
Tersadar.......
Ed tersadarkan dengan cepat setelah apa yang Benedict teriakan pada nya. Yang Lyra ingin kan bukan lah cincin tapi pernikahan. Bukan cincin indah yang Lyra idam - idamkan namun yang dia ingin kan hanya sebuah pernikahan. Ikatan dari sebuah cinta.
"Apa aku memang sebodoh ini? " Ed bertanya.
Entah ia bertanya pada Ben ataukan bertanya pada dirinya sendiri. Ed sudah tak tahu yang pasti saat ini ia merasa sangat bodoh.
Ben hanya menepuk pundak Ed dengan prihatin. Ia tahu rasa frustasi terhadap orang yang dicintai memang sulit namun mereka tetap harus berbaikan demi masa depan kedua nya. Ben masih melihat ada kemungkinan mereka bisa bersatu.
"Ed kadang kau harus bisa melihat wanita dari sisi mereka bukan dari pandangan kita."
"Maksudnya? " Ed tak mengerti.
"Aku tidak mengatakan aku paling tahu hati wanita tapi yang ku pelajari dari pernikahan ku begitu, dan sebagai lelaki kita harus menurunkan ego kita di hadapan istri"
Ben mulai menceritakan awal - awal kehidupan pernikahan nya dan Nissa. Ada saat ketika Nissa begitu marah terhadap Ben padahal mereka baru masuk masa tiga bulan pernikahan. Mereka hampir tidak bicara selama kurang lebih tiga hari. Nissa yang saat itu tidak tahu bahwa Ben tidak suka makanan berminyak seperti rendang menyuruh koki membantu nya memasak rendang.
Nissa suka rendang, selain penuh rempah dan minyak, Rendang adalah makanan khas negara nya. Nissa ingin menyajikan masakan khas ini pada suaminya. Saat Ben melihat hidangan ini, Ben awal nya ingin memarahi koki namun saat itu Nissa berkata koki dan dirinya memasak ini spesial. Dengan enggan Ben pun memakan rendang itu dan mengatakan enak, namun rendang itu tidak dihabiskan dari piring.
Dengan alasan kenyang Ben langsung meminta dihidangkan dessert.
"Apa makanan nya tidak enak? " Tanya Nissa.
"Tidak mungkin, rendang ini enak sekali tapi aku terlalu kenyang dan ingin segera makan dessert malam ini"
Tanpa sepengetahuan Ben, Nissa pun mendengar ucapan sesama pelayan yang memuji tuan nya bahwa tuan nya bisa memakan makanan yang bahkan tidak disukai nya demi sang istri. Dengan membawa sepiring dessert di tangan nya, Nissa meletakkan dessert itu di hadapan Ben.
"Kamu jujur nggak sih? " Tanya Nissa dengan spontan.
"Jujur? tentu saja" Ben menjawab dengan penuh percaya diri karena ia tidak pernah menyembunyikan apapun pada istri nya.
"Serius kamu jujur? "
"Iya jujur, tapi ini jujur tentang apa ya? "
"Tuh kan kamu aja nggak tahu kamu jujur atau nggak!! "
Ben mulai merasakan Nissa akan marah padanya.
__ADS_1
"Iya... iya... aku minta maaf ya"
"Kamu tau kamu salah? "
"Iya aku salah, aku minta maaf okay? "
"Coba bilang, kamu salah nya di mana?!! "
Ben seketika merasa kepala nya dihantam oleh baru besar yang menggelinding ke arah nya. Setelah Ben tidak bisa menjawab pertanyaan Nissa itu, mereka tidak berbicara selama tiga hari karena Ben yakin bahwa Nissa tidak mau diganggu. Namun di hari ke empat dengan bantuan Adel, mereka berbaikan. Saat itulah Ben tahu masalah rendang tersebut bisa lari ke segala penjuru permasalahan. Yang Nissa minta bukan perhatian yang berupa kebohongan demi kebaikan tapi kejujuran demi kebersamaan.
Nissa ingan tahu segala hal tentang Ben meski sekecil apapun itu. Jadi jika Ben berbohong meski ia tidak ingin mengecewakan Nissa, tentu saja Nissa marah. Karena lebih baik dikecewakan dengan jujur agar kedua nya bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain nya.
Mendengar cerita Ben, Ed tak bisa berhenti tertawa.
"Kalian sangat konyol" ucap Ed.
Meski sangat konyol yang terucap dari mulut Ed, sejujurnya ia cemburu. Ia juga ingin menikmati kehidupan yang indah seperti Ben.
"Bukan kah kalian juga sama? hanya karena sebuah cincin kalian bertengkar. Inti nya kita harus turunkan ego kita dan mengaku aja salah kita"
"Meski nanti ditanya seperti kau tau salah nya di mana? "
"Ya! meski marah pada akhirnya perhatian dari kita itu yang akan membuat hati mereka tenang"
"Tapi Lyra sudah dekat dengan pria lain" ucap Ed dengan lesu.
"Kau yakin Lyra seperti itu? "
"Aku tahu Lyra tidak begitu tapi perasaan ini.... Akhhhhh!!!!!! "
Ed mengacak - acak rambut nya. Frustasi dan luapan emosi ingin ia keluar kan semua ditambah dengan kurang nya tidur dan lelah yang ia alami.
Ben pun memikirkan sebuah ide. Ide nakal dan jahil yang biasa nya akan menjadi pendorong seorang mak comblang dalam perjodohan.
"Lyra akan ke rumah sakit besok Sore buat pemeriksaan, ku rasa kau harus tahu hal ini"
Wajah terkejut itu terpapar di wajah Ed.
"Pemeriksaan? Pemeriksaan apa? " Ed bertanya dengan gagap.
__ADS_1
Pikiran - pikiran menghantui kepala Ed dengan cepat, wajah nya pucat dan tubuh nya seketika kehilangan tenaga.
"Ben katakan!!! " Ed menggoyang kan tubuh Ben dengan sangat kuat.
"Aku tidak berhak mengatakan nya Ed"
Ben sengaja mengatakan itu sebagai bayaran karena telah menyuruh nya makan malam dengan Marley. Ben terlihat menikmati wajah panik Ed, entah kenapa Ben merasa sangat puas.
"Jika sesuatu terjadi pada Lyra..... "
Ed segera mencari handphone nya, tangan nya yang bergegar dalam kepanikan terus mencari handphone milik nya. Ben segera menghentikan hal itu melihat betapa frustasi nya Ed.
"Tidak separah itu, tapi butuh pemeriksaan lebih lanjut, kau bisa datang ke rumah sakit, Lyra sudah membuat janji kunjungan besok sore "
Ben memberitahukan rumah sakit dan jam kunjungan Lyra. Meski masih terlihat panik namun Ed sudah bisa lebih tenang dari pada sebelum nya.
"Lyra tidak akan mungkin berpaling dari mu, meski kecewa dia bukan wanita yang akan berpaling begitu saja dari pria yang di cintai nya"
"Aku tahu Ben... Terimakasih"
"Aku saran kan kau butuh merubah dirimu untuk besok dan jadilah lebih pantas untuk Lyra besok"
Ed menoleh ke arah standing mirror di ruangan nya. Ia terlihat kacau dan mengerikan. Jika anak mereka melihat penampilan nya mungkin saja anak nya akan menangis terkejut. Anak... entah kenapa Ed sangat menantikan jika ia dan Lyra memiliki anak.
"Ya aku terlihat mengerikan"
"Persiapkan dirimu dan pilihlah pakaian yang pantas serta bawa hadiah atau bunga untuk Lyra"
"Aku lebih ingin membawa cincin, tapi apa masih bisa memesan cincin sekarang? cincin dengan mutiara dan ukiran nama"
Ed memikirkan banyak hal yang harus disiapkan nya.
"Ben jika lamaran di lakukan di rumah sakit, ku rasa bukan hal yang buruk, bagaimana menurut mu? "
"Aku tahu kau pasti meminta bantuan ku kan? "
.
.
__ADS_1
.
#Bersambung.