
...Sebelum membaca novel ini, jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. 8 Episode lagi menuju tamat, terimakasih atas kesabaran kalian dalam menunggu novel ini....
...*...
...*...
...*...
Andhika membeku menatap putrinya dengan sangat dalam. Seolah ingin menutup masa lalu nya, ia tak bisa mengatakan kepada Adel bahwa ia punya andil atas perpisahan dirinya dengan Nissa. Sungguh dalam lubuk hatinya ia tak menginginkan Nissa kembali, yang ia inginkan hanyalah bersama Adel dan tidak melihat putrinya di sudut kan seperti kemarin.
"Cukup Andhika!!" Teriak seseorang.
Ketika melihat kebelakang, Nissa dan Sherly sudah berada di sana dengan wajah yang amat kesal. Ben juga berada di sana menemani Nissa.
"Andhika!! Bisakah kau..."
"Nissa bicarakan baik - baik" Ucap Ben sambil menahan Nissa.
"Ben tolong bawa pergi Adel dari sini, biarkan aku yang bicara pada Andhika"
Ben pun membawa Adel keluar dan memberikan ruang untuk mereka bicara.
"Nissa, Adel perlu tahu yang sebenarnya terjadi...."Sherly berusaha membujuk keduanya namun Nissa menolak hal itu.
"Adel masih kecil, jika tiba waktu nya aku akan bicara pada Adel tentang sebenarnya yang terjadi, ku mohon.....tapi tidak sekarang!! Adel sudah banyak terluka karena kita berdua"
Melihat tak ada lagi tempat untuk dirinya, Sherly memilih mundur dan memberikan banyak ruang untuk keduanya berbicara. Sherly pun keluar dari restoran.
Nissa dan Andhika duduk saling berhadapan. Sudah lama keduanya tak berbicara dengan baik, selama ini terlalu banyak luka, amarah dan rasa sakit di antara kedua nya, karena keegoisan mereka berdua, anak mereka harus menjadi korban.
"Bisakah kau membiarkan Adel tinggal bersama ku? Paling tidak saat Adel selesai SMA, dia boleh kembali ke Paris dan kuliah disana" Ucap Andhika dengan lembut.
Andhika tak ingin memulai pertengkaran yang sia - sia.
"Jujurlah, kenapa kau ingin membawa Adel bersama mu? Dan kenapa harus sekarang?" Tanya Nissa.
Andhika menatap serius ke arah Nissa.
"Mungkin aku memang brengsek di mata mu, tapi setidaknya aku ingin melihat anak ku tidak ditindas oleh orang lain, Dan juga Ibu ku sudah mulai sakit - sakitan, dia ingin melihat Adel lebih sering"
Nissa bisa melihat Andhika di hadapan nya saat ini tidak berbohong, namun berat bagi Nissa untuk melepas Adel apalagi ia tahu Adel tak akan mau tinggal bersama Andhika.
"Lalu apa kata Adel? Apa Adel setuju untuk ikut dengan mu?"
"Tidak, karena itu tolong lepaskan hak asuh nya, Aku akan merawat Adel dengan baik sampai ia bisa jadi anak yang mandiri, tolong bujuk Adel"
Kali ini giliran Nissa yang menatap serius ke arah Andhika. Nissa tak berfikir bahwa percakapan ini tidak didasarkan pada amarah mereka, tapi sungguh demi kepentingan anak mereka.
"Setelah bertemu Adel seperti ini, apa kau masih belum mengerti?" Tanya Nissa.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Adel itu anak yang kuat, dan teguh pendirian nya, ia yakin dengan apa yang ia yakini benar, Aku tidak bisa membujuk nya"
"Tapi bagaimana jika keputusan Adel itu salah? Aku benci melihat wajah nya yang lebam dan perkataan orang - orang tentang Adel yang memiliki ayah tiri, sedangkan ia memiliki ayah kandung nya"
Nissa masih sulit mengerti jalan pikiran orang di hadapan nya ini.
"Bukankah sama saja? Jika dia tinggal bersama mu, dia juga akan merasa kan hal yang sama, karena ia punya ibu tiri? Jika dipikir-pikir salah siapa Adel bisa seperti ini? Ini salah kita berdua! Karena keegoisan kita sebagai orang tua lah yang membuat dia tidak bisa memiliki keluarga yang utuh!!"
Andhika tersadar kembali, seolah masa lalu nya diputar ulang di dalam kepala nya. Andhika selalu merasa menyesal atas dirinya yang dulu. Tak ada cara untuk memutar waktu kembali.
*
*
*
Di luar Restoran....
"Kenapa kamu pakai pakaian tipis begini? Kamu tidak kedinginan?" Tanya Ben kepada Adel.
"Hehehe, tidak masalah....sekarang sudah hangat karena papa sudah kasih Adel syal ini"
"Apa makan malam mu menyenangkan bersama Daddy mu?"
"Mama selama ini tidak pernah bilang kenapa mama dan Daddy bisa pisah, bahkan saat Adel bertanya pada Daddy, Daddy tidak bisa jawab, sebenarnya kenapa? Adel selalu dengar dari Bentley bahwa Daddy membuang mama dan Adel, apa Papa tahu yang sebenarnya?"
Ben pun menunduk untuk menyamakan tinggi nya dengan Adel. Adel terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa, namun bukan hal yang benar untuk menutupi suatu kebenaran.
"Adel bisakah kamu tidak memikirkan hal ini? Mama dan Daddy kamu pasti akan sedih jika tahu kamu begini, Papa tidak bisa mengatakan nya karena kamu masih kecil, yang pasti mereka berpisah bukan karena tidak menginginkan Adel, paham?"
"Jadi kapan Papa akan memberitahu Adel? Mama dan Daddy pasti tidak akan mau memberitahu Adel"
"Begini saja, bagaimana jika Papa kasih kamu tantangan? Papa akan memberitahu kamu kebenaran nya jika kamu bisa mencapai cita - cita kamu"
"Cita - cita?"
"Ya, cita - cita Adel apa?"
"Adel ingin jadi penyanyi terkenal"
"Kalau begitu, sampai kamu bisa jadi penyanyi terkenal, Papa akan kasih tahu semua kebenaran nya. Sekarang Apa yang Adel inginkan adalah yang terpenting, kamu ingin tinggal bersama Papa dan Mama atau dengan Daddy?" Tanya Ben.
"Tentu dengan Papa dan Mama"
"Nah kalau begitu beres"
Prok...prokk...prokkk....
__ADS_1
"Luar biasa!! Kau bisa menenangkan anak kecil semudah itu, Seperti nya kau punya bakat menjadi ayah yang baik" Ucap Sherly.
Sejak tadi Sherly mendengar semua pembicaraan mereka berdua.
"Aku sedikit iri pada Nissa, Aku memaksakan memilih orang yang kucintai, namun akhirnya aku jadi wanita yang sama seperti wanita lainnya untuk diperlakukan kurang ajar"
"Apa Andhika menyakiti mu?"
"Yah kau tau sendiri tempramen Andhika bagaimana, tapi tenang saja....Aku Sherly, Jika aku jatuh hanya karena hal ini, Aku tidak pantas jadi istri nya"
*
*
*
Di Villa....
Jam menunjukkan tengah malam, Nissa dan Ben segera menuju ke Villa mereka untuk beristirahat. Adel pun untuk malam ini akan menginap bersama mereka.
"Adel dimana?" Tanya Nissa.
"Dia kelelahan, sudah tidur sejak sampai di kamar"
Nissa menghampiri Ben dan memeluk Ben, Nissa menyandarkan tubuhnya pada dekapan Ben yang hangat dan kokoh.
"Bagaimana pembicaraan mu dengan Andhika?" Tanya Ben.
.
.
.
.
.
.
"Ya, kami sudah saling sepakat, besok kami akan berdiskusi bersama pengacara kami, meski berat aku harus menerima ini, iya kan?"
"Nissa jangan bilang?...."
-bersambung-
"Orang tua selalu mengambil andil dalam kehidupan anak, termasuk perpisahan mereka"
__ADS_1