
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Jika ditanya tentang cinta, apa sebenarnya cinta itu?...
...Yang jelas cinta adalah perasaan nyaman saat kita bersama pasangan...
...Merasa terluka jika dia terluka...
...Bahagia melihatnya tersenyum...
...Terlihat simple namun penuh makna...
...Cinta! Bagaimana kita mendapatkannya?...
***
Pesta perusahaan diadakan disebuah villa dengan nuansa outdor.
Para undangan bisa merasakan hawa sejuk pegunungan sekaligus untuk menentramkan pikiran.
Gemerlap dan cahaya bergantian. Banyak sekali orang yang datang dan sedikit membuat Elea pusing padahal mereka baru saja memasuki tempat pseta diadakan.
Sebelum melangkah, Ardha mengambil napas dan menggait tangan Elea untuk melingkar dilengannya. Sekarang mereka seperti pasangan yang diidam-idamkan.
Banyak mata yang menatap kagum dan ada juga yang menatap iri dengan pasangan yang sedang melangkah dengan anggun.
“Mas, apa mereka sedang menatap ke arah kita?” tanya Elea dengan berbisik karena merasa canggung ditatap oleh banyak orang.
“Hm.” Balas Ardha dengan berdehem.
“Kenapa?” Tanya Elea lagi.
“Kenapa? Jelas karena suami lo yang ganteng ini. yang selalu menarik perhatian.”
Ardha menjawab dengan mengangkat sudut bibirnya. Menambah kadar ketampanan yang ia miliki.
“Kamu selalu terlihat percaya diri, Mas!”
“Memang seharusnya begitu. Mau gue dimana dan ngapain aja, gue selalu jadi bintangnya.”
Ardha terus berjalan dan sekarang tangan yang satunya beralih membetulkan dasi yang masih rapi.
Di depan sana sudah nampak papa Dave yang juga sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan bangga. Siap menyambut anak dan menantunya.
“Selamat malam, pah.” Ardha membungkuk setelah jarak mereka tak jauh dari satu meter.
Jika Ardha memberi salam dengan membungkukkan badan, beda dengan Elea yang mengulurkan tangan.
__ADS_1
Mengambil tangan mertuanya dan membawa tangan itu untuk ia cium. “Assalamualaikum, pah.”
Papa Dave tersenyum “Waalaikumsalam.”
Lalu beralih menatap Ardha dan kembali berkata “Menantuku.”
“Ibu dari anakku.” Balas Ardha meralat perkataan papa Dave.
Papa Dave tak menghiraukan perkataan Ardha dan lebih memilih untuk bercengkrama dengan menantunya. “Apa suamimu pernah memuji cantik?”
Elea menatap Ardha yang juga menatapnya. Sebelum Elea berujar, Ardha menyela.
“Bajunya cantik!” Ardha mengusap tengkuk sembari menatap ke arah tamu undangan yang semakin banyak.
“Sudah saya duga.” Papa Dave menimpali seraya memandang Ardha yang terlihat kentara sekali sedang menahan malu.
“Nak!” panggil papa Dave pada Elea. “Cila sudah menunggu kamu dari tadi. Selalu saja bertanya kapan Bundaku akan datang?” dengan menirukan rengekan Cila.
Elea terkekeh dan bertanya “Dimana Cila sekarang, pah? Elea sudah kangen sama rengekan Cila.”
Papa Dave menunjuk pada segerombol ibu ibu sosialita yang sedang berkumpul.
Disana nampak Cila yang terlihat bosan karena tercetak dengan jelas wajahnya yang merengut.
“Elea permisi dulu pah, Mas.” Pamit Elea pada Ardha dan pada papa Dave bersamaan.
“Kalo suka jangan gengsi, tunjukin dong. Jago acting tapi ga jago nunjukin. Bakat kamu itu digunain.”
Jelas papa Dave. Ia tau jika Ardha menikahi Elea karena alasan Cila. Jangan heran, karena papa Dave punya koneksi dan gampang untuk mencari sesuatu yang ia inginkan.
Saat Ardha berkata ingin menikah, tentu saja papa Dave marasa aneh. Karena selama ini ia dan Mama Nira selalu mengenalkan Ardha ke beberapa anak kenalan mereka. Dan jawaban Ardha selalu saja tak ingin menikah.
Dan tiba-tiba, tak lama setelah berkata seperti itu, Ardha justru meminta restu untuk menikahi seorang perempuan yang menurutnya sangat asing.
Sebab itulah papa Dave menyelidiki dan meminta rekaman cctv pada pihak rumah sakit dan terlihatlah sebuah rekaman yang mengejutkan.
“papah ini bicara apa? jangan terlalu banyak begadang pah, nanti semakin melantur.”
“Gengsi kamu itu terlalu tinggi.”
Percakapan antara anak dan ayah itu harus terhenti karena salah satu petinggi dari perusahaan lawan mendekat.
“Selamat malam Tuan Dave. Selamat malam Tuan Ardha. Senang bisa bertemu kalian malam ini.” sapanya dengan lembut dengan maksud tersembunyi.
“Selamat malam kembali Tuan Abraham.” Balas papa Dave yang juga tak kalah ramahnya.
Ardha menilik tak suka pada orang di depannya.
__ADS_1
Jelas tak suka karena Tuan Abraham adalah orang yang terkenal dengan keserakahannya. Yang rela menyingkirkan siapa saja untuk mendapatkan kekuasaan.
Pun juga karena Tuan Abraham selalu menginginkan Ardha untuk menjadi menantunya. ya, Tuan Abraham adalah ayah kandung dari Sovia.
“Malam kembali Tuan Abraham.” Terdapat penekanan pada tiap kata yang Ardha lontarkan.
“Selamat atas pernikahan Anda dan maaf saya tak bisa datang karena sedang ada tugas diluar kota.”
“Tak masalah, saya juga tak merasa dirugikan.” Jawab Ardha acuh sambil mengangkat kedua bahunya.
“Kemana istri baru anda? Apa dia tak diajak ke acara ini?” Abraham terlihat celingukan. Wajahnya terlihat mengejek Ardha.
Berusaha mengatakan bahwa istri yang baru saja Ardha nikahi itu bukan perempuan yang bisa diajak ke acara besar dan tak pantas.
“Saya sangat menyayangkan, orang seperti anda harus menikah dengan perempuan yang seperti itu.”
Timpal Abraham lagi. Wajahnya sekarang terlihat seperti sedang murung. Tangannya memutar pinggiran gelas yang sedari tadi ia pegang.
“Seharusnya anda menikah dengan perempuan yang luar biasa. Sayang sekali, anda pasti merasa tertekan. Beda dengan istri anda yang pasti beruntung karena telah menikah dengan anda.”
Laki laki di depan Ardha ini membuatnya jengah.
“Ya sangat saya sayangkan sekali….”Ardha memasang wajah yang tak kalah muram membuat Abraham tersenyum.
“Orang seperti anda yang dihormati harus memiliki pemikiran yang dangkal.”
Perkataan Ardha membuat mata Abraham nyalang. Sesuatu yang ia dengar diluar dugaan. Ia mengira Ardha akan menyesali karena telah menikah dengan Elea. namun dugaanya salah.
“Istri saya itu edisi terbatas dan tak akan bisa didapat oleh orang biasa. Pun orang seperti anda juga tak bisa melihat kelebihan yang ada pada istri saya.”
Ardha tersenyum sinis, wajahnya memandang Abraham dari atas sampai bawah dengan tatapan mengejek.
“Istri saya terlalu berharga untuk dihina oleh orang seperti anda!”
“Oh ya, bukan dia yang merasa beruntung tapi saya. Jadi hentikan ocehan tak berguna dari mulut anda sebelum mulut anda tidak dapat mengoceh lagi.”
Ancam Ardha sembari meninggalkan Abraham dan Dave.
Emosi Ardha mencuat seketika saat Abraham menjelek jelekan Elea. Ardha benar benar tak suka.
Dave memandang punggung Ardha seraya berkata dalam hati.
Itu baru anak saya.
Perlahan punggung Ardha menghilang dibalik keramaian. menenangkan emosi yang mencut hingga ubun ubun.
Rasa ingin merobek mulut Abraham harus ia tahan agar tak merusak suasana pesta.
__ADS_1
Ardha juga tak sadar mengapa ia sampai semarah ini? yang ia tau Eleanya terlalu berharga.