Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Elea- Dariush


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U....


...Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman...


...(QS. Ar-Ruum: 47)...


***


"Da-Dariush," lirih Elea pelan namun mampu di dengar Dariush.


Dariush adalah laki-laki dimasa lalu Elea. Salah satu pelanggan yang jatuh cinta pada Elea. Dariush memang tampan, namun ia psikopat.


Cara berhubungannya bukan seperti orang normal. Ia suka menyiksa Elea. Bahkan setiap berhubungan pun ia selalu mengabadikan hal tersebut.


Dariush menyeringai menatap Elea dengan mendamba. Perlahan maju untuk mengikis jarak mereka.


Elea lari menuju tangga secepat mungkin, sedang Dariush hanya menatap dengan santai. Seolah Elea tak akan bisa menjauh begitu saja.


Elea mencari ponsel dan menghubungi Ardha lewat akun merah. Dan berkali-kali menuliskan pesan agar Ardha segera pulang meski Elea tahu itu tak mungkin.


Elea menatap gagang pintu yang diputar. Pasti Dariush sedang mencoba membuka pintu.

__ADS_1


Meski pintu sudah Elea kunci tapi Elea yakin Dariush pasti bisa mendobraknya. Untuk itu Elea mendorong meja rias dan meletakkan meja tersebut dibelakang pintu.


"Dilla, manis buka pintunya. Aku kangen sama tubuh kamu." Dariush bersuara dengan nada manja membuat Elea bergidik.


Tak terkira lagi sudah berapa tetes air mata yang Elea tumpahkan karena takut.


Elea menutup mulut dengan kedua telapak tangan sambil bersandar pada bibir ranjang.


"Buka pintunya, manis atau mau aku dobrak lagi pintunya" lagi-lagi Dariush seolah mempermainkan ketakutan Elea. Suara yang sengaja dibuat begitu merdu dengan suaranya yang bass.


Tangan Elea semakin gemetar. Ah Elea lupa, ia tak boleh takut. Ia punya penolong. Ia yakin Allah pasti menolong hambanya.


Dan brak, meja rias bergeser karena dorongan yang sangat kuat. Dan perlahan timbullah sosok Dariush yang menatap dengan nyalang.


"Ternyata kamu sudah tidak sabar, manis. Kamu memintaku untuk menemuimu di dalam kamar." Dariush mendekati Elea.


"Jangan bicara omong kosong. Sekarang saya minta kamu pergi dari sini!" titah Elea dengan suara lantang. Ia tak boleh terlihat takut di depan Dariush. Sebisa mungkin Elea menyembunyikan ketakutannya.


"Tidak akan semudah itu, DILLA." Dariush menekan kata Dilla. Nama panggilan kesukaan Dariush.


"Pergi atau saya akan teriak."

__ADS_1


"Teriak, manis. Karena aku suka teriakan kamu. Sangat menggoda dan semakin membuatku bergairah."


Dariush membuka dua kancing kemejanya sambil menatap Elea dengan wajah jenaka.


"Mau apa kamu?"


"Aku mau kamu, manis. Tubuh kamu, teriakan kamu, semuanya aku rindu. Apa kamu tidak rindu dengan aku?"


"Jangan macam-macam atau saya akan laporkan kamu sama suami saya." ancam Elea lagi.


"Ssttttt, jangan sebut suami, manis. Aku cemburu jika membayangkan laki-laki itu menyentuh Dilla ku."


"Berhenti!" Elea kembali berteriak karena Dariush terus saja mendekat. Dan sekarang kancing kemejanya telah terlepas sepenuhnya.


"Aku belum mulai, manis. Gimana mau berhenti. Kamu ini lucu sekali. Aku makin suka."


Dariush menyeringai sambil melepas ikat pinggang. Alat yang dulu ia gunakan untuk mencambuk. Membayangkan adegan yang biasa ia lakukan dulu bersama Elea.


Bahkan hanya dengan mengingatnya saja membuat Dariush panas dingin. Elea mempunyai daya tarik yang tak punya dimiliki oleh perempuan lain.


"Lets play, baby."

__ADS_1


__ADS_2