Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 115 - PENENTUAN


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa untuk memberikan dukungan lain nya kepada novel author yang lain dengan judul "Cinta Ku Mafia Ku" dan "Pertemuan"...


...*...


...*...


...*...


...*...


Waktu menunjukkan pukul dua siang. Ben dan Nissa menunggu kedatangan Andhika bersama kuasa hukum nya. Mereka sudah berada di depan pengadilan sejak setengah jam yang lalu. Nissa berpakaian sangat rapi begitu juga Ben yang selalu bersama nya.


"Kamu deg - degan?" Tanya Ben kepada Nissa.


.


.


.



.


.


.


"Tentu Saja, ibu mana yang tidak deg - degan saat berebut hak asuh anak nya!!"


Ben memandangi Nissa dengan tatapan yang sangat dalam.


"Apa kamu sudah bicara pada Adel?"


"Aku belum sempat bicara padanya, Adel bahkan demam sejak tadi pagi, Aku tidak tega berbicara padanya"


Nissa begitu panik pagi tadi, ketika memeriksa keadaan Adel yang tak kunjung turun untuk sarapan. Demam nya begitu tinggi hingga mencapai 39° Celcius. Adel sejak kecil jarang mengalami demam, itu juga lah yang membuat Nissa begitu khawatir melihat Adel demam pagi ini.


"Kamu benar, kita bicarakan ini nanti setelah semuanya selesai, hari ini adalah keputusan terakhir....."


Nissa menatap suami nya lekat - lekat dan begitu dalam. Ada hal yang mengganjal hati Ben sejak tadi, dan Nissa bisa merasakan nya dengan perasaan yang ia miliki.


"Ben, kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak....tidak ada...."


"Benedict, kita ini sudah lama menjadi suami istri, Aku tahu kamu sedang berbohong, katakan lah Ben..."


"Aku....Aku hanya takut keputusan yang kita buat untuk Adel kali ini akan membuat nya kecewa..."


Dalam perkara perceraian, timbul akibat hukum setelah kedua orag tua bercerai, salah satunya adalah mengenai siapa yang berhak memelihara atau mengasuh anak tersebut setelah keduanya bercerai. Tak jarang keputusan seperti ini dibuat dengan tidak memperhatikan perasaan anak.


Yang Ben takutkan hanyalah, ia takut mengabaikan perasaan Adel. Karena dalam hati kecil nya, Ben tahu bahwa Adel begitu kecewa atas perpisahan orang tuanya. Karena Nissa merasa belum saat nya bercerita kebenaran dari masa lalu nya, Yang bisa Adel pikirkan hanya lah betapa egois nya kedua orang tua nya.


Ben bahkan mendengar sendiri Adel bertanya kepada dirinya.....


Suatu sore di musim semi.........


Ben dan sekeluarga sedang piknik di ladang bunga. Harumnya bunga lavender berterbangan dibawa oleh angin musim semi. Nissa sibuk menjaga anak - anak serta memberikan mereka makan.


Ben sibuk mengajari Adel menggambar pemandangan dengan alat lukis nya.


"Papa!! Apa musim semi memang seindah ini?" Tanya Adel, tangan nya terus bergerak mengayunkan kuas nya.


"Ini bukan pertama kali nya bagimu menikmati musim semi kan? Apa musim semi baru terasa indah bagimu?"


"Habis nya....setiap musim semi papa selalu sibuk, kita hanya bisa piknik saat musim panas, setiap ada acara sekolah di musim semi, hanya mama saja yang datang....sedangkan teman Adel selalu membawa papa nya...."


"Maaf, saat bulan - bulan musim semi papa selalu sibuk, karena itu....mulai sekarang jika Adel bicara pada papa dan ingin liburan bersama, papa akan usahakan untuk Adel ya"


"Yeaaay terimakasih papa!!"


Saat itulah sebuah keluarga melewati mereka. Seorang Ayah yang membawa anak nya bermain layangan melewati Adel dan Ben saat itu.


"Papa, Apa mama pernah bicara kepada papa kenapa mama tidak mau bercerita mengenai perpisahan nya dengan Daddy?"


"......."


Ben tahu betapa pengertian nya Adel sejak kecil, ini juga lah yang membuat Adel selalu merasa kesepian. Adel selalu menjaga perasaan orang lain ketimbang perasaan nya sendiri.


"Kenapa Mama dan Daddy harus menikah? Apa mereka dulu tidak saling mencintai? Lalu kenapa Adel harus lahir jika mereka tidak mau saling bersama?"


Nada sedih dari suara Adel membuat hati Ben sakit. Ben tahu rasanya mengharapkan rasa kasih sayang. Itulah yang ia rasakan dulu terhadap Ayah nya. Namun Adel berbeda, disini ada ia yang sayang pada Adel serta Nissa yang akan selalu berkorban untuk Adel.


"Adel....kamu jangan bicara seperti itu di depan mama ya sayang"


"Kenapa? Mama bahkan tidak mau cerita sama sekali"

__ADS_1


"Begini....Ada hal yang sulit untuk dimengerti anak seusia kamu jadinya mama merahasiakan ini dari kamu dulu, Apapun yang terjadi Mama kamu adalah orang yang akan selalu menyayangi kamu dan rela berkorban apa saja demi kamu, kamu tahu kan?"


Adel terdiam beberapa saat dan hanya mengangguk. Setidaknya Adel bersyukur bahwa masih banyak orang yang sayang padanya, meski ia begitu penasaran akan rahasia kelahiran nya.


"Baik papa, karena Adel sayang sekali sama papa dan mama, Adel tidak akan menanyakan nya lagi"


.


.


.


Sejak saat itu, Ben yakin bahwa Adel tidak akan menanyakan lagi hal tersebut. Namun saat Adel menangis dihadapan nya tadi malam, Ben baru tahu bahwa hal itu masih mengusik Adel secara diam - diam. Meski Adel adalah anak yang baik dan pengertian, Adel tetaplah anak kecil yang memiliki rasa penasaran terhadap dirinya.


"Adel itu anak yang selalu memendam perasaan nya, aku takut Adel terlalu menyembunyikan perasaan nya karena memikirkan kita"


"Ben, Aku yang melahirkan Adel....Aku tahu keputusan kali ini mungkin sedikit egois, tapi ini yang terbaik untuk nya"


"Good Evening, Mr. Silver" Ucap kuasa hukum Andhika.


Andhika membawa setidaknya sepuluh orang kuasa hukum di sampingnya.


"Kalian begitu tidak tepat waktu ya, benar kan Andhika Wijaya?" Jawab Ben.


Kuasa hukum Ben berdiri dengan bangga di samping Ben dan Nissa. Setidaknya ia harus menyiapkan kuasa hukum dua kali lipat lebih banyak dari yang Andhika bawa.


"Hari ini adalah penentuan nya, Aku akan memberikan mu kesempatan terakhir untuk merubah pemikiran mu, sebelum kalian menyesal nanti nya"


"Yang menyesal itu bukan kami, tapi kau yang akan menyesali semua nya"


Ben menantang perkataan Andhika dengan berani. Andhika hanya mengernyitkan dahi nya mendengar jawaban Ben.


"Ayo sayang! Kita masuk ke dalam!!" Ben merangkul Nissa dan masuk ke dalam ruang pengadilan.


Setelah duduk dan menunggu beberapa saat, hakim beserta jaksa yang bertugas memasuki ruang pengadilan. Semua pihak memberikan hormat kepada hakim.


"Hari ini kita akan memulai pembacaan keputusan dari hasil mediasi dan 9 kali sidang yang telah diwakilkan oleh kuasa hukum penggugat dan tergugat. Apa pihak Penggugat dan Tergugat sudah hadir semua?"


"Sudah yang mulia" Jawab semua nya.


-Bersambung-


..."Menjadi Jahat disaat pernah menjadi baik sangat lah mudah, tapi menjadi baik setelah menjadi jahat begitu sulit, Karena kepercayaan orang disekeliling mu menyulitkan perubahan mu"...

__ADS_1


__ADS_2