapatkan ijin karena keahliannya dalam dunia acting tak mengharuskan banyak take adegan.
“Setidaknya lo pilih dulu, mau ngambil tawaran iklan yang mana. Gue bingung mau pilih yang mana?”
Fatih menyodorkan beberapa brosur yang meminta Ardha untuk menjadi BA dari produk mereka.
Ardha menyerngit, brosur di depannya 3 kali lipat lebih banyak dari biasanya. Jika dihitung ada sekitar 65 lebih.
“Tumben sebanyak ini?”
“Nama lo lagi naik-naiknya, ditambah sama postingan yang gue unggah semakin menarik perhatian brand-brand ternama buat minta lo jadi Ambassador produk mereka.”
Fatih memperlihatkan postingan yang ia unggah. Terdapat lebih dari sepuluh ribu komentar yang memuji keharmonisan rumah tangganya yang baru.
“Widih jago banget lo bikin beginian. Kenapa ga lo praktekin sama cewek yang lo suka?”
Ardha merasa takjub saat membaca caption yang Fatih buat.
“Udah punya orang!”
“Rebut dong, masa gitu aja ga bisa.” Ucap Ardha sambil membaca beberapa komentar deterjen.
Salah satunya dari akun yang bernama @Cantikluardalam yang berisikan.
Istri Bang Ardha cantik, adem. Suka deh liatnya. Katanya sih kalo istri sholehah itu pembawa rezeki buat suaminya. Semoga rezeki Bang Ardha makin lancar ya bang.
Bang adalah panggilan Fans buat Ardha.
Ardha terdiam benarkah rezekinya ini semakin lancar karena kehadiran Elea si perempuan cerawet yang ia ajak berumah tangga hanya karena Cila.
“Jangan salahkan gue kalo suatu saat gue rebut dia!”
Ardha tak menghiraukan perkataan Fatih. Ia ingin segera pulang sekarang. Entah mengapa hatinya mendadak merindukan seseorang yang pasti sedang menunggu.
“Terserah lo gue mau cabut. Oh ya thank postingannya. Lo emang asisten terbaik gue.”
Ardha menyerahkan ponsel Fatih lalu memakai masker dan topi.
“Lo ga buka ig?”
__ADS_1
“Males, lo aja yang pegang akun gue.”
Ardha berlalu menuju mobilnya. Dia memang sengaja memakai mobil sendiri, sehingga tak repot untuk minta antar Fatih yang saat itu pasti akan pulang terlambat untuk mengurus proyek yang akan Ardha bintangi.
Siang itu mentari sangat cerah, secerah wajah Ardha dengan senyuman yang terus mengembang.
Hatinya mendadak berdegup dengan kencang. Rasanya seperti sedang ingin ngedate bersama pacar.
Elea Anindhia Dilla, perempuan yang baru hadir dalam hidunya itu mampu menggetarkan hatinya yang sudah lama tertutup.
Mencairkan bongkahan yang membeku. sekarang, apa Ardha sedang jatuh cinta dengan istrinya?
Mobil yang dikendarai Ardha telah berhenti tepat di depan garasi. Memandang kaca spion Ardha membetulkan rambutnya dengan menyisir menggunakan jari tangan.
Menarik napas dan membuangnya perlahan.
Langkah kaki Ardha melangkah beriringan dengan detak jantungnya yang bergetar.
Ditambah melihat Elea yang sudah terbalut rapi dengan setelan yang tertutup. Tersenyum teduh ke arah Ardha.
Entah dulu ia tak menyadari atau menampik bahwa perempuan di depannya ini sangat cantik.
“Mas udah pulang? Mau istirahat dulu atau langsung berangkat?” Elea perlahan menghampiri Ardha.
“Langsung berangkat.”
Mobil melaju setelah dua insan duduk dengan nyaman. Selama perjalanan tak jarang Ardha menoleh ke samping untuk melihat wajah Elea.
Mereka telah sampai ditempat parkir namun masih tetap berada di dalam mobil.
Ardha mendekati Elea dan memakaikan sebuah masker yang biasa digunakan untuk perempuan berhijab.
Tak lupa juga sebuah topi yang sama dengan yang Ardha pakai.
“Gue ga mau ada fans yang liat dan buat lo risih.” Ucapan Ardha diakhiri dengan usapan lembut di puncak kepala Elea.
“Jadi begini rasanya jadi istri artis? Kemana mana harus pakai masker dan topi.”
Elea membetulkan topi yang sedikit bergeser karena usapan tangan Ardha.
“Suami lo ini punya banyak fans dan lo harus terbiasa.”
Ardha menyombongkan diri. Berharap dengan perkataannya membuat Elea merasa menjadi perempuan yang beruntung karena Ardha memilihnya.
Mata Elea menyipit, ia mengulum senyum saat melihat Ardha yang dengan bangganya sambil menepuk dada.
“Apa saya harus merasa beruntung karena Mas telah memilih saya?”
__ADS_1
Tepat sekali, pemikiran Ardha mampu Elea tangkap dengan benar.
Ardha membetulkan tubuhnya untuk menegak dari sandaran kursi. Elea selalu saja mampu membuatnya bungkam.
“ Ck, emang lo gak merasa beruntung?”
“Beruntung karena harus bersaing dengan mereka.”
Elea membuka pintu mobil, mendengar perkataan Elea membuat Ardha tersenyum lalu juga ikut turun dari mobil. Menyamai langkah Elea yang sudah di depan menuju mall.
“Lo pernah ga terpikir buat nikah sama gue?” tanya Ardha, mereka telah berada disebuah toko setelan perempuan.
Elea yang sedang memilih baju pun menengok “pertanyaan yang sama dengan apa Mas pernah terpikir buat menikah sama saya?”
“Jawaban yang logis.” Jawab Ardha.
Dalam hati kecilnya menginginkan Elea menjawab sesuatu yang membuat hatinya senang.
“Lo pernah kuliah?” tanya Ardha lagi.
Elea lagi lagi menatap. Kenapa mendadak bertanya tentang kuliah.
Meski heran Elea menjawab dengan gelengan.
“Kenapa lo bisa sepintar ini? gue kira lo pernah ke jenjang perkuliahan, soalnya jawaban lo selalu terdengar logis dan menurut gue, lo orang yang bijak.”
Ardha bersandar di tiang sambil melipat tangan di dada. Menatap wajah Elea yang seakan memiliki magnet.
“Saya belajar dari pengalaman.”
Elea mengambil satu set pakaian berwarna navy.
Polos tapi sangat elegan dengan aksen renda di pinggang yang melingkar menjadi sebuah tali. Dalam hati Ardha berkata cocok.
“Gue sama lo lebih tuaan gue, lebih lamaan gue makan asam garamnya kehidupan.”
“pengalaman bukan tentang siapa yang lebih tua dan siapa yang lebih dulu lahir. Tapi pengalaman terbentuk dari seberapa banyak kejadian yang telah dilewati. Pengalaman yang dijadikan sebuah pembelajaran. Membuat saya berpikir untuk melakukan sesuatu dengan penuh pertimbangan.”
Senyum terukir diakhir perkataan Elea. perempuan itu meletakkan pakaian yang menurut Ardha cocok dan kembali memilih pakaian yang lain, berusaha memutus pembicaraan sebelum Ardha kembali bertanya lebih banyak.
Bertanya tentang pengalaman dan pelajaran hidup yang telah ia alami.
Bukan untuk menghindari atau menutupi, Elea hanya perlu waktu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Ardha. Perlu keberanian untuk mengungkapkan.
Sedang Ardha masih berdiam ditempatnya. Menatap punggung Elea yang menghilang diantara deretan baju yang terbaris rapi.
Lo adalah orang yang tepat. Yang tuhan kirim untuk merubah gue. mulai sekarang gue berjanji buat berubah untuk menjadi lebih baik. Dan gue mau lo ikut andil di dalamnya.
__ADS_1
Ardha mengambil pakaian warna navy yang diletakkan Elea.