
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Jangan sesali sebuah pertemuan dan jangan benci sebuah perpisahan. Karena kalanya pertemuan ataupun perpisahan bisa menjadi sebab untuk awal dari sebuah penantian....
...Quotes tak ada hubungan dengan alur cerita awokwok. Aku sedang galau dan terlintas secara tiba-tiba kata itu. Rasanya cocok banget dengan suasana hati....
***
Sebuah ruangan dengan kapasitas luas dengan diterangi lampu yang remang.
Elea duduk ditepi ranjang dengan dada yang berdegup kencang. Sedang menunggu Ardha yang membersihkan diri. Berulang kali Elea meremat tangan, mengatur napas dan berusaha agar tak terlihat terlalu gugup.
Perkataan Ardha sebelum mereka sampai penginapan mampu membuat Elea memanas, gugup dan tentu saja gelisah.
Malam ini, laki-laki itu ingin meminta haknya sebagai suami. Elea tak mampu menolak karena sudah fitrahnya sebagai suami istri untuk melakukan hubungan tersebut.
Elea terus menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Suara desiran air pun masih tertangkap di indera pendengaran.
Deg,
Rasanya jantung Elea berhenti beberapa detik saat tak ada lagi suara air dari shower dan tak lama terdengar lagi suara gagang yang diputar semakin membuat adrenalin Elea berpacu.
Debaran jantungnya terdengar lebih cepat hingga gendang telinga.
“Ma-maaassss!” panggil Elea dan dengan cepat wajahnya menunduk. Karena saat keluar kamar mandi, Ardha hanya memakai handuk yang dililit hingga menampakkan ototnya yang selama ini hanya Elea pegang dengan penghalang baju.
Namun kali ini Elea dapat melihat bahwa perut suaminya itu memiliki bentuk yang atletis.
Terkekeh sesaaat, lalu Ardha mendekati Elea yang masih duduk ditepi ranjang dan duduk disampingnya.
Sama dengan Elea, Ardha pun sama gugupnya karena setelah beberapa tahun setelah kematian Mita ia tak pernah lagi menyentuh perempuan.
Semua waktunya ia habiskan dengan mencari kesibukan agar tak terlalu mengingat Mita.
“Kenapa? Apa Mas terlihat lebih gagah jika memakai handuk?” pertanyaan aneh yang terlontar dari mulut Ardha.
Laki-laki itu mengangkat dagu Elea dengan jari tangannya. Memposisikan mata mereka agar bersitatap, sehingga sekarang posisi Elea sedang mendongak.
__ADS_1
“Ka-kamu ngomong apa sih, mas?”
“Jangan malu!”jemari Ardha berganti dengan membelai pipi Elea. turun perlahan hingga berakhir pada tengkuk.
“Kenapa?”Elea bertanya dengan gugup.
Tatapan Ardha berbeda dari biasanya.
“Nanti tambah gemas,”
Perkataan Ardha sontak membuat Elea mengalihkan pandangan. Rasanya tak karuan.
Perutnya seakan dikelilingi kupu-kupu yang saling beterbangan. Desiran tubuh Elea pun meningkat.
“Tatap Mas, Sayang.” Pinta Ardha.
Elea semakin gelagapan, dan dengan gerakan lambat mata Elea menatap wajah Ardha.
Senyum yang tersirat kembali membuat Elea merasa sesak napas. Ardha seperti ini terlihat semakin tampan dan tentu saja menggoda.
Ardha melepas jilbab yang melekat di kepala Elea. membawa kain itu untuk lepas dan membiarkan matanya melihat keindahan yang sudah lama ia inginkan.
Ardha tersenyum takjub karena Elea semakin cantik bagai seorang bidadari. Ya, Elea adalah bidadari Ardha.
Saat Ardha sedang sibuk memandang Elea dengan tatapan kagum, beda dengan Elea yang sedang malu karena Ardha telah melihat mahkotanya.
“Mahkotamu indah,” ucap Ardha diiringi dengan perlakuan laki-laki itu yang sontak membuat Elea kelimpungan.
Ardha mencium kening, hidung sesaat dan berakhir pada bibir Elea dan berlama-lama disana. Seakan sedang mereguk manisnya bibir sang istri.
Mata Elea memejam dan tangannya reflex terangkat untuk bertengger dibahu Ardha.
“Mass!” Elea bergumam saat Ardha melenjutkan aksinya.
Cukup lama dan akhirnya Ardha melepaskan ciuman tersebut. Kembali menatap Elea dengan tatapan sayu.
“Lakukanlah, Mas. Aku ikhlas.”
__ADS_1
Ardha tentu saja merasa senang dan langsung melanjutkan aksinya. Tangannya perlahan membuka kancing piyama Elea.
Kancing pertama
Kedua
Dan saat ingin membuka kancing ketiga, terdengar suara ponsel Ardha.
Awalnya Ardha tak peduli dan meneruskan kegiatannya hingga seluruh kancing piyama telah terbuka. Namun suara ponsel lagi-lagi mengganggu.
“Angkat dulu, Mas.” Elea mendorong dada bidang Ardha.
Ardha berdecih dan ingin marah dengan ponselnya. Sangat mengganggu disaat ia ingin mereguk surga dunia. Beranjak mengambil ponsel dan Elea pun juga ikut bangun.
“Mama.” Gumam Ardha, yang ternyata orang yang menelponnya adalah mamanya sendiri.
“Angkat Mas.”
Ardha menggeser tombol hijau dan meletakkan benda pipih itu ditelinga.
“Halo, Mah.”
“Benarkah?”
Elea ikut penasaran karena raut Ardha berubah menjadi antusias.
“Ada apa, Mas?” Elea bertanya setelah Ardha mematikan ponsel.
“Sudah ada pendonor untuk Cila. Besok kita akan kembali ke Indonesia. Kamu tidak apa-apakan?”
“Yang benar, Mas. Aku ga apa. kita pulang sekarang aja, Mas.” Sahut Elea tak kalah antusiasnya dari Ardha. Akhirnya ada pendonor untuk Cila.
“Besok,” hanya satu kata karena Ardha kembali menerkam Elea. “Malam ini aku mau sama kamu, sayang. Karena jika nanti kita kembali ke Indonesia, kamu pasti akan sibuk menemani Cila.”
Elea membenarkan ucapan Ardha dan tentu saja menikmati setiap sentuhan yang Ardha berikan pada setiap titik lemahnya.
Malam itu, kedua pasutri saling melenguh. Memberikan kenikmatan dengan landasan cinta.
__ADS_1
...Adegan ini tak perlu author jelaskan lebih detail karena author masih polos dan tak ada pengalaman. Yang minta adegan nganunya lebih jelas ntar author tabok awokwok....
...Happy reading gaes. Maafkan author yang jarang up ini....