
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Debaran ini, mata ini, juga dengan hati ini sudah terisi sepenuhnya oleh kamu, Elea. Perempuan yang ditakdirkan untuk mengarungi biduk rumah tangga dengan awal yang tak teduga. Aku harap scenario Tuhan ini akan berkahir hingga maut memisahkan...
...~Ardhana Kavin...
***
Sinar mentari telah naik seperempat.
Awan menari kesana kemari mengikuti arah hembusan angin.
Saling melemparkan rasa yang sama dengan kedua insan yang kini telah berada di dalam kendaraan beroda empat.
Ban terus bergesekan dengan jalanan. Mobil menuju tempat yang telah Ardha persiapkan untuk diperlihatkan pada sang istri.
Sesekali Ardha menengok wajah Elea yang semakin hari semakin bersinar. Wajah perempuan itu membuat Ardha candu.
Semakin dipandang semakin membuat Ardha menggila. Benarkan Ardha telah jatu pada pesona Elea?
Tak lama, mobil telah sampai ditempat tujuan.
Ardha tersenyum puas. Pemandangan yang ada di depan mata ternyata lebih bagus dari yang ia lihat disosial media.
“Ayo turun! Kita sudah sampai.”
Ajak Ardha sambil mengusap punggung tangan Elea. lalu laki-laki itu perlahan turun dan memutari mobil untuk menuntun Elea turun dari kendaraan beroda empat tersebut.
Elea masih diam ditempatnya. Tubuhnya kaku, rasa enggan untuk turun menyelimuti.
Takut, cemas dan segala bentuk kepanikan mulai mencuat.
Elea kembali memandangi pantai yang telah terpampang di depan mata.
“Sayang!” panggil Ardha lagi. Tangannya terulur untuk memegang bahu Elea dan sontak membuat Elea tersadar.
“Ayo turun, kita sudah sampai.” Ardha kembali mengulang.
“Ki-kita sudah sampai?” Elea bertanya dengan terbata.
__ADS_1
Ardha mengangguk sebagai jawaban.
Elea turun dengan dituntun Ardha. Tangan mereka saling perpegangan.
Angin menyambut dengan hembusan. Membuat rok yang Elea pakai berkibar indah.
Mereka berjalan seperti seorang model yang sedang bergaya di atas panggung.
Ardha kembali tersenyum puas. Maniknya melirik ke arah Elea yang sedang termangu.
Ardha pikir Elea sedang takjub, namun Ardha salah. Elea dengan menahan takut.
Trauma di masa lalu kembali terngiang dan berputar bagai memori rusak yang terus berganti. Cuplikan saat ia jatuh dari air kembali memenuhi.
Mereka duduk di sebuah gazebo dekat tepi pantai. Menikmati indahnya ombak yang menubruk karang.
Setelah saling diam, Ardha pun akhirnya memulai pembicaraan.
“Kamu tau, aku pernah berpikir bahwa tak ada satu orang pun yang mampu membuatku jatuh cinta seperti aku mencintai Mita."
"Setelah kepergian Mita, hidupku rasanya kosong. Aku hanya mampu mengisi dengan kesibukan dengan dunia kerja agar aku tak lagi ingat dengan Mita. Hingga aku lupa bahwa Cila juga butuh kasih sayang, bukan hanya sekedar materi.”
Mata Elea mengerjap beberapa kali dan fokus mendengarkan setiap untaian yang Ardha ucapkan.
“Sampai suatu hari kehadiran seseorang membuatku tersadar. Dia membuka kembali rasa yang sudah ku kubur dalam-dalam. Perasaan berdebar dan rasa tak suka jika dia dikagumi banyak orang. Egoku dominan untuk memilikinya seutuhnya.”
Ardha mengubah posisi duduk untuk menghadap Elea. tangannya terulur untuk menggenggam kedua tangan Elea dan meletakkan tangan perempuan itu di depan dada.
“Kamu mau tau siapa orangnya?”
Pertanyaan dari Ardha hanya mendapat gelengan dari Elea.
“Coba kamu lihat ke dalam mataku. Siapa perempuan cantik yang ada didalamnya?”
Elea hanya diam terpaku.
“Debaran ini, mata ini, juga dengan hati ini sudah terisi sepenuhnya oleh kamu, Elea. Perempuan yang ditakdirkan untuk mengarungi biduk rumah tangga dengan awal yang tak teduga. Aku harap scenario Tuhan ini akan berkahir hingga maut memisahkan.”
Sudut bibir Ardha terangkat. Tangannya melepaskan pegangan pada tangan Elea dan beranjak menuju pantai.
__ADS_1
Elea melihat punggung Ardha yang telah beberapa melangkah. Terlihat laki-laki itu mengambil kunci dari saku celana.
Dahi Elea menyerngit saat Ardha menggambar sesuatu.
Sebuah bentuk setengah hati yang Ardha gambar. Laki-laki itu kembali memandang Elea.
“Kemari dan sempurnakan rasa ini, Elea, agar aku tak sendirian.”
Ardha menunggu Elea sembari berdiri ditengah bentuk love.
Elea terdiam, netra mereka saling menatap. Tangan Elea menggenggam rok di atas paha.
Berkali-kali perempuan cantik itu menghembuskan napas. Dan dengan tekad yang berani Elea menyunggingkan senyum dan berlari ke arah Ardha.
Langkahnya berlari dengan pasti dan berhambur memeluk Ardha.
Elea terisak dipelukan suaminya. Rasa takut akan air pun tak lagi Elea rasakan. Semua hilang berganti dengan kenangan yang indah.
“Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintai kamu, suamiku.”
Ardha tersenyum lega karena rasanya terbalas. Kecupan beberapa kali Ardha berikan dipuncuk kepala Elea.
“Aku yang mencintaimu, istriku.” Balas Ardha sambil mengangkat tubuh Elea dan memutar tubuh perempuan tersebut.
Kedua insan yang diliputi rasa bahagia itu terus melemparkan senyuman satu sama lain.
Tak lagi menghiraukan sekitar yang mulai ramai dengan keberadaan pengunjung.
***
Maaf baru up gaes, soalnya baru keluar dari dunia pertapaan wkwkwk. Canda ya.
Othor yang imut jelita ini sibuk dengan dunia nyata. Mengais rupiah demi menyambung hidup. Drama emang wkwk.
Doain aku ya biar lancar urusannya biar bisa rajin upnya kaya pas nulis cerita-cerita sebelumnya.
Dan terimakasih buat kalian yang sudah ngikutin cerita aku dan semoga tetap setia sama cerita ini
see you
__ADS_1