Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 149 - NISSA YANG POLOS (1)


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote,...


...hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel...


...ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan...


...judul "PERTEMUAN", "TAKDIR", dan "CINTA KU MAFIA KU" "AKHIRNYA ISTRI KU PERGI"...


...Tolong hargai penulis dengan menunjukan dukungan kalian....


.............


.......


.......


Bangku Nissa dan Ben telah disiapkan, sebuah bangku besar layaknya singgasana raja yang mewah dan tempat duduk itu dibatasi oleh kain tebal bewarna merah marun di kanan dan kiri nya.


"Silahkan Tuan dan Nyonya" Ucap pelayan itu dengan bahasa Prancis.


Ben menggandeng Nissa dan menuntun istri nya duduk di kursi itu.


"Di mana penonton VVIP yang lain?" Tanya Nissa.


"Tepat di sebelah kita, kalau kamu buka kain di sebelah kanan kamu, bisa kamu lihat orang lain di sana"


"Benarkah?" Nissa penasaran dan hendak menyentuh kain itu namun Ben segera mengambil tangan Nissa.


"Tentu jika kamu mau mereka malu, silahkan buka"


Perkataan Ben membingungkan, Tapi Nissa masih tak mengerti sebenarnya di mana letak masalah nya jika ia ingin membuka kain tersebut. Menonton berdua saja pertunjukan opera seperti ini, di tempat seperti ini, Tidak lah terasa real bagi nya.


Pembatas di balkon cukup rendah, sehingga meski duduk mereka bisa melihat dari bawah semua pertunjukan itu. Lampu sorot pun mulai hidup dan semua lampu - lampu di sudut ruangan mulai di matikan.


"Pertunjukan nya akan di mulai" Nissa tanpa sadar menggenggam tangan Ben karena terlalu senang.


Sangkin senang nya Nissa jari nya yang menggenggam Ben tak sadar bahwa sedang membangunkan seorang singa yang sedang tidur. Singa itu terus menatap wanita nya dengan panas membara sejak tadi. Ia terus menahan diri nya sejak melihat Nissa membubuhkan lipstik di bibir kesukaan nya itu. Bibir wanita milik nya, bibir Nissa.


"Waah Marley Edenbert sangat cantik, suara nya juga" Nissa terus saja mengoceh betapa indah suara wanita itu.


Benarkah? Bagi ku suara mu yang tertawa dengan bahagia itu lebih indah untuk di dengar....aku bisa mendengar nya ratusan kali atau mungkin ribuan kali tanpa bosan.


lagu selanjutnya pun mulai diputar dan Marley masuk dengan gaun yang indah dari pada sebelum nya.


(Marley As Christine)


🎢


Think of me,


Think of me fondly when we've said goodbye,


Remember me once in a while


Please promise me you'll try.


🎢

__ADS_1


When you find,


That once again you long to take your heart back and be free


If you ever find a moment,


Spare a thought for me


We never said our love was evergreen


Or as unchanging as the sea


But if you can still remember


Stop and think of me


🎢


Think of all the things we shared and seen


Don't think about the way things might have been


Think of me,


Think of me waking, silent and resigned.


Imagine me,


Trying too hard to put you from my mind.


Recall those days


Of the things we'd never do


There will never be a day


I won't think of you


🎢


(Samuel Conbert As Raoul)


Can it be?


Can it be Christine?


Bravo!


Long ago, it seems so long ago


How young and innocent we were


She may not remember me, but I remember


🎡


(Marley AsChristine)

__ADS_1


Flowers fade, the fruits of summer fade


They have their season, so do we


But please promise me that sometimes,


You will think of me!


🎢🎢🎢


Suara nyanyian melengking milik Marley menjadi penutup yang indah bagi pertunjukan itu. Meski pertunjukan belum berakhir namun semua nya sudah tersihir seolah telah merasakan semua alur cerita yang ada.


"Apa kamu dengar sayang? Bagus banget kan suara nya? Adel juga ingin sekali jadi penyanyi, aku juga ingin Adel bisa nyanyi seperti Marley"


"Ya, Pasti akan bagus sekali jika Adel bisa belajar menyanyi"


"Sayang bagaimana ini? Aku sungguh menyukai Marley, entahlah aku suka Marley ataupun Christine, Tapi aku sangat suka pertunjukan ini"


Ben hanya menikmati ocehan istri nya. Ben kadang mendengar percakapan para karyawan nya ataupun percakapan teman - teman nya yang sudah menikah. Mereka kebanyakan berkata bahwa istri mereka yang dulu nya tidak banyak bicara saat pacaran menjadi sangat cerewet setelah menikah. Bahkan Omelan dan ocehan istri nya bagaikan suara terompet yang memekakkan telinga.


Ben sering mendengar itu dan mulai melihat istri nya. Nissa dulu memang jarang bicara pada nya sebelum mereka menikah apalagi awal hubungan mereka saat Ben membawa nya ke Paris. Namun hal itu wajar karena Nissa belum mengenal diri nya. Dan kini setelah menikah Nissa mulai banyak bicara dan cerewet pada nya serta ocehan dan Omelan nya. Semua nya Nissa tujukan pada nya karena Nissa sayang pada nya.


Aku heran kenapa para pria membenci Omelan dan ocehan istri mereka, padahal jika semua Omelan mereka itu demi kebaikan kita dan karena sayang pada kita kenapa mereka membenci nya? Mereka harus nya lebih bersyukur bahwa istri mereka masih mencintainya dengan sepenuh hati.


Nissa sering marah jika Ben pilih - pilih makanan. Tapi Ben suka dimarahi Nissa karena Nissa sayang padanya. Bahkan kini saat Nissa mengoceh menyukai Marley.


Mau itu Marley atau Marliy aku tidak perduli, aku hanya menyukai mu Nissa.


Suara musik pun mengalun lebih tenang dan pertunjukan masih tetap berjalan namun dari samping kiri tempat duduk Ben terdengar bunyi keras dan sedikit heboh. Bisa dipastikan itu berasal dari penonton di bangku sebelah.


"Seperti nya mereka melakukan nya dengan berlebihan" ucap Ben tiba - tiba.


Ucapan itu terdengar oleh Nissa dan Nissa menoleh dengan heran.


"Sama sekali tidak berlebihan kok Ben, Aku melihat pertunjukan ini sudah sangat sempurna, apa nya yang berlebihan? Panggung? Kostum? atau Pemain Figuran?"


Nissa tak paham maksud dari perkataan Ben dan Ben hanya tersenyum manis mendengar ucapan Nissa. Senyuman Ben yang membuat kedua bola mata nya tenggelam itu menandakan Ben tak ingin komentar lebih jauh lagi.


Dari sebrang balkon satu persatu kursi penonton mulai menurunkan tirai mereka sehingga tempat duduk mereka tertutup.


"Sayang, udah selesai ya pertunjukan nya?" Tanya Nissa heran.


Nissa mulai melirik ke sekeliling dan melihat semua penonton di atas juga sama seperti mereka yang berada di lantai dua.


"Tentu saja pertunjukan nya belum berakhir, mari kita lanjutkan lagi ya"


"Tapi aneh, bagaimana mereka menonton Marley jika tirai nya mereka tutup"


Ben tidak tahan melihat Nissa yang masih saja belum mengerti. Akhirnya Ben pun mendekat kan diri ke arah Nissa dan mencium nya dengan sangat dalam.


"Mereka ke sini bukan untuk menonton tapi melakukan hal ini, apa kamu paham? Itu lah guna nya Tirai itu"


"A..a...apa?" Wajah Nissa mulai memerah.


"Gila?! Kenapa harus berciuman di tempat umum? Apalagi di tempat begini? dan kenapa harus menutup tirai jika hanya mau berciuman?"


Yakin lah istri ku bahwa bukan hanya ciuman saja di balik tirai - tirai tertutup itu.

__ADS_1


-bersambung-


"Jika Istri mu marah dan cerewet kepada mu bersyukur lah bahwa hati nya masih milik mu"


__ADS_2