
Pricilia dan bu Rina lagi nyekar di makam suami dan ibu kandung Pricilia, mereka berdua lagi berjongkok di makam pak Wijaya suami bu Rina, dan bergantian mereka berjongkok di makam ibu kandung Pricilia, Pricilia meneteskan air matanya dari lahir dia belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu kandung dan juga papahnya dia hanya merasakan kasih sayang dari bu Rina dan kedua sangat kaka.
"Ibu, Pricilia datang jengukin ibu, maafkan Pricilia yang tidak pernah datang untuk mejenguk ibu, ibu tenang saja Pricilia sudah bahagia sama mamah dan ke dua kaka Pricilia, mereka semua menyayangi Pricilia sama seperti ibu menyayangi Pricilia, terimakasih sudah melahirkan Pricilia di dunia ini sampai Pricilia bisa bersama orang-orang yang sangat menyayangi Pricilia, ibu tenang yah di sana." Pricilia mengusap nisan ibunya yang bertuliskan Kinan Wijaya.
Bu Rina ikut berjongkok di depan makam ibu kandung Pricilia, Pricilia tersenyum melihat mamahnya dia menghapus air matanya yang sudah keluar sejak tadi bu Rina mengusap pundak anaknya yang terlihat sedang menangis.
"Kinan maafkan aku, maafkan aku yang sudah merebut kebahagiaan kamu, maafkan aku yang sudah terlalu lama menyimpan dendam sama kamu sampai aku membenci anak kamu," Bu Rina menaburkan bunga di makam bu Kinan.
"Mah, mamah nggak boleh ngomong seperti itu, bagiku mamah adalah mamah terbaik, ibu pasti ngerti ko dan pasti ibu sudah memaafkan mamah." Pricilia tersenyum melihat mamahnya.
Mereka berdua kembali pulang ke rumah setelah mendatangi makan pak Wijaya dan bu Kinan, Abimana dan Ayumi sengaja nggak ikut karena sudah sering mendatangi makan papah dan ibu sambungnya.
Bu Rina dan Pricilia masuk kedalam mereka berdua melihat Abimana dan yang lain sedang duduk di ruang tamu, hari ini Ayumi ingin kembali pulang ke rumahnya bersama sang suami dia sudah mulai tenang karena mamah dan adiknya sudah baik-baik saja.
"Abi, kamu belum berangkat kerja nak?" Bu Rina melihat Abimana yang masih memakai baju santai.
"Nggak mah, kan mamah bilang sendiri kalau Abimana harus mengantarkan Fani ke dokter kandungan." Abimana melirik istrinya.
Bu Rina melihat arah pandang anaknya beliau melihat Fani yang lagi di dapur bersama adiknya, Pricilia dan Ayumi tersenyum melihat Fani yang sedang membantu bi Suami, Abimana terkejut melihat Fani yang tiba-tiba mual dia langsung berlari mendekati istrinya.
Pricilia, Ayumi dan bu Rina ikut mendekati Fani, bu Rina yakin kalau menantunya pasti sedang mengandung cucunya, wajah Fani terlihat pucat membuat Abimana khawatir melihat ke adaan istrinya begitu juga dengan yang lain.
"Sayang kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Abimana cemas.
Fani menggeleng Abimana menuntun istrinya untuk duduk di sofa, bi Sumi membawakan air anget untuk nyonya mudanya Abimana menerima air yang di berikan bi Sumi dan memberikan sama istrinya, Fani meminumnya hingga tandas.
"Fani, Abi, cepet lah kalian siap-siap untuk pergi ke dokter kandungan." Ujar bu Rina melihat anak dan menantunya.
Walaupun bingung Fani mengangguk mendengar ucapan mertuanya, Abimana dan Fani masuk kedalam kamarnya mau ber siap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
Nggak lama mereka sudah sampai di rumah sakit, Abimana langsung mendaftarkan istrinya mereka lagi menunggu antrian saat mereka lagi menunggu, bu Hanum mendekati pasangan suami istri yang lagi duduk.
__ADS_1
"Fani, pak Abi, kalian ada di sini?" Bu Hanum tersenyum melihat mereka berdua.
Fani mendongak dan langsung berdiri di depan bu Hanum, Fani menyalami bu Hanum dan tersenyum sedangkan Abimana hanya tersenyum melihat bu Hanum.
Kevin menghampiri mamahnya yang sedang ngobrol sama seseorang dia belum tau kalau mamahnya lagi ngobrol sama Fani dan Abimana, kevin terkejut ternyata mamahnya lagi ngobrol sama Fani perempuan yang masih bertahta di hatinya sampai sekarang, Abimana yang melihat Kevin langsung memeluk pinggang istrinya, bu Hanum menggelengkan kepalanya melihat rekan bisnis suami dan juga anaknya.
"Ibu ada di sini? Siapa yang sakit bu?" Fani melihat bu Hanum dan Kevin.
"Nggak ada yang sakit sayang, ibu cuma lagi kontrol saja di anter sama Kevin, eh malah ketemu kamu di sini, kamu ngapain ada di sini sayang?" Tanya bu Hanum.
"Aku mau priksa kandungan bu." Fani tersenyum menjawab pertanyaan bu Hanum.
"Kamu lagi hamil sayang? Wah, selamat yah."
Degh!
Mendengar ucapan mamahnya Kevin sedikit terkejut dia melihat Fani yang sedang tersenyum wajahnya terlihat begitu kecewa, saat mengetahui kalau Fani sedang mengandung anaknya Abimana dia tak berkedip melihat Fani menurutnya Fani terlihat semakin cantik saja.
"Belum tau bu, karena Fani baru mau periksa sekarang jadi hamil atau nggak Fani belum tau, tapi semoga saja Fani beneran hamil yah." Jawabnya tersenyum.
"Iya ibu do'akan semoga secepatnya kamu positif yah sayang."
"Terimakasih bu."
"Mah, ayo kita pulang Kevin lagi buru-buru, lagian mamah ngapain sih minta di anter Kevin biasanya juga sama papah." Ucap Kevin sedikit kesal.
"Kamu kenapa sayang ko gitu ngomongnya?"
Kevin meninggalkan mamahnya sendirian, bu Hanum berpamitan sama Fani dan Abimana mau menyusul anaknya yang sudah pergi meninggalkanya sendirian.
"Fani sayang, ibu pergi dulu yah kamu jaga diri baik-baik, pak Abi saya permisi dulu."
__ADS_1
"Iya bu." Jawab Fani.
Fani di panggil suster setelah menunggu cukup lama sekarang gilirannya, mereka berdua masuk kedalam dan duduk di depan doker, dokter langsung menanyakan keluhannya pasiennya, Fani menjawab apa yang dia rasakan, dokter menganggukkan kepalanya dan menyuruh Fani untuk berbaring.
Dokter memberikan gel di perut Fani dan memeriksanya, dokter tersenyum melihat Fani yang sedang melihat layar komputernya, selesai memeriksa dokter kembali menyuruh Fani untuk kembali duduk, Fani mengangguk dan kembali duduk di sebelah suaminya.
"Jadi gimana dokter apa yang terjadi sama istri saya? Istri saya baik-baik saja kan?" Abimana bertanya tidak sabaran.
"Istri bapak baik-baik saja pak, ini sudah terbiasa terjadi sama ibu hamil." Jawab dokter.
"Hamil?" Mereka berdua bertanya dengan kompak.
"Iya, istri bapak sedang hamil dua bulan, selamat yah bu, pak, di jaga kandungannya baik-baik jangan lupa minum vitamin yang sudah saya resepkan, jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat yah bu, di jaga yah pak istrinya." Dokter tersenyum melihat pasangan suami istri yang ada di depannya.
Fani meneteskan air matanya dia terharu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, Abimana mengecupi puncak kepala istrinya dia sangat bahagia mendengar kabar bahagia istrinya.
"Terimakasih dokter, saya pasti menjaga kandungan saya baik-baik."
Dokter mengangguk dan tersenyum mereka berdua berpamitan sama dokter yang memeriksa Fani, dokter menganggukkan kepalanya, di dalam mobil Abimana terus menggenggam tangan istrinya, Fani tersenyum melihat suaminya yang terlihat bahagia.
"Kamu tau sayang, mas sangat bahagia."
"Iya mas, aku juga bahagia." Fani menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
Sesampainya di rumah bu Rina mendekati mereka berdua dan menanyakan hasilnya, Fani dan Abimana tersenyum melihat mamahnya ini mungkin akan menjadi kabar bahagia untuk keluarganya.
"Gimana hasilnya, Abi, Fani?"
"Sebentar lagi mamah mau punya cucu mah." Jawab Abimana tersenyum lebar.
"Cucu!" Teriak seseorang dari belakang.
__ADS_1
Bersambung..