
...I.B.U.S.A.M.B.U.N.G.U.N.T.U.K.A.N.A.K.K.U...
...Aku mencintai kamu, Elea Anindhiya Dilla. Tak peduli bagaimana masa lalu kamu. Yang aku tau, kamu adalah sosok bidadari tanpa bersayap. Yang membawa keluarga kecilku menuju tempat yang indah. Aku janji akan menyingkirkan siapa pun yang berani menyakitimu karena jika kamu sakit, maka aku juga terluka. Elea Anindhiya Dilla, I Miss you...
...~Ardhana Kavin...
***
Sudah satu minggu berlalu. Elea masih berada dipesantren. Ia memilih untuk mengajar anak-anak disana.
Sudah satu minggu juga Ardha mencari keberadaan sang Istri disembarang tempat. Barangkali ada keajaiban yang mempertemukan mereka.
Cila terus merengek meminta untuk bertemu dengan Bunda. Dan Ardha harus selalu sabar memberi pengertian pada anaknya bahwa Sang Bunda sedang ada urusan.
"Gimana?" ucap Ardha dengan seseorang diseberang sana, tentu saja Fatih.
"Lancar dan sebentar lagi laporan akan diproses. Lo fokus cari Elea, untuk urusan ini biar gue yang handle."
Fatih berbicara dengan percaya diri. Satu minggu ini ia jarang sekali tidur. Tapi ia puas dengan hasil yang di dapat.
"Bagus."
Fatih menyeringai dan tentu saja tak sabar.
"Lo yakin mau keluar dari dunia entertaiment?" tanya Fatih yang entah keberapa kali. Ardha saja sampai bosan menjawab.
__ADS_1
Setelah kejadian diusirnya Elea. Ardha memutuskan untuk keluar dari dunia yang telah membuatnya bersinar.
Bukan tanpa alasan, nanti jika Ardha sudah menemukan Elea, Ardha ingin mereka hidup dengan bebas tanpa media.
"Sudah berapa kali gue jawab pertanyaan konyol dari lo. Lo masih ragu sama gue. Bahkan saat ini gue sudah di depan pintu ruang konfensi pers."
Fatih menghembuskan napas "Gue ga bisa larang lo. Semoga keputusan yang lo ambil sudah tepat."
"Tentu." Ardha mematikan panggilan secara sepihak. Ia membetulkan kemeja biru dongker yang sedang ia pakai.
Sebentar lagi ia akan resmi meninggalkan dunia yang telah membuat namanya dikenal.
Pintu terbuka. Suara yang tadinya ramai sekarang berubah senyap. Ardha melangkah menuju podium.
"Selamat siang semuanya." sapa Ardha berbasa-basi.
Ardha menatap satu persatu wartawan yang sedang melalukan live.
"Saya Ardhana Kavin, mulai hari ini, menit ini dan detik ini ingin mengundurkan diri dari dunia entertaiment."
Perkataan Ardha sontak membuat mereka terkejut. Para wartawan saling berpandangan. Ada juga yang sedang melotot dengan mulut yang menganga.
"Terimakasih buat para penggemar yang mendukung saya dari dulu hingga sekarang. Saya yakin, jika bukan karena kalian saya tak akan mungkin saya bisa dititik ini."
"Sebelum saya mengakhiri pertemuan ini, saya ingin mengucapkan sesuatu kepada istri saya. Aku mencintai kamu, Elea Anindhiya Dilla. Tak peduli bagaimana masa lalu kamu. Yang aku tau, kamu adalah sosok bidadari tanpa bersayap. Yang membawa keluarga kecilku menuju tempat yang indah. Aku janji akan menyingkirkan siapa pun yang berani menyakitimu karena jika kamu sakit, maka aku juga terluka. Elea Anindhiya Dilla, I Miss You." mata Ardha berkaca-kaca. Ia berharap entah dimana Elea berada. Perempuan itu bisa melihat Ardha dan pulang ke rumah mereka.
__ADS_1
Ardha menunduk seraya pamit. Tak mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut wartawan. Yang Ardha ingin sekarang adalah mencari Elea.
Ardha menelungkupkan wajah dibalik kemudi sesaat lalu melaju entah kemana. Sudah hampir satu jam Ardha berkeliling namun tak jua mendapati sosok yang ingin ia temui.
Suara adzan berkumandang. Ardha menepikan mobil di halaman masjid. Ia ingin berdoa pada Sang Pencipta.
Diakhir shalatnya Ardha terus meminta. Bahkan ia tak sadar jika barisan belakang telah kosong.
Saat Ardha menengok kebelakang, Ardha terasa mengenail sosok perempuan yang sedang melepas mukena, Elea.
Deg, Ardha menajamkan penglihatan. Meski tertutup tirai putih, tapi Ardha dapat memastikan bahwa itu memang Elea.
Ardha mengucap syukur, ia telah mencari Elea ke segala tempat dan ternyata mereka justru dipertemukan di tempat Allah.
"Elea!" panggil Ardha.
Sosok yang dipanggil pun sontak menatap ke arah suara. Mata mereka bertemu, dengan pancaran kerinduan.
Elea gegas memakai jilbab. Ardha mengira bahwa Elea akan menghampirinya namun Ardha salah. Elea justru menghindar.
Ardha tak tinggal diam, ia juga lari ke luar masjid dengan cepat bahkan tanpa alas kaki.
Napas Ardha terengah. Ia mengusap kasar wajahnya.
Sosok Elea telah hilang. Ardha menyayangkan mengapa pintu ke luar laki-laki dan perempuan dibuat berbeda sehingga ia kehilangan jejak Elea.
__ADS_1
"Kenapa kamu menghindariku, Sayang? Apa kamu tidak merindukan kami? Apa hanya kami yang merasa kehilangan?" lirih Ardha.