Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
90. Mau datang


__ADS_3

Isyana mengikuti saran nenek, kebetulan jadwal kuliah Isyana pagi, jam 7 s.d jam sembilan. Setelah itu jeda siang baru ada ujian. Di sela waktu ujian Isyana menuju ke supermarket, tempat dia membeli buku waktu itu. 


Kebetulan, Tuan Aksa yang ingin menanyakan pada petugas kasir selepas mengatar Isyana ditunda, karena mendapat laporan dari Mbak Nik, Putri mogok makan. 


“Maaf, Mbak, saya tidak bisa terima uang ini, ini saya kembalikan. Sebenarnya saya sudah tidak punya suami,” tutur Isyana ke pelayan. 


“Lhoh... itu bukan Suami Nyonya?” 


“Pokoknya saya nggak bisa terima, pegang ya!” tutur Isyana ngotot.


“Tapi, Nyonya, bagaimana saya mengembalikanya?" tanya Pelayan.


"Terserah, simpan saja. Kalau nggak anggap itu rejekimu. Maaf aku buru- buru. Sudah ya. Terima kasih!" tutur Isyana sedikit tidak sopan karena buru- buru.


Isyana memang mau ujian. Isyana tidak mau terlambat karena jarak kampus lumayan jauh dan suka macet.


Pagi itu Isyana disibukan kuliah dan ujian. Padahal di rumah tuan Aksa ada acara besar untuk peringatan selamat kematian Bu Tiara. Isyana tidak datang.


****


Malam tiba.


Sesuai prediksi Isyana. Putri kesal saat Tuan Aksa menunjukan komiknya.


"Ini buku apa Daddy? Kenapa ada orang rambutnya warna warni dan naik ke atas?" tanya Putri jengkel.


"Gleg" Tuan Aksa tersinggung mau tidak mau mengeluarkan buku yang Isyana beli.


"Daddy juga bawa ini Sayang!" tutur Tuan Aksa.


"Wuaah. Putri suka! Bacakan Daad!" seru Putri girang.


Sayangnya saat membacakan, menurut Tuan Aksa membosankan sehingga Tuan Aksa cerita asal. Sampai ke Putri juga tidak enak mendengarnya. Putri ngambek lagi. Bahkan Putri ngambek sampai pagi. Sebab Daddynya selalu tak bisa mengerti maunya.


"Oke Daddy minta maaf, kamu mau pakai baju yang mana?" tanya Tuan Aksa ke Putri.

__ADS_1


Bahkan memilih baju Putri saja Tuan Aksa membuat kesalahan dan membuat Putri marah.


"Daddy benar- benar payah. Daddy tidak sepelti Mommy dan Tante Isyana. Huh. Puteli mau sama Mbak Nik aja!" ucap Putri ngambek dan mulai tantrum lagi.


Sayangnya Tuan Aksa tahu kalau Mbak Nik tadi pamit ikut belanja bersama ART yang lain.


"Mbak Nik nggak di rumah Sayang," tutur Tuan Aksa.


"Ya sudah. Puteli mau di kamal ajaa.! Puteli nggak mau kelual!"


"Haiish nggak boleh gitu dong. Kan nanti banyak tamu. Banyak teman- teman dari panti juga yang doain Mommy. Masa nggak mau nyapa?" tanya tuan Aksa merayu.


"Pueteli beldoa dali kamal. Puteli malu Daddy nggak bisa sisili Puteli!" protes Putrj ke Dadynya.


Tuan Aksa memijat keningnya. Kenapa baru sadar anaknya rewel sangat. Selama ini kan Tuan Aksa sibuk kerja dan sibuk merawat Bu Tiara.


Thiing.Tuan Aksa pun ingat Isyana.


"Nanti malam katanya Tante Isyana mau ke sini lho!" pancing Tuan Aksa merayu.


"Benalkah Dad?" tanya Putri.


"Ya sepertinya begitu!" jawab Tuan Aksa ingat kemarin sudah undang Isyana.


"Yeeey. Puteli senang!" sorak Puteri langsung ceria.


"Ya sudah jangan ngambek ya. Pilih bajunya, Puteri temani Daddy. Kita sapa teman- teman yang doain Mommya ya!"


"Ya Dad," jawab Putri sedrastis itu sembuh ngambeknya hanya dijanjikan Isyana mau datang.


"Daddy nggak bisa sisirin rambut kamu. Pakai kerudung saja ya!" tawar Tuan Aksa mentok.


Rambut Puteri panjang dan lebat. Tuan Aksa tidak pandai kasih pita ke Puteri seperti yang dilakukan Isyana, Bu Tiara atau ART nya si Ninik


Puteri pun mengangguk dan setuju.

__ADS_1


Malam itu, Tuan Aksa dan Puteri pun menunggu Isyana datang.


****


Isyana tahu kalau malam ada Tuan Aksa. Sepulang kuliah Isyana memilih iseng dengan Dina bikin video untuk di upload di youtube.


Selain itu Isyana merampungkan membaca buku tentang pertanian. Isyana ingin ajak Dia jadi pegawainya jual tanaman hias lagi. Tapi Isyana mau matangin dulu.


Saking senangnya beraktivitas tau- tau Malam. Isyana pun siap-siap ngamen meski penghasilan sekarang semakin menyurut.


****


Di Ibukota.


"Maas... perasaan kemarin baru dari kota B kok mau ke kota B lagi sih?" omel Mika.


"Mika!" Bentak Lana mulai kesal.


"Kenapa harus nginep?" lanjut Mika berani protes meski suaminya membentak.


"Ini kerjaan Mik. Mengertilah!" jawab Lana memberikan pengertian dan mulai jengah dengan Mika yang cerewet.


"Aku ingin ikut!" ucap Mika masih ngeyel.


"Mana bisa. Kamu ini kenapa sih? Masa kerja ikut?"


"Ya aku nggak suka kamu kerja nginep- nginep!"


"Memangnya kenapa?" tanya Lana.


"Nggak tahu. Aku nggak suka aja!" jawab Mika.


"Astagah Mika. Kamu jadi istri, aku kerja buat kamu. Bisa- bisanya kamu begini. Harusnya doain aku kerjaanku lancar dapat bonus. Bukan cuma foya- foya. Dah aku berangkat!" jawab Lana beralibi dan tetap berangkat.


Mika pun terdiam, kali ini Mika tak berkutik. Insting istri memang tidak bisa dibohongi. Entah hati Mika merasa gelisah dan berat Lana bekerja dan menginap Di Kota B

__ADS_1


__ADS_2