
Ed terdiam membatu. Banner yang hancur itu menjadi ******* dari lamaran nya yang gagal. Semua rencana indah dan kata - kata yang Ed siapkan sejak semalam menjadi hilang layaknya asap putih di udara.
"Ed!! Ed!! "
Ed tak menghiraukan panggilan Lyra sejak tadi.
"Lamaran nya gagal" Ucapan Ben semakin memperjelas kacau nya semua rencana itu.
Kelopak mawar yang berserakan dan balon - balon yang sudah habis di ambil anak - anak serta banner yang kacau. Semua nya kacau bahkan dirinya pun merasa kacau.
"Apa hanya ini saja yang bisa kamu siapkan? " Tanya Lyra kepada Ed.
Ed masih merasa kacau namun ia segera bangkit dan menyadarkan dirinya. Sekali lagi dia perpegang pada takdir dan mulai berbicara.
"Seperti yang kamu lihat, lamaran yang ku kira akan romantis dengan meminjam lantai bawah rumah sakit ini telah hancur tapi masih ada tiga hal yang belum hancur"
"..... "
"Apa kamu tidak ingin tahu? " Ed mencoba membuat Lyra menjawab nya.
"Apa itu? " Tanya Lyra akhirnya.
"Satu adalah sebuket bunga ini" Ed menunjukkan kepada Lyra buket bunga itu dan menyerahkan nya pada Lyra.
"Kedua, Cincin lamaran ini dan terakhir pasti nya adalah hatiku yang tidak pernah hancur mencintai mu Lyra"
Ed sudah mengatakan nya, meski semua ucapan nya bukan lah ucapan yang ia telah ia siapkan sejak semalaman namun ucapan ini adalah ketulusannya pada kekasihnya ini.
Lyra tak merespon ucapan Ed dan terus diam memperhatikan Ed sejak tadi.
"Apa itu saja yang ingin kamu katakan? "
Ed merasakan tatapan dan lirikan Lyra ke arah cincin tersebut dan Ed baru menyadari nya lalu...
"Menikah lah dengan ku Lyr!!! " Ed membuka kotak cincin itu dan memakainya ke jari Lyra.
"Seharusnya kamu paham tanpa perlu aku ucapkan" protes Lyra kepada Ed.
Ed hanya bisa tersenyum canggung mendengar hal itu.
"Apa kau tahu kenapa aku disini? " Tanya Lyra kemudian.
"Pemeriksaan, apa parah? apa yang terjadi pada kamu? "
Ed baru sadar bahwa Lyra sudah melakukan pemeriksaan. Hati nya terlalu kalut untuk memikirkan kemungkinan waktu mereka mungkin saja tidak akan lama untuk bersama sehingga Ed ingin segera bersama Lyra sehidup semati.
__ADS_1
"Tidak parah, tapi mungkin akan sulit untuk beberapa bulan ke depan"
"Apa?!!! umur mu hanya sisa beberapa bulan?!! "
Rasa panik menghampiri Ed.
Ben hanya bisa mengatakan bahwa Ed itu sangat bodoh. Namun Nissa segera mencubit perut Ben agar tidak mengganggu momen sepasang kekasih itu.
"Kamu akan segera jadi Ayah, apa kamu siap? Jika kamu siap mari kita segera menikah, tapi jika tidak... aku siap menjaga anak ini sendiri apalagi kamu dan Marley.... "
Ed terkejut selain ia kaget akan menjadi Ayah, hal lain yang membuat ia kaget adalah bahwa kesalah pahaman masalah Marley belum selesai sama sekali.
"Lyr sebelum nya biar ku jelaskan sekali lagi, tidak ada yang lain selain kamu, saat ini dan seterusnya hanya ada kamu"
Ed mulai menceritakan semua yang terjadi. Hubungan nya dengan Marley. Bagaimana mereka memiliki kesepakatan satu sama lain. Terkait barang yang ingin Ed dapat dari wanita itu. Ed menceritakan segala nya tanpa kurang tanpa kehilangan detail sedikit pun.
"Gila" Hanya itu yang bisa Lyra ucap kan.
"Aku memang gila, jika menyangkut kamu aku akan gila, kamu juga punya si johanna atau Joanna itu kan? Sebaiknya urungkan niat mu karena kamu dan anak ku hanya akan bersama ku"
Lyra baru kali ini melihat Ed bisa mengatakan semua nya dengan keren dan berani. Namun semua itu bisa dilihat bahwa Ed tulus dengan semua yang di katakan nya.
"Baiklah jika kamu memang siap, ayo kita menikah Ed"
"Benarkah?! "
Rasa senang dan bahagia itu membuat Ed mengangkat tubuh Lyra tinggi - tinggi. Namun yang lebih bahagia adalah Lyra karena Lyra tak bisa berhenti tertawa dengan keras.
DIA TERTAWA
Itulah yang Ed pikirkan.
.
.
.
Pernikahan Ed dan Lyra akan di adakan tiga minggu kemudian di atas kapal pesiar milik keluarga mereka. Awal nya Ed menolak usulan itu mengingat Lyra sedang hamil. Namun akhirnya Ed pun mengalah lantaran Lyra merasa bahwa tubuh nya bisa bertahan dan ia sangat menanti - nanti pernikahan di atas sebuah kapal pesiar mewah.
"Sudah lama tidak naik kapal pesiar, aku tidak sabar untuk datang ke acara mereka" ujar Nissa.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Aku hanya bisa bilang kamu harus jaga kesehatan, selain ikut desain acara itu kamu kenapa nyanggupin buat ngurus pengantin dalam ngurus pernikahan? "
__ADS_1
Ben tak mau Nissa kesusahan dan kelelahan, lebih dari itu waktu kebersamaan nya dan Nissa pasti akan terganggu oleh banyak nya jadwal persiapan pernikahan Ed dan Lyra.
"Aku kasihan sama Lyra, dia nggak punya teman udah gitu, dia kan belum pengalaman ngurusin pernikahan begini, aku yang lebih pengalaman kan harus bisa membantu"
"Jika kamu senang aku bisa apa"
Ben hanya pasrah mendengar jawaban Nissa.
"Tenang saja, aku janji nggak akan mengecewakan kamu sama sekali dan pasti akan selalu ngurus kamu dan anak - anak"
"Baik lah Istri ku"
.
.
.
.
.
.
Ben hendak tidur namun ia tak melihat kehadiran istri nya di kamar tidur mereka. Nissa selalu berada di kamar tidur mereka jika sudah waktu nya jam tidur jika tidak, Nissa pasti ada dalam kamar anak - anak. Ben segera menuju ke kamar Collin dan si kembar.
Dengan perlahan Ben membuka pintu namun tak ada sedikit pun jejak Nissa disana. Ben mencari ke dapur dan ruang keluarga juga tak menemukan keberadaan istri nya itu. Ben lalu mencari ke ruang kerja Nissa. Dan disana lah istri nya berada.
"Apa yang kamu lakukan malam - malam begini? "
Nissa kaget melihat Ben yang tiba - tiba masuk ke ruangan nya tanpa mengetuk pintu.
"Aku menyiapkan desain dan beberapa WO yang bisa kita gunakan untuk membantu persiapan resepsi Lyra"
"Tidak bisa kah besok saja kita membahas ini? "
"Kalau besok ada anak - anak akan lebih susah, sekarang mumpung mereka masih tidur aku kerjakan ini"
"Tapi aku lebih suka kamu istirahat bersama ku dulu malam ini"
Nissa hanya diam dan asyik memiliki koleksi gaun maupun dekorasi yang indah itu. Ben suka istri nya bekerja dengan usaha nya begini tetapi Ben yakin kedua orang yang akan menikah itu jam segini pasti sudah tidur dengan nyenyak. Ben terkadang ingin istri nya hanya jadi milik nya namun permintaan itu pasti akan sangat egois untuk Nissa Terima dan Ben hanya bisa sedikit menggunakan trik yang ia punya.
.
.
__ADS_1
.
#bersambung