
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Jika sakit dapat ku tahan lantas apa rindu juga mampu ku tahan, Mas?...
...~ Elea Anindhiya Dilla...
***
Napas Elea tak beraturan. Ia memegangi dada yang berdebar.
Bukan menghindar, tapi Elea masih belum siap jika bertemu dengan Ardha. Sehingga ia memilih bersembunyi dibalik pohon dekat masjid.
Dalam persembunyiannya, ia melihat punggung Ardha yang semakin menjauh dan masuk ke dalam mobil.
Jika sakit dapat ku tahan lantas apa rindu juga mampu ku tahan, Mas?
Elea rindu sosok itu. Hingga tak sadar Elea menangis terisak. Rasanya sesak saat harus memendam rindu yang entah apa bisa tersampaikan.
Ardha menghempaskan tubuh di kursi kemudi. Memikirkan mengapa Elea seperti enggan bertemu dengannya.
Apakah istrinya itu tak lagi mau bertemu dengannya karena melihat berita yang mengasumsikan bahwa ia dengan Sovia berselingkuh?
Kepala Ardha rasanya penuh dengan alasan-alasan yang ia anggap tak logis.
Ardha mengemudi mobil dengan lambat. Mungkin ia bisa mendapati Elea kembali saat hendak pulang.
Satu persatu perempuan berhijab Ardha amati namun tak ia dapati Elea walau hanya bayangan.
Dengan perasaan kecewa Ardha memacu mobil lebih cepat untuk menemui Fatih. Mereka ada janji sore ini untuk membicarakan kasus yang sudah mereka rencanakan.
__ADS_1
Mobil Ardha telah tiba dibasement apartemen Fatih. Langkah Ardha menuju lift dan tak lama sampai di depan pintu kamar Fatih.
"Gimana?" tanya Ardha saat Fatih baru saja membukakan pintu. Keadaan Fatih sudah membaik, namun bukan kabar Fatih yang sedang Ardha tanyakan.
Fatih mendengus, tamu tak ada sopan-sopannya. Gerutu Fatih yang hanya di dalam hati.
"Lancar dan laporan sudah diterima. Mungkin sebentar lagi akan ada surat laporan buat Dariush." jelas Fatih dengan bangga.
Jelas bangga karena Fatih sudah berjuang sejauh ini sehingga mempunyai bukti yang kuat untuk memenjarakan Dariush.
Pada saat Fatih menolong Elea kala itu, terlebih dahulu Fatih membuka kamera ponsel dan ia letakkan dalam kantong kemeja. Sehingga pada saat Dariush menyerang Fatih, semua terekam dengan jelas.
Ditambah dengan bukti visum yang Fatih lakukan semakin memperkuat bukti untuk mencemboskan Dariush ke penjara. Mereka juga melaporkan Dariush atas tuduhan pelecehan terhadap Elea.
"Ga usah sebut nama. Telinga gue ga bisa denger sesuatu yang menjijikan." Ardha seakan tak sudi jika mendengar nama Dariush.
Ya, rasa bencinya pada sosok Dariush seakan membumbung. Bahkan mendengar nama saja membuat Ardha emosi.
"Sangat,"
"Gimana sama Elea?" Fatih bertanya sambil mengambil toples berisi kacang. Meski begitu, telinganya ia fokuskan pada Ardha.
"Gue tadi ketemu sama Elea." Ardha menelungkupkan Satu lengan diwajah sambil memejamkan mata.
"Dimana?" tanya Fatih lagi.
"Dimasjid dekat taman kota." Ardha berucap dengan gumaman. Meski begitu Fatih dapat menangkap dengan jelas.
Setelah itu tak ada pembicaraan lagi karena dengkuran halus tertangkap indra pendengaran Fatih. Ardha telah terlelap.
__ADS_1
Sekita satu jam, Ardha baru terbangun. Ia gegas pulang karena Cila pasti sudah menunggu.
Benar saja, baru mobil memasuki pekarangan, Cila sudah berdiri sambil berkacak pinggang dibingkai pintu. Bersiap memarahi Sang Papih karena datang tidak tepat waktu seperti yang telah laki-laki itu janjikan.
"Papih kenapa lama tekali. Tila tapek nunggu Papih." sungut Cila dengan dahi yang ditekuk. Wajahnya cemberut.
"Maaf Papih ya, Sayang."
Ardha mengangkat tubuh Cila dan membawa gadis itu menuju kamar untuk memenuhi janjinya. Membacakan kisah nabi-nabi sebelum tidur seperti yang Elea lakukan.
Cila terbaring di atas kasur. Selimut tebal menutupi tubuh gadis itu hingga dada. Disampingnya Ardha masih membacakan kisah.
"Papih, Bunah kapan pulang. Tila tudah kangen tama Bunah." setiap tidur Cila pasti bertanya perihal Elea. Seakan tak bosan untuk menanyakan Sang Bunda.
"Sebentar lagi Bunda akan pulang. Bunda juga pasti kangen sama Cila." jelas Ardha. Entahlah, ia juga tak tau kapan Elea akan pulang.
Bahkan ia tak yakin jika Elea akan kembali karena saat mereka bertemu saja Elea seakan enggan untuk bersitatap.
"Apa Bunah tuga akan pelgi tama kaya Mama Mita?"
Deg, Pertanyaan Cila membuat dada Ardha nyeri. Kata pergi seakan sesuatu yang membuat Ardha trauma.
"Papih!" panggil Cila lagi karena Ardha hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
Ardha tersentak karena Cila menggoyang lengannya. Mata Cila menatap Ardha penuh harap.
"Bu-bunda sayang sama Papih dan Cila, jadi Bunda ga akan pergi."
Cila hanya diam. Ia memejamkan mata sembari memeluk tangan Ardha.
__ADS_1
"Tila tayang Bunah." gumam Cila.