
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Apa yang kamu tanam...
...Itu yang akan kamu tuai...
***
Suasana mendadak mencekam. Acara penghargaan berubah menjadi sebuah kutukan.
Sorot mata tiba-tiba tertuju pada seorang perempuan. Wajahnya memerah menahan malu. Sudah dipastikan karir yang sudah dibangun akan hancur seketika.
Disudut sana, Ardha tersenyum smirk. Tidak naik ke atas panggung untuk mengambil trofi. Tapi menikmati tontonan yang semakin memanas.
Dari jauh, Sovia dapat menangkap mulut Ardha yang sedang berkomat kamit mengatakan bahwa apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai.
Tangan Sovia mengepal karena rencana yang telah ia rencanakan berbalik menyerangnya.
Tatapan kecewa terpancar dari beberapa rekan aktris dan sorot tak percaya pun tercetak jelas. Sovia yang elegan bisa berbuat demikian.
“Apa-apaan ini!” teriakan Chatleen yang berada disamping Sovia.
__ADS_1
“Hentikan atau kalian akan dilaporkan atau tuduhan pencemaran nama baik.” Seru Chatleen lagi. Ia mengusap bahu Sovia untuk menenangkan.
Cepretan dari wartawan pun terhenti. Namun tidak pada video yang diputar berulang-ulang.
“Ga nyangka ya, wajahnya aja yang cantik tapi hatinya jelek.” Suara bisik berbisik mulai memenuhi ruangan. Membicarakan Sovia yang sedang menahan marah dan tentu saja malu.
“Mas apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa video itu bisa sampai ditayangkan disini?” Elea bertanya pada Ardha.
“Kamu tenang aja.” Setelah berucap Ardha membetulkan jasnya dan berjalan menuju panggung. Langkah yang jenjang itu mulai mengalihkan perhatian dari Sovia.
Setelah Ardha telah sampai ditengah panggung, sosok Fatih pun muncul dari belakang panggung. Ia duduk di satu meja dengan Elea.
“Om Fatih ngapaian dali belakang titu? Om lagi main petak umpet ya?” Tanya Cila.
“Iya, Om lagi main petak umpet sama tante yang disana.” Fatih menunjuk Sovia yang sedang menatap Ardha sangat dalam. Terlihat dari wajahnya bahwa ia menahan malu.
“Om hebat ga?” Tanya Fatih lagi.
Cila memandang Sovia kemudian memandang Fatih lagi “Hebat, tantenya ga liat tama Om Fatih.”
“Kamu yang ngelakuin ini?” Elea memberanikan diri untuk bertanya pada Fatih. Rasa penasarannya memuncak.
__ADS_1
“Iya,”
“Om Fatih ngelakuin apa, Bunah.” Cila menyela. Pasalnya ia tak melihat video yang ditayangkan karena buru-buru Elea memeluk gadis itu agar tak melihat tayangan dari CCTV yang menunjukkan bahwa Sovia mendorong Elea dengan sengaja.
“Kenapa Om Fatih main petak umpet. Iya Bunda bertanya itu, Sayang.” Kilah Elea. namun sorot matanya menatap Fatih dengan tajam. Meminta jawaban pada Fatih.
“Buat kamu.” hanya gerakan mulut saja namun Elea dapat mengerti dengan jelas.
Elea menggeleng dengan cepat. Tak suka dengan cara Fatih.
Elea ingin menyela lagi namun Fatih menyerahkan ponselnya pada Elea. tertara sebuah catatan yang telah Fatih ketik.
Sovia ingin membuat kamu malu dengan menayangkan sebuah foto kamu yang tidak memakai jilbab. Dia juga membuat sebuah video rekayasa seolah kamu menjadi pelakor dalam hubungan Ardha dan Sovia.
Elea terbelalak saat membaca teks tersebut dari ponsel Fatih. Ia menutup mulut dan berbalik memandang Sovia yang saat itu sudah berdiri untuk meninggalkan tempat acara.
Sovia digiring seorang laki-laki bertubuh tegap yang memakai pakaian serba hitam.
“Terimakasih karena telah memilih saya sebagai nominasi aktris pria terpopuler tahun ini. saya sadar bahwa keberhasilan saya ini juga berkat orang tua dan fans setia saya. Namun saya juga sadar bahwa dibalik keberhasilan saya ini juga berkat doa istri saya. Dia perempuan yang menerima disegala kekurangan saya. Melengkapi bagian kosong dalam diri saya. Dan siapa pun yang berani menyakiti istri saya maka ia akan menerima akibatnya.”
Sambutan dari Ardha sejenak membuat langkah Sovia terhenti. Namun ia kembali melangkah.
__ADS_1
Tak ada yang berani berbisik lagi saat laki-laki disamping Sovia itu datang.