Ibu Sambung Untuk Anakku

Ibu Sambung Untuk Anakku
Tetangga Baru


__ADS_3

...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...


...Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergauliah manusia dengan akhlak yang baik....


...(HR At Tirmidzi)...


***


Seorang anak laki-laki dan wanita yang masih muda telah berada di dalam rumah Elea. Mereka duduk di sofa yang berseberangan dengan Elea sembari membawa beberapa buah tangan.


"Perkenalkan saya Anggun dan ini anak saya namanya Dareen. Kami tetangga baru yang baru saja pindah." jelas perempuan yang bernama Anggun itu sembari memperkenalkan diri. Tak lupa juga menyerahkan buah tangan yang sedari tadi ia pangku.


Anak laki-laki di depan Elea ini kira-kira lebih tua dari Cila karena dilihat dari tubuhnya yng besar.


Dareen pun mengangguk dan menyalami tangan Elea.


"Mba Elea tinggal sendiri?" Anggun bertanya karena sedari tadi manik matanya tak menangkap seorang pun selain Elea.


Elea menggeleng "Saya tinggal sama suami dan anak saya. Suami saya lagi kerja dan anak saya ada di kamar. Sebentar saya panggil dulu."


Belum Elea beranjak Cila sudah turun dari tangga sambil menenteng sebuah boneka bantal bentuk bunga sakura.


"Sayang sini, ada tamu." Elea melambai pada Cila yang berjalan ke arahnya dengan wajah yang ditekuk. Matanya nyalang menatap anak laki-laki bernama Dareen.


"Kenapa wajahnya cemberut. Ngambek ditinggal Bunda ya? Maaf ya Sayang, Bunda sampai lupa sama Cila." sesal Elea.


"Kenalin tetangga baru kita. Ini tante Anggun dan ini Dareen." Elea mengenalkan tamunya pada Cila.


"Wah namanya siapa? Cantik banget sih." puji Anggun menatap gemas pada Cila.

__ADS_1


"Tila," jawab Cila


"Namanya Tila?" Anggun memastikan.


Elea terkekeh karena melihat Cila menggeleng.


Anggun menatap bingung. Alisnya hampir menyatu. "Trus namanya siapa?" tanya Anggun lagi.


"Namanya Cila." bukan Cila ataupun Elea yang menjawab. Melainkan Dareen.


Perkataan Dareen sontak membuat Anggun dan Elea menatapnya. Sorot mata penuh pertanyaan pun terlontar.


"Kamu kenal sama Cila, Dar?" Anggun bertanya pada Dareen.


Dareen mengangguk dan mengatakan bahwa Cila adalah salah satu teman di sekolah barunya. Mereka satu kelas TK A.


Mungkin karena tubuh Dareen yang besar sehingga mungkin banyak yang menyangka bahwa umur Dareen lebih tua.


Dareen memang baru beberapa hari pindah ke sekolah yang sama dengan Cila. Sebelum pindah ke rumah yang baru, Anggun memang terlebih dahulu mencarikan sekolah untuk Dareen.


Anggun dan Dareen pun pulang setelah berbincang lumayan lama. Cila sudah beberapa kali menguap. Gadis itu tak terbiasa tidur terlalu larut.


Cila memandang tak suka pada tubuh laki-laki kecil yang perlahan semakin menjauh.


"Sayang kenapa wajahnya ditekuk gitu? Tadi juga pas Dareen ngucap salam ga dijawab."


Elea bertanya sembari menggendong tubuh Cila setelah memastikan pintu telah ditutup dengan rapat.


"Tila nda tuka Daleen, Bunah. Daleen tahat tama Tila."

__ADS_1


"Jahat bagaimana? Tadi Bunda lihat Dareen baik."


Cila menggeleng dengan keras. Sangat tak suka jika Dareen dianggap baik. Yang baik cuma reyhan kata intan. Ups.


"Pokona Daleen tahat. Tila nda suka, Tila benci Daleen!" balas Cila sambil merajuk. Bibirnya mengerucut dengan alis yang hampir menyatu.


"Sayang, Bunda ga pernah ajarin Cila buat membenci seseorang. Karena itu perbuatan yang tercela." tegur Elea.


"Tapi Daleen tahat tama Tila, Bunah." adu Cila lagi.


"Cila, kita ga boleh balas menjahati orang yang telah menjahati kita. Tapi balas dengan kebaikan. Karena perlahan kebaikan itu yang akan menghapus kejahatan."


Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergauliah manusia dengan akhlak yang baik. (HR At Tirmidzi)


Cila menunduk dan mengangguk tanda mengerti. Mereka telah tiba di kamar. Masuk dan berbaring di atas kasur.


Sebelum tidur, Elea mengecek ponsel yang tadi ia letakkan di atas nakas. Pesan yang ia kirimkan pada akun Ardha pun tak kurung dibalas. Bahkan dibaca pun tidak.


Elea menghela napas, mungkin Ardha sangat sibuk hingga tak sempat membuka ponsel.


Namun saat Elea akan meletakkan benda pipih itu, tiba-tiba ada sebuah notif yang masuk dari aplikasi hijau.


Elea membukanya, lagi-lagi sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Bahkan nomor tersebut sudah berulang kali menelpon Elea.


Namun tak satu pun pesan tersebut Elea baca. Panggilan pun tak pernah Elea angkat.


Elea memblokir nomor tersebut karena ia anggap nomor tersebut mengganggu.


Lalu setelahnya Elea mengambil selimut dan membungkus tubuhnya hingga perut. Dan mulai terlelap ke dalam alam bawah sadar.

__ADS_1


__ADS_2