
"Bagaimana bisa dia berfikir mau berangkat kuliah. Apa dia tidak peduli dengan dirinya dan kandunganya? Perempuan macam apa dia?" gumam Tuan Aksa tatapanya menerawang jauh jari jemarinya sambil mengetuk- ngetuk meja.
Setelah membaringkan Putri di kamarnya, karena Tuan Aksa meninggalkan pekerjaan banyak, Tuan Aksa masuk ke ruang kerjanya untuk menyelesaikanya.
Benar saja, Saka mengirim email banyak berisi berkas- berkas yang harus dia periksa.
Sayangnya meski di depanya terpampang layar monitor komputer, yang muncul di mata Tuan Aksa malah bayang- bayang Isyana. Fokusnya pun berkurang.
Seharusnya pekerjaan selesai sebelum maghrib, karena tertunda makan dan sholat jam 19.30 Tuan Aksa masih sisa satu email lagi.
"Haish...," desis Tuan Aksa menyandarkan kepalanya di bangku kerjanya yang besar dan bisa diputar itu.
"Apa jangan- jangan dia juga masih ngamen? Sepenting itukah pekerjaanya. Bagaimana bisa seorang perempuan hamil, siangnya kuliah dan malamnya ngamen? Kenapa dia begitu? Apa mantan suaminya tidak menjamin nafkah untuk anaknya?"
Tuan Aksa jadi gelisah dan khawatir memikirkan Isyana. Isyana bagi Tuan Aksa seperti memaksakan diri berjuang di saat dirinya hamil, memprihatinkan dan membuatnya gemas.
Isyana jauh berbeda dengan Bu Tiara. Dulu begitu ketahuan hamil, Bu Tiara langsung off dari pekerjaanya. Jadi Tuan Aksa salut dan heran melihat perempuan seperti Isyana.
"Dia terlihat begitu baik, dia tidak terlihat seperti perempuan nakal dan selingkuh? Kenapa suaminya menceraikanya?"
Semakin memikirkan, penasaranya Tuan Aksa pun bertambah
"Tunggu- tunggu, siapa mantan suami Isyana? Kata pekerja di klinik kecantikan itu, dulu Isyana dijemput mobil berlogo Suntech? Apa Isyana istri orang Suntech? Dia berani menggunakan mobil kelas atas, dia bukan pegawai biasa. Siapa Isyana sebenarnya?"
"Seharusnya aku kenal bukan?" gumam Tuan Aksa lagi.
Tuan Aksa ingat saat Putri merengek ke greenhouse Isyana, tapi Isyana tidak di rumah. Tuti menunjukan fotonya kalau Isyana dijemput beberapa pria berseragam rapi.
"Hoooh...., dijemput? Ibukota? Menarik, siapa dia sebenarnya?" gumam Tuan Aksa lalu memeriksa ponselnya.
"Apa aku tanya saja? Kalau sampai malam ini dia ngamen, dia benar- benar payah, tapi bagaimana tanyanya?" gumam Tuan Aksa gusar
"Memalukan sekali kalau aku yang menanyakanya, Isyana kan tahu Putri belum bisa menulis dan membaca," gumam Tuan Aksa lagi.
Akhirnya Tuan Aksa meninggalkan satu berkasnya. Tuan Aksa membawa ponselnya, ke kamar Putri.
"Thok... thok..," Tuan Aksa mengetok pintu kamar Putri, lampu masih menyala.
Tuan Aksa ingin agar Putri yang voice mail ke Isyana. Akan tetapi saat pintunya dibuka, Mbak Nik baru saja menutup selimutnya.
"Selamat Malam Tuan," sapa Mbak Nik menundukan kepala.
Karena bahagia, Putri hari ini tidak rewel dan patuh pada Mbak Nik. Tentu saja dia ceria sekali pamer ke Mbak Nik, untuk pertama kalinya Putri bisa ngerasain gerak bayi dari luar perut.
Mbak Nik yang diceritain aja ingin juga rasain. Putripun tidur cepat setelah guru les ngajinya selesai mengajar.
"Malam. Putri sudah tidur?" jawab Tuan Aksa balik bertanya.
"Sudah Tuan. Alhamdulillah hari ini Putri terlihat sangat bahagia dan tidur cepat. Putri juga sudah menyelesaikan les ngajinya," lapor Mbak Nik dengan semangat dan sumringah.
Sebab bagi Mbak Nik sebuah prestasi bisa ajak Putri patuh dan nurut, biasanya kan rewel dan uring- uringan.
Sayangnya sesuatu yang bagi Mbak Nik prestasi, khusus malam ini? Atau mungkin mulai malam ini tepatnya, itu tidak menyenangkan bagi Tuan Aksa. Sebab tadinya Tuan Aksa berharap Putri belum tidur.
"Ya, sudah! Pergilah!" jawab Tuan Aksa lesu.
"Ya Tuan!" jawab Mbak Nikam pergi dari kamar Putri.
"Hhhhhuft!" selepas Mbak Nik pergi Tuan Aksa mengacak- acak rambutnya.
Kalau Putri tidak ngamuk, tidak ada alasan bertanya tentang kabar Isyana. Tuan Aksa mendekat ke Putri dan membelai rambutnya. Harapan menelpon Tuan Aksa harus dia pendam.
Tuan Aksa merssa tidak pantas kalau dirinya pribadi yang menghubungi Isyana.
Entah kenapa Tuan Aksa jadi mendadak risau memikirkan apa Isyana baik- baik saja? Apa Isyana patuh mengikuti dokter untuk istirahat? Atau tetap bekerja. Ditambah Tuan Aksa juga penasaran siapa orang yang jemput Isyana dengan mobil berstiker Suntceh.
Dulu Tuan Aksa tidak begitu peduli karena fokusnya ke Bu Tiara? Akan tetapi sekarang? Hal itu cukup menggelitik, mobil mewah unit mercedes bens yang harganya milyaran berstiker Suntech itu hanya petinggi Suntech yang punya.
"Dia juga kenal Mas Lana? Waktu itu aku melihat dia berbincang dengan Mas Lana dan istrinya. Sepertinya mereka kenal? Apa aku tanya Mas Lana saja? Tapi apa alasanku bertanya?" gumam Tuan Aksa.
Tuan Aksa masih malu menanyakam perempuan janda ke orang lain padahal dirinya jadi duda juga baru.
"Aku cek saja lah!" ucap Tuan Aksa memutuskan pergi ke tempat ngamen Isyana.
Dulu, saat Bu Tiara masih hidup, Bu Tiara selalu mengajak Tuan Aksa ke tempat ngamen Isyana.
Selain memberikan saweran yang banyak sebagai media membantu tanpa merendahkan, Bu Tiara juga suka menghabiskan waktu di tempat itu dan membuat suaminya tidak negatif thingking, terhadap Isyana.
Dari situlah, diam- diam bukan hanya Bu Tiara yang suka dengar lagu Isyana. Meski diam tak pernah memuji atau komentar, Tuan Aksa juga menikmati penampilan Isyana.
Karena Putri sudah tidur, Tuan Aksa memilih keluar seorang diri. Supir dan anak buah memang banyak, tapi Tuan Aksa suka keluar diam- diam sendiri, dengan pakaian casualnya. Tuan Aksa pun pergi ke tempat Isyana ngamen.
****
Di rumah Nenek.
__ADS_1
Isyana mengepalkan tanganya, seketika emosinya memuncak memenuhi dadanya dan membuat sesak.
Akan tetapi Isyana baru saja dinasehati Nenek. Ah Nenek, kenapa kamu seperti Mbak Dukun? Kenapa baru tadi dibahas orangnya sudah ada di depanya.
"Jadi benar kamu menguntitku Mas? Apa mau kamu?" tanya Isyana ke orang yang duduk santai tidak tahu malu di kursi rotan, di ruang tamu rumah Nenek.
"Apa ini rumah tukang sayur itu? Apa dia di rumah? Kok aku nggak lihat?" tanya Lana dengan sengaja memancing emosi Isyana.
"Hoooh," Isyana sungguh sangat kesal. Apa maksudnya tanya tukang sayur ke Isyana.
"Katakan secepatnya apa maumu datang kemari. Dan segera tinggalkan rumah ini!" jawab Isyana tegas.
Isyana tidak mau meladeni Lana membahas Adnan. Isyana juga tidak mau duduk meski si tamu tak diundangnya sudah duduk duluan.
Lana tidak peduli Isyana atau ucapan Isyana. Lana malah matanya melihat sekeliling dan memperhatikan dengan seksama rumah Nenek. Fokus Lana jatuh ke foto Nenek dan Dina. Tak ada foto tukang sayur yang dia cemburui.
"Bukankah setelah kuceraikan seharusnya kamu bebas bersama pacarmu itu? Kenapa kamu justru tinggal bersama nenek tua ini?" tanya Lana mengambil foto nenek.
"Letakan foto itu!" jawab Isyana singkat, tamunya benar- benar kurang ajar.
Isyana tetap tidak mau menanggapi tuduhan Lana.
Isyana bertekad, sook weeh, Lana terus menuduhnya selingkuh. Kebal rasanya menjelaskan kalau Isyana tak ada hubungan dengan Adnan.
"Oh... nggak boleh dipegang. Oke. Maaf!" jawab Lana dengan gaya sombongnya meletakan foto nenek dan mengangkat tangan.
"Mau kamu apa Mas? Kenapa kamu datang ke sini? Darimana kamu tahu aku di sini?" tanya Isyana menahan emosi agar tidak meledak.
"Santay dulu dong... duduk sini. Apa kau lupa aku mantan suamimu?" jawab Lana mempersilahkan Isyana duduk.
"Hoooh," Isyana pun hanya bisa terpekik gemas.
Bisa- bisanya Lana berbicara begitu.
Rasanya Isyana malu dan menyesal pernah bersuamikan laki- laki tak punya muka seperti Lana. Baru kemarin dia memaki Isyana murahan untuk apa dia datang.
"Ayo duduk!" ucap Lana lagi.
"Katakan ada urusan apa kamu datang ke sini? Katakan dan tinggalkan rumah ini secepatnya atau aku teriak?" jawab Isyana mengancam.
"Okeh. oke.. tenang dong. Aku tidak akan berbuat jahat. Aku hanya ingin bicara baik- baik denganmu!" jawab Lana.
"Aku tidak merasa ada urusan dan punya kepentingan bicara baik- baik denganmu Mas. Kita sudah berakhir. Berakhir! Ngerti kan? Jadi katakan apa maumu? Dan tinggalkan tempat ini!"
"Tapi aku merasa aku punya kepentingan dan hubungan kita belum berakhir," jawab Lana.
"Itu anakku kan?" tanya Lana to the point melihat ke perut Isyana.
"Ah hahaha," Isyana kemudian tertawa mengejek.
"Kamu mengakuinya? Bukankah katamu aku murahan dan selingkuh? Kamu sendiri kan yang bilang?" jawab Isyana.
"Ehm...," sedikit terskak, akan tetapi karena sudah terlanjur muka tembok Lana tetap berdalih.
"Aku pernah sakit dan dokter menanyakan apa istriku sedang hamil saat itu. Mika tidak sedang hamil jadi aku yakin itu anakku!" jawab Lana berkilah, membuang muka tak berani menatap Isyana.
"Bisa saja kan kamu selingkuh dengan orang lain setelah bermain denganku. Tentu saja benihku yang lebih baik, bukankah begitu?" lanjut Lana masih mengejek.
Isyana diam mengepal, rasanya semakin sakit. Sangat sakit Lana masih terus menuduhnya selingkuh.
Akan tetapi kata Nenek Isyana harus melupakan. Isyana pun mengambil nafasnya berusaha tenang.
"Terus? Kamu mau apa kalau ini anakmu?" tanya Isyana.
"Dia pewarisku dia anakku, tentu saja aku punya hubungan dan mempunyai beberapa hak atasnya," ucap Lana.
"Aku bersumpah aku tidak pernah selingkuh Mas. Dan ya! Ini anakmu! Tapi!" ucap Isyana geram
Hati Lana mengembang begitu tau anaknya. Ya, Lana tidak bisa berbohong sorot matanya berbinar dan maju mendekati Isyana.
"Stop! Berdiri di tempatmu!" ucap Isyana.
Lana menelan ludahnya mencari ide beralasan.
"Aku ayahnya. Aku berhak memastikanya dia tumbuh sehat!"
"Kamu memang ayahnya. Tapi kamu tidak berhak apapun atasnya. Aku tidak ijinkan kamu menyentuhnya. Pergi dari sini dan jangan temui aku lagi! Dia akan tumbuh sehat bersamaku dan kami tidak butuh kamu?" jawab Isyana.
"Oh ya? Dengan kehidupan yang seperti ini?" tanya Lana mengejek lagi, sambil menoleh keadaan rumah Nenek secara tidak langsung mau bilang rumah Nenek jelek.
"Seperti ini? Ya seperti ini keenapa?" tanya Isyana.
"Tidak!"
"Tidak kenapa? Aku berhak menentukan dimana aku tinggal? Jangan campuri urusanku! Dan cepat pergi dari sini!"
__ADS_1
"Isyana!"
"Pergi atau aku teriak!" bentak Isyana lagi
"Oke...okee... rendahkan suaramu. Aku baik lho datang ke sini. Aku ingin memastikan anakku sehat dan aku akan membuatmu lebih baik!"
"Tidak perlu. Aku lebih baik tanpamu. Pergi nggak!" bentak Isyana lagi
"Isyana...," rayu Lana lagi sangat tidak tahu malu.
"Satu! Dua!" ucap Isyana menghitung dan sebagai peringatan dia hendak berteriak.
"Oke! Aku pergi!" jawab Lana menyerah. Lana bangun dari duduknya.
"Tapi ingat kataku, Isyana. Pastikan anakku tumbuh sehat. Aku punya hak atasnya. Aku akan kembali menemuimu!" ucap Lana sambil berpamitan.
Isyana diam tidak menjawab dan menahan gemuruh di dadanya. Mata Isyana berkaca- kaca. Apa mau Lana. Tidak puas menghinanya memfitnahnya, bisa- bisanya dia datang sok- sokan peduli terhadap anaknya.
Isyana langsung menutup pintunya kasar dan menguncinya.
"Hiks... hikss....," selepas Lana pergi, tangis Isyana langsung pecah.
Isyana kemudian masuk ke kamarnya.
"Dia kan punya istri lagi? Tidak bisakah dia punya anak sendiri dan tidak usah mengusikku lagi? Tidak bisakah anakku punya ayah selain dia? Atau tidak usah punya ayah? Aku tidak ingin berurusan denganya lagi?"
Isyana menangis sendirian memeluk bantal yang nenek jahit sendiri sarungnya, sampai Isyana tertidur.
****
Di tempat ngamen.
Nenek dan Dina melakukan pekerjaanya seperti biasa. Nenek menjual makanan dan Dina ngamen dengan gitar okulelenya.
Beberapa ada yang tanya kemana Isyana. Akan tetapi mereka tak mempermasalahkan itu.
Hingga sekitar jam setengah 9 berjalan seorang laki - laki tampan memesan makanan ke Nenek dan bisa Nenek kenali. Ya nenek kenal sebab sebelumnya dia rutin datang bersama istrinya.
"Tuan...," sapa Nenek.
"Malam Nek.. saya pesan seperti biasa?" jawab Tuan Aksa melirik ke Dina yang sendirian.
"Oh ya Tuan!" jawab Nenek.
Tuan Aksa hanya melihat sekeliling, Tuan Aksa sedikit tersenyum karena Iysana tidak ada. Akan tetapi Tuan Aksa belum berani bertanya.
"Ini pesananya Tuan!" ucap Nenek memberikan sepiring makanan kesukaan Bu Tiara.
"Berapa Nek?" tanya Tuan Aksa bersiap membayar.
"Malam ini, saya ingin berterima kasih pada anda. Tidak usah membayar!" jawab Nenek.
"Kenapa begitu? Saya tidak melakukan apapun. Saya senang kesini, karena aku bisa mengenang istriku," jawab Tuan Aksa beralasan.
"Saya berterima kasih anda sudah menolong Neng Isya," ucap Nenek tersenyum
Tuan Aksa tersenyum, ada jalan untuk menanyai nenek tentang Isyana.
"Oh itu? Apa dia cerita?"
"Ya!"
"Saya yang minta maaf. Dia terluka karena kecerobohanku mengawasi Putriku? Apa dia baik-baik saja?" tanya Tuan Aksa.
"Ya. Insya Alloh dia baik- baik saja?"
"Jadi malam ini dia tidak bekerja?"
"Tidak. Neng Isyana malam ini istirahat," jawab Nenek.
Tuan Aksa pun mengangguk tersenyum dan lega.
"Terima kasih Nek!" jawab Tuan Aksa. "Oh ya. Minta tolong bungkus saja makanan ini, aku lupa ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," jawab Tuan Aksa tiba- tiba berubah pikiran.
Katanya tadi mau mengenang istrinya, seketika minta dibungkus saja.
Nenek tersenyum, mengangguk dan membungkus makanan pesanan Tuan Aksa. Lalu Tuan Aksa pergi.
Dina yang melihatnya melirik.
"Itu Tuan Aksa bukan sih Nek?"
"Iyah?"
"Waah kan benar? Tuan Aksa ada rasa sama teteh!"
__ADS_1
"Ngawur kamu. Dia kesini karena rindu istrinya!" jawab Nenek berkilag.