
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah, dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa untuk mengunjungi novel author lain nya dengan judul "Cinta Ku Mafia Ku". Terimakasih....
...*...
...*...
...*...
...*...
"Maafkan papa yang melibatkan kalian seperti ini...."
Adel bingung mau menjawab apa, jadi Adel hanya diam dan membiarkan papa nya dalam kesedihannya, namun Adel menguatkan papa nya dengan menggenggam erat tangan Ben. Tangan mungil Adel membuat Ben, merasa penuh serta nafas Collin yang ada dalam pelukannya membuat nya bertahan.
.
.
.
Di rumah sakit....
Ben begitu panik ketika sampai di rumah sakit. Dokter Eric segera memeriksa Collin dengan teliti dan secara menyeluruh.
"Collin masih demam, ini diakibatkan karena cuaca yang berubah secara tiba - tiba membuat dirinya sulit beradaptasi, pemicu demam nya juga karena gigi nya yang mulai tumbuh di tambah dengan cuaca yang ekstrim, lebih baik Collin di rawat inap dulu semalam, jadi bisa dipantau lebih baik"
"Baik, terimakasih dokter"
.
.
.
.
Malam nya....di rumah keluarga Silver.....
"Nyonya, Ayo makan lah....Anda tidak makan sejak tadi pagi, nanti bayi yang ada di kandungan anda ikut sakit" Ucap Bentley kepada Nissa.
__ADS_1
Nissa sejak pagi terus duduk di depan rumah sambil menunggu kepulangan Ben. Tanpa ada kabar kapan pulang dan sedang berada di mana, hatinya sakit memikirkan bahwa Adel dan Collin jauh dari nya.
"Aku begitu bodoh, padahal ku kira bisa menyelesaikan masalah ini, padahal aku hanya ingin membicarakan masalah Adel dengan makan bersama, siapa tahu badai akan datang? Siapa tahu jika Andhika akan datang juga? Aku melukai Ben terus, selalu dan selalu...."
Nissa merasa dirinya sangat bodoh, hanya bisa menangis tanpa daya apapun. Nissa sudah mencoba mencari Ben dengan menelfon dan menanyakan keberadaan Ben dari kerabat maupun teman Ben. Bahkan Kate dan Anthony tak tahu di mana keberadaan Ben.
"Mungkin niat anda baik, tapi cara anda salah nyonya, Anda bisa lihat sendiri betapa tuan sangat mencintai dan menghormati anda, tidak ada salah nya jika masalah Adel lewat ranah hukum, toh tuan tidak akan mungkin membiarkan Anda kalah di persidangan nanti"
Bentley benar, Nissa selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cara nya sendiri, dengan kemampuan nya dan dengan cara yang aman tanpa ada resiko, sedangkan ke pengadilan pasti lah ada resiko nya. Nisa lupa perannya sebagai ibu dan seorang istri, Nissa mengabaikan banyak hal demi kepentingan nya.
"Apa yang harus ku lakukan Bentley? Aku tak tahu di mana Ben dan anak - anak berada, Begini kah yang Ben rasakan ketika menunggu ku semalam? Mungkin yang kurasakan ini belum seberapa dibandingkan yang Ben rasakan, tapi aku tidak mampu merasakan lebih dari ini"
"Tenang lah nyonya, meski nyonya salah, nyonya kan bisa memperbaiki diri dan meminta maaf, Saya juga salut dengan tuan, tuan tidak makan dan tidur karena khawatir dengan anda, jika anak - anak tidak di rumah, tuan pasti akan turun langsung mencari nyonya"
"Benar, hanya karena kebodohan ku sendiri aku menyakiti Ben lagi dan lagi....tapi aku sungguh tak berharap ini akan menjadi hal yang buruk, Nissa....Nissa kenapa kamu selalu bodoh sejak dulu!" Nissa membicarakan kekurangan nya dan menyalahkan dirinya sendiri.
Tiba - tiba dari arah gerbang mobil Ben menyinari rumah, Nissa berdiri dan segera menghampiri ke mobil itu untuk melihat anak nya. Tapi dari luar Nissa tak melihat salah satu dari anak nya.
"Dimana Collin dan Adel?" Tanya Nissa kepada Ben.
Ben berjalan tanpa memperdulikan omongan Nissa.
Ben segera menuju ke kamar nya dan tetap tak memperdulikan Nissa yang masih terus menanyakan kabar anak - anak mereka dari Ben. Ben menyiapkan baju nya dan beberapa baju ganti Collin serta perlengkapan Collin yang diperlukan.
Srakkkkk.....Nissa menahan tangan Ben yang sedang mengepak baju Collin.
"Bicaralah!! Dimana anak - anak?!! Kau boleh marah padaku tapi beritahu di mana mereka!! Aku berhak tahu karena aku ibu nya!! Aku tak bisa hidup tanpa mereka!!"
"Kenapa sekarang masih mau jadi seorang ibu? bukankah kau senang keluar dan nostalgia dengan orang yang kau rindukan? bersama Mantan suami mu dan mantan mertua mu! Nissa sebodoh - bodoh nya orang, tidak akan ada orang yang tega meninggalkan anak - anak nya demi hal tak penting itu!!" Teriak Ben.
"Tapi bagiku, hak asuh Adel itu penting, mungkin cara ku salah tapi aku ingin semua nya tak masuk ke ranah hukum"
"Kebaikan dan kebodohan mu itu ada batas nya juga Nissa! Aku suka dengan kebaikan mu, tapi aku benci dengan kebodohan mu! Jika tidak lewat ranah hukum, bagaimana jika Andhika akan mengambil Adel lagi seperti yang telah terjadi? Tidak ada hukum dan hak asuh yang pasti, kita akan kehilangan Adel dengan mudah!!!"
Benar...Nissa tak memikirkan sampai kesana, ia hanya memikirkan bahwa dengan ke ranah hukum semua nya terasa memberatkan dan membebankan. Belum lagi Nissa terpengaruh dengan ucapan pengacara nya, meski ada bukti belum tentu bisa menang. Tapi pengacara selalu tahu kerja mereka dan akan berusaha yang terbaik demi klien mereka.
"Aku hanya takut jika hak asuh Adel tak bisa di dapatkan....karena belum tentu kita menang..."
"Karena kau selalu tak percaya padaku!! Kau selalu memikirkan hal yang belum terjadi seolah itu kenyataan!! Aku sudah bilang berkali - kali aku tidak akan membuat keluarga kita berpisah, apa memahami itu semua begitu sulit?!!"
__ADS_1
Tok...tok..tok...
"Tuan ini pakaian nona Adel" Ucap Bentley sambil membawa tas kecil yang berisi baju Adel.
"Terimakasih"
Ben pun segera keluar sambil membawa semua perlengkapan untuk di rumah sakit karena mereka harus menginap disana. Collin mendapatkan infus karena demam nya yang sangat tinggi tak kunjung turun.
"Tunggu....Ben...biarkan aku ikut....Aagghhhh" Kepala Nissa seolah berkunang - kunang dan hampir jatuh dari tangga namun segera Ben tahan dengan segenap kekuatan nya.
"Nyonya, makan lah dulu, anda belum makan sejak kembali ke rumah" Ucap Bentley.
"Tidak aku tidak bisa makan, Ben juga belum tentu sudah makan, lebih baik siapkan makan untuk Ben, Aku akan menunggu, Aku harus menemui anak - anak"
"Sebelum menemui mereka, kau makan saja dulu!! Bahkan sekarang kau tidak perduli jika ada bayi dalam perut mu!!"
Nissa yang bersikeras tak ingin makan, terus menempel ke arah Ben. Nissa takut Ben akan pergi ketika ia makan meski hanya sesuap saja. Ketika Ben memasukkan tas ke bagasi, Nissa dengan cepat masuk ke mobil sebelum ditinggalkan oleh Ben.
Apa Ben akan menurunkan ku di jalan? Kemana anak - anak? Kenapa Ben diam saja?
.
.
.
.
.
.
Ben terus membawa mobil nya pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nissa. Tanpa bicara bahkan tanpa interaksi apapun dari keduanya.
"Ben..."
-bersambung-
__ADS_1
..."Sulit bagiku untuk percaya pada hal yang tak pasti"...