
Semua orang melihat ke belakang mereka melihat Abimana yang sedang berdiri di belakang Fani, Abimana juga kelihatan baru selsai mandi sama seperti Fani rambut dia juga terlihat basah, semua orang saling berpandangan dan tersenyum kecil, Abimana mendekati Fani dan mencium keningnya di depan semua orang pipi Fani terlihat memerah karena malu.
"Sayang ternyata kamu ada di sini, pantesan mas tadi cari-cari kamu nggak ketemu," Ucapnya.
Fani tersenyum kikuk melihat ke semua orang yang sedang tersenyum ke arah mereka berdua, Abimana nggak memperdulikan semua orang yang ada di belakangnya.
"Kamu ngapain ada di sini? Dikta mana mas mau mengucapkan banyak terimakasih sama dia, karena kebaikan dia kita bisa bikin adik bayi buat dia." Ujar Abimana membuat Fani membulatkan matanya.
Ingin rasanya Fani memasukan wajahnya ke dalam karung beras mendengar ucapan Abimana yang nggak ada malunya, mereka yang mendengar ucapan Abimana hanya menggeleng ternyata tuan muda mereka kalau ngomong nggak pernah di saring.
"Dikta lagi tidur tuan." Jawab bi Sumi.
"Ya ampun siang-siang begini kalian habis bikin adik bayi buat Dikta? Ya ampun kalian ini nggak sabaran banget sebentar lagi juga malam." Ujar Wulan menggeleng.
"Dek apaan sih kamu." Fani melototkan matanya ke arah Wulan.
Wulan hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang nggak gatel, Abimana hanya tersenyum melihat Wulan yang meledek dia dan Fani, Abimana mengajak Fani untuk ikut kedalam kamar mereka berdua karena ada sesuatu yang harus mereka bicarakan hanya berdua saja.
"Sayang ayo ikut mas ada yang mau mas bicarakan sama kamu." Ujarnya.
__ADS_1
Fani menganggukkan kepalanya pelan dia mengikuti Abimana yang sudah jalan lebih dulu, Fani bertanya-tanya apa yang mau Abimana katakan kenapa suaminya kelihatan serius sekali? Tapi Fani harus sabar mungkin yang mau suaminya katakan sesuatu sangat penting.
Mereka sudah ada di dalam kamar, Abimana menyuruh Fani untuk duduk di sampingnya Fani menurut apa kata suaminya, Abimana menghela nafasnya pelan berhubung sekarang Fani sudah menjadi istrinya mau nggak mau dia harus menceritakan semuanya, dia mau berbagi sama istrinya dan nggak mau menutupi apapun darinya.
"Ada apa pak?" Fani langsung bertanya sama suaminya.
"Sudah aku bilang panggil mas, bukan pak kamu denger nggak sih? Sekarang kita suami istri bukan majikan dan asisten." Abimana protes ke istrinya.
"Iya maaf, iya mas Abi mau ngomong apa? Kelihatannya ini masalah serius apa ini masalah Pricil?" Pertanyaan Fani tepat sasaran.
"Iya, ini soal Pricil." Abimana mengiyakan ucapan istrinya.
Abimana mendengus kesal saat Fani memanggil mamahnya dengan sebutan nyonya, beliau kan mamahnya berarti sekarang juga sudah menjadi mamahnya juga, kenapa istrinya masih saja memanggil mamahnya dengan sebutan nyonya.
"Mas aku belum siap kalau harus memanggil mamah kamu dengan sebutan mamah, bukan aku nggak menghargai kamu tapi kamu tau sendiri mamah kamu belum bisa menerima aku." Ujarnya.
Fani tau kalau Abimana nggak suka dia memanggil bu Rina dengan sebutan nyonya, Fani belum siap untuk memanggil bu Rina dengan sebutan mamah, dia nggak mau kalau bu Rina marah padanya.
Abimana menganggukkan kepalanya pelan yang di katakan Fani memang bener mamahnya memang belum bisa menerima istrinya, tapi tetep saja dia mau kalau Fani harus memanggil mamahnya sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Jadi gimana mas apa yang di katakan mamah kamu benar soal Pricil yang bukan anak kandungnya?" Fani kembali menanyakannya.
"Iya yang di katakan mamah memang benar, tapi mas dan Ayumi sudah sangat menyayangi Pricil seperti adik kandung kami sendiri, kami berdua sangat menyayangi dia, Pricil besar di sini dan kami sedari kecil selalu bersama." Abimana menerawang jauh.
Fani sangat terkejut ternyata benar kalau yang di katakan bu Rina memang benar kalau dia bukan anak kandungnya, ya allah kasian sekali dia tapi kalau benar begitu nggak seharusnya bu Rina bicara seperti itu di depan semua orang, akan sehancur apa kalau Pricil mengetahui semua ini? Fani bener-bener merasa kasian sama adik iparnya.
"Jadi kalau dia bukan anak kandung mamah dia anak siapa mas?" Tanyanya.
"Nanti mas ceritakan semuanya sama kamu, untuk saat ini mas cuma bingung apa mas harus mengatakan yang sebenarnya sama dia atau nggak? Kalau mas mengatakan sama dia mas takut Pricil nggak bisa menerima kenyataan ini dan mas takut Pricil akan marah." Sahut Abimana lagi melihat istrinya.
"Saranku mending kamu kasih tau saja yang sebenarnya mas, terima atau nggak itu urusan belakangan kalau marah jelas dia akan marah, siapa yang nggak marah mas orang di sekelilingnya menutupi semua masalah ini darinya selama bertahun-tahun, daripada dia tau dari orang lain hatinya akan semakin terluka." Jawab Fani lagi.
Fani memberi saran untuk suaminya entah di terima atau nggak, yang terpenting dia sudah memberi masukan untuk suaminya Abimana mengangguk ternyata jawaban istrinya sama seperti ucapan Alfian.
"Baiklah sayang mas akan pikirkan ini semua, mas juga harus kasih tau Ayumi gimana pendapat dia." Jawab Abimana.
Fani mengangguk mengerti semoga masalahnya cepat selesai, Fani bener-bener merasa kasian sama adik iparnya nggak kebayang jadi Pricilia, semoga Pricil bisa menerima kenyataan ini dengan baik.
Bersambung..
Jangan lupa dukung karya athor dengan cara, like, vote dan komen, jangan lupa bunga dan kopi.
__ADS_1
Mampir di cerita Mahlini Putri Yang Tersembunyi.