Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
Tamat.


__ADS_3

Bumi terus berputar, roda kehidupan terus berjalan, hari terus berganti, hingga tidak terasa, 4 bulan berlalu. Semua berjalan baik. Binar masih terus mengembangkan perusahaanya. Walau dia yang memimpin Suntech, dia memegang perusahaan yang paling muda untuk dia kembangkan agar besar seperti perusahaan tua yang lain. 


Arbi yang sudah berpengalaman mendampingi Lana amanah menjalankan tugasnya. Saka sudah menikah dan sekarang mereka bisa jadi sahabat yang nyambung ketika mengobrol dengan Binar. 


Lana dan Binar pun akur menjadi rekanan bisnis, Lana  memegang perusahaan Amanda. Selama menjadi istri Lana, Amanda tegas meminta Lana rutin meminum obat, Lana jadi terkendali. Amanda dan ayahnya juga mengancam kalau sampai Lana menyakitinya Lana harus meninggalkan rumah. 


Bu Mutia sendiri menjadi penggiat sosial di bawah yayasan Bu Dini. Tuan Wira dijatuhi hukuman seumur hidup. Dan semua harta Tuan Wira disita pemerintah. 


Lana juga tidak bisa mencairkan uang sesukanya, semua pengeluaran Lana sepengetahuan Amanda. Bahkan untuk membayar hutang ke Binar Lana mencicil dan menabung dari sebagian gajinya. 


Sesuai prediksi Lana, Amanda hamil saat ini usianya sudah masuk ke 11 minggu. Amanda mengalami hiperemesis yang parah. Mau tidak mau dia stay di rumah, bahkan beberapa kali Lana juga harus meninggalkan kantor. 


“Hoeeek...,” tepat saat Amanda hendak mengantar Lana kerja, di depan pintu, Amanda mual dan muntah di telapak tangan Lana juga kemejanya. 


“Haiish...,” desis Lana jijik dan menahan rasa ingin muntah juga sembari mengibaskan tanganya 


Melihat ekspresi Lana, Amanda langsung cemberut dan marah. 


“Kok kamu gitu sih?” omel Amanda. 


“Gitu gimana?” jawab Lana gelagapan karena Amanda menatapnya dengan mata melotot. 


“Kamu kesal aku muntah? Kamu jijik sama muntahan aku? Tahu nggak kamu? Aku pusing mual lemes gini gara- gara kamu!” omel Manda berani ke Lana. 


“I-iya, Sayang... iya, aku nggak jijik!” jawab Lana mendadak menjadi suami yang takut istri. 


Amanda kembali mengerutkan keningnya dan kemudian keluar air matanya.


“Hiks... hiks... Baby, you look your Daddy, dia sangat jahat!” ucap Amanda merajuk. 


“No.... No....,” Lana langsung ketakutan dan meletakan tasnya merengkuh Amanda. “Aku nggak jahat, Amanda, aku nggak jijik, kemon, apa yang kamu rasakan? Kamu ingin apa?” rayu Lana agar istri sekaligus bosnya itu tidak marah. 


“Kepalaku pusing! Mulutku pahit,dan perutku tidak enak, aku lemas sekali,” rengek Amanda manja. 


Lana menelan ludahnya berfikir agar dia lolos dari omelan. 


“Oke... aku pijit ya!” ucap Lana langsung berinisiatif menggendong Amanda dan menidurkanya di sofa. 


Amanda tidak seperti Isyana yang bertubuh seperti layaknya perempuan lokal yang tingginya 154an cm. Amanda berbadan tinggi seperti model melebihi Mika, bahkan tinggi Amika berkisar 170an cm sehingga Lana langsung keringetan membopong Amanda. 


“Aku pijit ya...!” 


“Ya....,” 


“Tapi aku ganti kemeja dulu, ini kotor soalnya!” ucap Lana lagi. 


“Cepat!” 


“Ya!” jawab Lana patuh, Lana kemudian berjalan menuju kamar mereka. 


“Tunggu!” panggil Amanda menghentikan Lana. 


“Gleg!” Lana mengusap tengkuknya dan menelan ludahnya, seperti yang sudah- sudah, Amanda pasti akan menyuruh Lana melakukan sesuatu lagi. Dengan gerakan perlahan dan malas Lana menoleh ke Amanda, 


“Apa Sayang?” 


“Belikan aku rujak!!” 


Benar kan Amanda pasti meminta sesuatu. 


“Oke... kamu ingin rujak apa?” 


“Aku ingin beli rujak di dekat kampusnya Isyana, tukang rujak yang mangkal di depan toko alat tulis, yang pedangangnya mamahng ganteng. Isinya kedondong dan mangga aja, jangan kasih jambu jangan kasih begkoang, boleh kasih mangga kalau mangganya warnanya masih putih dan keras. Sambelnya jangan ada kacangnya, gula sama cabe aja, cabenya harus yang merah, minta cabenya 2, lebih setengah!” ucap Amanda banyak dengan cepat. 


“Hhh....,” Lana hanya menghela nafasnya bingung. 


“Paham nggak? Ingat lho!” ucap Amanda membentak lagi. 


“Ya... terus ini jadinya mijit kepala kamu yang pusing atau beli rujak?” tanya Lana. 


“Pijit dulu 30 menit kan ini masih pagi!” jawab Amanda lagi. 


Lana pun menelan ludahnya menahan kesal, kalau mintanya nanti kenapa nggak mintanya pas mijit. 


“Ya, Oke! Aku ganti baju dulu, dan telpon orang kantor kalau aku ijin telat. Catet semua pesanan kamu!” 


“Ngapain dicatat, malas. Kamu aja yang ingat- ingat!” omel Amanda lagi rewel. 


“Yayaya. Ya udah aku mau ganti!” jawab Lana singkat ingin segera kabur. 


“Jangan lama- lama gantinya!” 


“Ya!”


Lana pun berjalan dengan cepat ke kamarnya, sesampainya di kamar Lana langsung menjatuhkan dirinya duduk di lantai. 


“Haduh... kenapa merepotkan sekali?” gumam Lana melepas kemejanya tidak jadi bekerja. “Perasaan Isyana tidak secerewet dan serewel Amanda. Ah... senang sekali kamu Binar?” gumam Lana bermalas- malasan dan berlama- lama di ruang ganti. 


**** 


“Theng... theengg...,” 


Bel apel pagi di sebuah rutan tahanan berbunyi menandakan para penghuninya berkumpul untuk apel pagi untuk kerja bakti bersih- bersih lingkungan, pembinaan, doa bersama dan sarapan. 

__ADS_1


Salah satu tahanan cantik dengan rambut lurus oren diikat seperti ekor kuda berjalan sendiri memisahkan diri dari tahanan ibu- ibu yang lain. Mika sebagai tahanan muda dan cantik menjadi pemimpin barisan dari tahanan lain. 


“Semuanya... siap grak!” ucap Mika menyiapkan pasukan tahananya. “Lurusan barisan grak!” 


“Lurus!” jawab tahanan di bawah pimpinan Mika. 


“Istirahat di tempat grak!” ucap Mika lagi, lalu barisan Mika mengambil posisi istirahat. 


Di rumah tahanan itu setiap sebulan sekali, ada kunjungan pembinaan rohani dan juga pembekalan ketrampilan oleh lembaga peduli dan pemberdaya perempuan tahanan. 


Satu bulan perama Mika menjadi tahanan dia cukup down, menolak bahkan sempat sakit. tapi ayah kandungnya dan ibu tirinya terus menjenguknya dan menyadarkan Mika. Mika kini menjadi tahanan berkelakuan baik dan ditunjuk jadi pemimpin. 


Dia pun mendengarkan arahan dari pengurus tahanan. Kalau hari ini akan ada pembinaan dan setelah sarapan mereka harus tertib berkumpul dan belajar. 


Sekitar 20 menit pengarahan selesai. Pasukan dibubarkan dan para tahanan dipersilahkan sarapan. 


“Nyonya Mika...,” panggil salah satu Polisi yang bertugas sebagai Polsuspas mendekati Mika yang sedang makan di pojokan. 


“Ehm...,” dehem Mika merasa tidak nyaman. 


“Boleh aku temani makan?” tanya polisi itu, bernama Andri. 


“Silahkan Pak!” jawab Mika sopan. 


Karena Mika cantik ternyata beberapa sipir penjara naksir Mika, dan Mika cukup akrab dengan Polisi yang bernama Andri itu. Bahkan tahanan lain juga tahu, dan pagi itupun mereka sarapan bersama juga mengajak Mika ngobrol tentang kehidupanya dan masalalunya. 


Diam- diam ternyata Andri itu, juga duda yang diselingkuhi istrinya. Mereka pun jadi nyambung bercerita. 


**** 


Di tempat lain. 


“Hayuyu...,” 


“Ehek..ehek xixi..,” 


Putri sangat senang setiap pagi sebelum sekolah membercandai adiknya. Baby Bian yang full ASI tumbuh sehat dan menggemaskan. Bahkan badanya melebihi gembul bayi yang lahir dengan berat normal, berat Baby Bian sekarang mencapai 7 kg. Pipinya gembul dan pahanya berlipat- lipat. 


Walau belum bisa bicara dan menjawab, Bian selalu jingkrak jingkrak dan tergelak tertawa acak jika Putri membercandainya, memeluknya atau menciumnya. 


Berbeda dengan saat satu bulan pertama Bian di rumah badanya masih kecil dan sedikit lemas, Putri hanya menyapa lewat kaca inkubator, setelah berat badan Bian menembus 2,5kg tidurnya dikasur, Putri berani iseng pegang- pegang tangan Bian dan membangungkanya. 


Ritual rutin Putri pun mengajak Bian bermain. 


“Sudan siang, Nak. Mandi sama Sus Ani ya!” lerai Binar mengingat waktu sudah siang. 


Puteri langsung mengkerucutkan bibirnya, semakin besar semakin rewel. “Masih mau main sama adik, Dad!” jawab Putri. 


Binar langsung mengeluarkan jurus cemberutnya. 


Putri pun menunduk menyadari maksud ayahnya, tidak baik membantah orang tua. 


“Ya...Putri mandi!” jawb Putri patuh. 


“Nanti pulang sekolah main lagi!” ucap Binar lembut memberi pengertian ke Putri. 


“Ya Dad!” jawab Putri, lalu meraih tangan Bian mengelusnya dan pamitan. “Kakak mandi dan sekolah dulu ya...” ucap Putri lembut berpamitan. 


Pengasuh Putri pun bersiap membantu Putri menyiapkan kebutuhan seklolahnya. 


Sementara Bian langsung digendong Binar dan diserahkan ke Susnya Bian yang lain. 


Isyana sendiri sejak selepas subuh saat anak- anak belum bangun pergi menyendiri ke kamar sebelah untuk belajar karena hari ini Isyana ujian akhir program di semester satu. 


Setelah anak- anak dipegang susternya masing- masing, Binar pun mendekati Isyana. Datang tanpa sepengetahuan Isyana. Binar pun membungkukan kepala mendekatkan kepala Binar di samping kepala Isyana sembari meng_endusnya. 


“Sayang...” bisik Binar. 


“Mas...,astaghfirulloh!” pekik Isyana kaget menjauhkan kepalanya. Saking fokusnya Isyana tidak mendengar langkah Binar. 


Binar pun menegakan badannya lalu bepindah duduk di meja depan Isyana dan menutup buku Isyana. 


“Nggak usah belajar terus, nanti nilainya kebagusan, kasih kesempatan teman- teman yang ngejar cita- cita buat jadi juara, kamu yang penting lulus aja!” ucap Binar enteng. 


“Ish... Mas ih sukanya gitu!” 


“Ya kamu ngapain bagus- bagus nilainya emangnya?” 


“Ya aku kan pengen kaya Mamah, meski nggak bekerja di perusahaan orang, tapi bisa aktif dan berguna, anak- anak juga bangga sama Isyana!” 


“Yaya, bisa- bisa sekarang mandi yuk!” ajak Binar mengerlingkan matanya memberi kode. 


“Jam berapa sekarang? Anak- anak udah pada bangun?” tanya Isyana. 


“Udah beres!” jawab Binar. 


“Beneran?” tanya Isyana. 


Binar mengangguk dan lansung menyodorkan wajahnya mencium Isyana. 


“Mas,” de_sah Isyana kegelian. 


“Ayuk!” ajak Binar. 

__ADS_1


Isyana melirik ke pintu, 


“Udah Mas kunci, aman!” ucap Binar. 


Binar langsung bangun dan membopong Isyana lalu menghempaskanya ke kasur. Dalam sekejap mata, Binar pun memulai ritual paginya sebelum mandi dan berangkat bekerja. 


Karena harus membagi waktu dengan yang  lain, ritual mereka lakukan dengan singkat padat pada intinya. Setelah itu mereka pun bersiap- siap bekerja dan kuliah. Begitu kembali ke kamar anak- anak, baik Putri ddan Bian sudah dimandikan suster. 


Sebelum berangkat Isyana pun seperti biasa mengAsihi Bian. Akan tetapi Bian tak seperti biasanya 20 menit sudah kenyang dan tenang. Sudah 30 menit Bian masih rewel dan seperti marah belum kenyang. 


“Duh..., Nak..kamu kenapa sih?” gumam Isyana jadi sedikit panik. 


Waktu sudah menunjukan pukul 7, Putri sudah berangkat lebih dulu bersama Dina, Isyana ujian jam 7.30 tapi Bian malah rewel. 


“Sepertinya Den Bian belum kenyang Neng,” ucap Nenek. 


“Iya Nek....seminggu ini, hasil perahan Isyana menyusut, kok gitu ya Nek?” tanya Isyana curhat ke Nenek. 


“Ya sudah buatkan susu formula dulu,” ucap Nenek. 


Binar yang menyimak langsung memanggil dan meminta bantuan Suster. Walau berniat ASI Esklusif, Isyana memang menyimpan susu formula yang dokter anjurkan untuk membantu mendongkrak penambahan BB Bian saat dirawat di rumah sakit. 


Suster pun memberikan sebotol susu dan Bian langsung lahap kemudian tidur. Isyana pun menyerahkan Bian ke susternya. 


Sejak dengar cerita Isyana nenek pun memperhatikan tubuh Isyana. 


“Kamu udah dapat mens lagi belum, Neng?” tanya Nenek. 


Isyana diam sejenak lalu menggelengkan kepala. 


“Seingat Isyana belum Nek?” 


“Usia Bian sekarang?” 


“4 bulan!” jawab Isyana. 


“Yakin?” tanya Nenek. 


Isyana diam mengingat- ingat lagi. 


“Oh iya pernah bulan lalu apa bulan kedua ya lupa, tapi Cuma kaya flek bercak merah gitu, Nek. Jadi Isyana pikir itu bukan mens!” jawab Isyana. 


“Kalian KB, nggak?” tanya nenek lagi. 


“Hoh?” pekik Isyana kaget lalu menoleh ke Binar. 


“Nggak, Nek. Kan katanya selama Isyana menyusui terus menerus KB alami Nek!” jawab Binar. 


“Hhhh...,” Nenek pun memijat pelipisnya. “Itu berlaku kalau Isyana belum mendapatkan datang bulan lagi atau kesuburanya kembali, juga kalau Isyana menyusui Bian terus menerus!” ucap Nenek ternyata juga pintar. 


Isyana gelagapan dan mendaak keringatan. Isyana lalu terdiam dan mengingat aktivitasnya. Satu bulan pertama, pasca nifas, Isyana memang membuktikan teori itu dengan test peck, begitu bulan berikutnya karena belum datang bulan, hasilnya negatif. Pas Isyana flek malah semakin senang dikiranya aman dan tetap melakukan ritualnya dengan santuy. Isyana lupa justru jika datang bulan artinya MAL ny sudah berakhir. 


Bulan ketiga kemarin Isyana memang jadwal kuliah padat juga tugasnya sehingga waktu ke Bian lebih sedikit. 


“Ehm...dehem Binar mengambil kesimpulan. “Udah nggak apa- apa. Ada susu formula ini kan? Nanti pulang kuliah kita konsul ke dokter biar ASI mu banyak lagi. Kamu stress ujian mungkin!” jawab Binar santai. 


“Sekalian periksa kandungan ya!” ucap Nenek. 


Binar kemudian garuk garuk kepalanya, tidak berani menatap Nenek. 


“Ya, Nek!” jawab Isyana. 


“Ya sudah sana berangkat. Bian sama nenek dan Sus Ida, aman!” ucap Nenek lagi. Isyana mengangguk mencium tangan Nenek dan pamitan. 


Binar memang menambah pegawainya, meski ada Nenek, nenek seperti Bu Dini hanya bertugas mengawasi. 


Seperti biasanya, Isyana kuliah diantar jemput Binar. 


“Kalau aku hamil gimana Mas?” tanya Isyana di jalan. 


“Ya baguslah” jawab Binar enteng. 


“Hoh?” pekik Isyana menoleh ke Binar. 


“Ya bener kan? Dapat rejeki harus bersyukur. 


“Tapi Bian belum enam bulan dapat ASInya?” 


“Alhamdulillah dapat 4 Bulan, banyak bayi lain nggak dapat ASI, Putri aja nggak ASI!” jawab Binar lagi. 


Disinggung soal Putri, Isyana langsung diam tidak membantah. 


Sepulang kuliah dan kerja, Binar dan Isyana langsung ke rumah sakit, ternyata benar Isyana hamil dan sekarang sudah 5 minggu usia kehamilanya. 


**** 


“Putri mau punya adik lagi?” tanya Putri kegirangan sesampainya di rumah. 


Dengan wajah merona malu, Isyan mengangguk. 


“Yeaay... yang banyak ya Mommy, tapi jangan perempuan, boy semua ya, Biar Putro jadi princess!” ucap Putri lagi. 


“Siap, Tuan Putri! Tos!” jawab Binar memberikan tanganya tos. 

__ADS_1


Mereka berdua gembira bersama dan Binar langsung menggendong Putri. 


Sementara Isyana menelan ludahnya, kemudian tersenyum. Isyana bahagia hamil lagi. Tapi juga pusing, itu artinya 8 bulan ke depan Isyana harus siap melahirkan lagi.


__ADS_2