Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Kedatangan Oma Opa


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Ya Allah, berkahilah kami pada apa yang telah Engkau karuniakan dan lindungilah kami dari siksa neraka...


***


Sebuah mobil mewah keluaran terbaru telah terparkir rapi dibagasi rumah. Elea dan Cila baru saja pulang dari sekolah Cila.


Di depan pintu, Bi Mia telah berdiri seakan kedatangan mereka telah ditunggu.


Bi Mia mengangguk saat Elea datang bergandengan tangan dan mulai menapaki teras rumah.


“Tuan dan Nyonya besar telah menunggu kedatangan Nyonya Elea dan Non Cila.” Jelas Bi Mia. Tangannya beralih mengambil tas Cila yang menggantung ditangan Elea dengan sigap.


“Mama dan Papa ada disini? Dimana mereka Bi?” kaki Elea melangkah tak sabar. Mencari sosok mertua yang sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri.


“Di ruang tamu, Non.” Jelas Bi Mia kembali.


“Oma! Opa!” panggil Cila tak yang juga sabar untuk bertemu.


Di sebuah ruang tamu, Nira dan Dave sudah duduk anteng menonton televise pun menengok ke arah sumber suara.


Lengkingan teriakan Cila menggema seiring dengan senyuman lengkung diwajah manisnya.


“Cucu Oma gimana keadaannya?” Mama Nira mengangkat tubuh Cila dan membawa tubuh kecil itu ke dalam gendongannya.


“Tila tehat, Oma. Tutu Oma ini kuat nda lemah.” Cila menjawab pertanyaan dengan percaya diri.


“Hanya cucu Oma? Sekarang Opa merasa sedih karena tak diakui. Apa lebih baik Opa pulang saja?”


Dave memasang wajah yang cemberut di depan Cila. Elea yang berdiri beberapa meter sempat tertegun, perwatakan Dave yang tegas menjadi lucu.Memang benar,orang tua akan berubah jika menyangkut cucu.


“Tutu Opa tuga, Tila tayang Oma dan opa!”


Nira dan Dave mencium pipi Cila bersamaan. Pemadangan hangat kembali Elea lihat dari keluarga barunya.


“Siang, Ma, Pa.” Elea menghampiri dan mencium punggung tangan mertuanya.


“Bagaimana keadaan kamu, Nak?”


“Baik-baik aja Ma. Mama dan Papa bagaimana keadaannya?”


“Papa baik-baik aja tapi Mama tidak!” jelas Mama Nira sambil memandang ke arah sang Suami dengan sinis.


“Papa kamu ini terlalu sering bekerja dan meluangkan waktu hanya sedikit untuk Mama. Mama merasa kesepian.” Keluh Mama Nira.


“Mama kamu ini selalu mengomel ingin liburan.” Timpal Papa Dave seraya terkekeh dan membawa Cila menjauh agar tak mendapat serangan kembali.


Membuka boneka yang masih terbungkus plastik, sengaja ia belikan untuk cucu kesayangan. Sambil sesekali menengok Mama Nira yang menatap dengan tajam.

__ADS_1


“Lihat, Mama tak ada teman. Papa Kamu itu terlalu menyebalkan!”


Ternyata sifat menyebalkan Ardha turun temurun dari Papa Dave.


Mama Nira mengajak Elea untuk memasak makan siang, sekedar menghilangkan kekesalannya. Mereka memasak sambil dibantu Bi Mia.


Waktu terus bergulir, hingga malam tiba. Elea bersiap untuk menyambut Ardha pulang seperti biasa.


Suara pagar yang digeser membuat Elea beranjak dan menuju ambang pintu. Senyum merekah menyambut suami yang baru saja datang mencari nafkah.


“Assalamualaikum,” salam yang Ardha lontarkan mampu menarik perhatian Mama Nira dan Papa Dave.


“Waalaikumsalam,” Elea mengambil punggung tangan Ardha.


Sebuah lengkungan terbit di wajah kedua orang tua yang melihat bagaimana harmonisnya kehidupan rumah tangga anaknya yang baru.


Tak salah, Mama Nira menilai Elea. Perempuan yang mampu mengubah perilaku Ardha.


Mereka telah duduk dimeja makan, kali ini Cila belum tidur karena merasa senang mempunyai keluarga yang lengkap membuat matanya tak mengantuk.


Yang ditunggu telah datang, Ardha telah rapi dengan setelan rumahan. Duduk mendaratkan tubuhnya tepat disamping Elea.


Tangan Elea dengan sigap mengambilkan nasi dan lauk satu persatu ke piring. Dan lagi, Mama Nira kagum akan sikap Elea. ia merasa beruntung menitipkan anak dan cucu pada perempuan di depannya.


“Tila mau pimpin doa,” seru Cila disela Elea meletakkan piring.


Elea mendaratkan tubuh, posisi Elea berhadapan dengan Mama Nira dan Ardha berhadapan dengan Papa Dave, sedang Cila berada dipangkuan Mama Nira.


Cila mengangguk “Diatalin tama Bunah!” mengangkat tangan dan segera berujar.


“Allahumma balik lana fi ma lazaqtana wa qina adtaban nal,”


Allahumma barik lana fi ma razaqtana wa qina adzaban nar.


(Ya Allah, berkahilah kami pada apa yang telah Engkau karuniakan dan lindungilah kami dari siksa neraka)


Hidangan dimakan dengan khidmat, tak ada percakapan hanya suara sendok dengan piring yang menggema.


“Ada yang mau Papa bicarakan sama kalian.” Papa Dave memulai pembicaraan setelah hidangan telah habis.


Elea dan Ardha yang ditatap bergantian pun mengamati dan mulai memfokuskan pada pembicaraan yang entah tentang apa?


“Ada apa, Pah? Apa ada sesuatu yang penting? Lebih baik kita bicarakan diruang tamu.”


Papa Dave menggeleng, “Tak perlu, cukup disini saja. Papah hanya mau kalian datang disaat acara anniversary perusahaan yang ke 17 tahun. Akan ada banyak relasi Papah yang datang dan Papah ingin memperkenalkan menantu Papah karena beberapa dari mereka tak datang saat pesta pernikahan kalian waktu itu.” Jelas Papa Dave panjang kali lebar.


“Ga bisa, Aku sibuk, Pah. Aku baru aja terima projek baru masa sudah minta ijin.”


Keluh Ardha, sebenarnya ia yang enggan pergi karena tau maksud dari rencana Papahnya dan Ardha sudah bisa membacanya.

__ADS_1


Mama Nira yang mengerti situasi pun akhirnya membawa Cila untuk menjauh dengan alasan sudah larut dan Cila harus segera tidur.


Meski merengek tak mau, Cila akhirnya luluh dan menuruti.


“Kamu itu selalu sibuk, sempatkan waktu buat keluarga jangan hanya mencari kesenangan kamu saja!”


Papa Dave tak menyukai jika Ardha terjun ke dunia entertainment. Ia lebih menyukai jika Ardha meneruskan perusahaan keluarga.


“Aku kerja cari uang buat keluargaku, Pah. Bukan sekedar untuk mencari kesenangan!”


Elea sempat menciut, Papa Dave dan Ardha sama-sama menahan amarah. Andai jika ada Mama Nira, ia tak akan setakut ini.


“Dengan kerja lembur tiap hari? Lebih baik kamu kerja diperusahaan Papah, perusahaan yang nantinya juga akan jadi milik kamu! kamu lihat istri dan anak kamu! yang mereka butuhkan itu waktu kamu, bukan hanya materi.”


“Pah, aku juga udah berusaha buat bagi waktu—“


“Kamu ga ingat apa yang terjadi sama Mita? Dia meninggal karena keegoisan kamu, Ardha!”


“Papah!” Mama Nira yang berada di anak tangga pun menghentikan ucapan Papa Dave yang menurutnya sudah keterlaluan.


“Elea memang tak mempermasalahkan waktu kamu, tapi Cila. Anak kamu perlu kasih sayang!”


Mama Nira mengusap punggung Papa Dave yang naik turun mengatur emosi. Diatas sana, Cila sedang tertidur bersama Bi Mia.


“Papah ga bisa—“


Perkataan Ardha terhenti saat tangannya merasakan sentuhan. Manik mata Ardha mengengok.


Tangan putih dan halus mengusap punggung tangannya perlahan.


Wajah teduh Elea tertangkap Ardha. Perempuan itu tersenyum hangat sambil menggelengkan kepala perlahan.


Meski sempat takut, Elea berusaha bersikap tenang.


Seperti dihipnotis, mulut Ardha yang awalnya ingin memberontak menjadi kelu. Ada apa dengan dirinya? Ardha tak mengerti.


Dan secara tak sadar tangan Ardha yang satunya menangkup tangan Elea. wajahnya mendongak menatap wajah Papa Dave dan mengatakan sesuatu di luar nalar.


“Baik, Pah. Kami akan datang ke pesta itu.”


***


Ternyata ada kesalahan teknis, kemarin aku salah salin bab dan baru nyadar setelah aku baca ulang. Aku malah kesalin bab yang baru aja ditulis. Karena biasanya aku nabung beberapa bab, alhasil lupa bab mana aja yang sudah di upload.


Ditambah laptopnya lagi eror, masa aku mau nyimpan hasil ketikan difolder biasanya ga bisa. Alhasil ketikanku tersebar dibeberapa folder dan terjadilah kesalahan.


Maafkan author yang teledor ini gaes. Bab sebelumnya sudah aku perbaiki, mungkin masih direview. Dan terimakasih juga buat kalian yang beri dukungan sama cerita ini.


Jujur cerita ini berat banget buat aku karena bertema rumah tangga dengan alur cerita yang serius. Otakku yang kebiasaan gesrek harus ditahan buat ga nulis yang melenceng. Tapi aku mau nyoba keluar dari zona nyaman. Sok-sokan emang awokwok.

__ADS_1


Ga sadar ternyata aku cuap cuap lumayan panjang wkwkwk.


...Happy Reading gaes...


__ADS_2