Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 117 - WAKTU AKAN BERLALU


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya ya. Jangan lupa juga kunjungi karya author yang lain nya dengan judul "Cinta Ku Mafia Ku" dan "Pertemuan"....


...*...


...*...


...*...


"Yang benar saja, Adel baru pergi selama tiga hari!!"


"Bagiku tiga hari serasa setahun, apa kamu susah sekali memahami ku?"


"Oh Ayolah Nissa! orang akan mengira Adel akan pergi selama nya, Adel hanya pergi berlibur selama Seminggu di rumah Andhika, beberapa hari lagi dia akan pulang"


Nissa harusnya sudah puas dengan kemenangan yang ia peroleh dari pengadilan. Namun sebagai balasan dari mengalahnya Andhika di pengadilan, Andhika meminta bahwa setiap liburan musim dingin, Adel wajib berlibur di tempat Andhika selama seminggu tanpa Nissa maupun Ben.


Hal ini sudah di diskusikan oleh pihak Nissa dan Andhika. Sehingga pengadilan bisa memenangkan Nissa dengan memberikan hak asuh sepenuhnya kepada Nissa dan Ben. Namun Andhika meminta permintaan tambahan itu, dan juga Kapanpun jika ada waktu, Nissa tak boleh melarang pertemuan Andhika dan Adel.


Dengan banyak pertimbangan permintaan Andhika dikabulkan tapi Andhika sama sekali tak boleh memaksakan kehendaknya. Andhika tetap harus menjaga komunikasi nya dengan Adel dan menanyakan pendapat Adel jika ingin bertemu dengan Adel.


"Kamu tahu kan tidak mudah bagiku membuat keputusan ini, awal nya aku merasa tidak masalah, tapi ketika Adel pergi rasanya menyesakkan"


"Kamu bisa video call dengan Adel dan menanyakan kabar nya jika kamu khawatir" Ucap Ben sedikit kesal dengan semua drama yang ada.


"Tidak....aku tidak akan berbicara atau melihat Adel, hatiku tidak kuat"


Karena kesal, Ben pun mengambil handphone nya dan segera menghubungi Adel.


"Papa?" Suara Adel terdengar begitu cerah.


"Sayang kenapa kamu terdengar ceria? Apa ada hal bagus yang terjadi? Papa menghubungi kamu karena papa kangen sekali dengan kamu"


Nissa penasaran ingin melihat wajah Adel, namun demi harga dirinya Nissa menahan keinginan nya itu.


"Ya disini sangat menyenangkan, Adel bisa melihat pemandangan yang luar biasa hahaha"


"Pemandangan apa itu?" Tanya Ben.


"Adel melihat Daddy begitu tidak berdaya dihadapan Tante Sherly, sepertinya Adel harus membantu mereka berbaikan"


"Jangan terlalu berlebihan, kamu terlalu suka ikut campur urusan orang tua"


"Papa ini, Adel kan berniat baik, Oh iya kenapa mama masih belum mau menjawab telfon Adel, Adel pergi aja mama nggak mau lihat wajah Adel, mama kenapa sih? Padahal Adel mau membelikan mama oleh - oleh"

__ADS_1


Ben melirik ke arah Nissa dan memasang wajah jahil.


"Maklum lah, mama kamu yang seperti anak kecil ini sedang memainkan drama hebat untuk menarik perhatian kamu, belikan saja apapun yang ingin kamu berikan pada mama, mama kamu akan suka"


Panggil itu pun berakhir setelah banyak nya nasihat dan kata rindu yang Ben ucapkan untuk Adel. Nissa memandangi Ben dengan wajah tak percaya. Ben bahkan tak menanyakan kembali pada Nissa untuk menerima telfon itu.


Nissa begitu syok dan sedikit kecewa saat Adel menerima keputusan pengadilan itu dengan cepat. Bagi Adel bukan masalah untuk bersama Daddy nya selama seminggu dalam satu tahun. Bahkan Daddy nya bisa menemui nya tanpa harus bertengkar dengan mama nya.


Yang membuat Nissa sangat kecewa adalah Adel bahkan tak menunjukkan keberatan atau akan merindukan Nissa sedikit pun saat akan berangkat menemui Andhika. Saat Adel menuju ke bandara, Nissa tak mengantar Adel ataupun melihat kepergian Adel.


.


.


.


Setelah anak - anak tidur lelap, Ben pun memeluk Nissa yang sejak tadi masih saja diam melamun disampingnya.


"Apa lagi yang kamu pikirkan?" Tanya Ben dengan lembut.


"Kamu tahu kan, aku punya banyak sekali kenangan buruk di rumah Andhika, Aku takut Adel akan diperlakukan begitu"


"Itu tidak mungkin, dulu ada Ros yang menggangu mu, sekarang Ros ataupun orang tua Andhika tak akan bisa menggangu Adel, Bahkan kamu tau kan Sherly berjanji akan melindungi Adel selama Adel disana?"


"Ya, tapi aneh nya rasa takut dan khawatir ku terus menyesakkan bagiku"


Ben mengerutkan wajah nya dan seketika amarah nya begitu kembali muncul saat mengingat apa yang terjadi pada Nissa dulu nya.


.


.


.



.


.


.


"Mengingat kesulitan kamu di sana, rasanya aku ikut kesal mengirimkan Adel kesana"

__ADS_1


"Benarkan? Kalau begitu....Apa tidak bisa kita jemput Adel sekarang?"


Ben menggeleng kan kepala nya menandakan tak setuju akan ide Nissa.


"Janji tetaplah janji, dan sekarang janji itu punya kekuatan hukum, Kita akan menjemput Adel jika Adel tidak betah disana, bersabar lah selama beberapa hari lagi ya"


"Tapi Adel semakin dekat dengan Sherly dan Andhika"


"Bagaimana kamu tahu?"


Tanpa sepengetahuan Ben, Nissa telah meminta bantuan Bentley untuk menanyakan kabar Adel. Dari laporan Bentley, Adel begitu suka berada disana. Apalagi Sherly begitu pandai menari dan menyanyi. Bakat yang tak akan pernah Nissa tunjukkan di hadapan Adel adalah menari dan menyanyi karena Nissa sangat buruk dalam menari dan menyanyi.


Selama di rumah Andhika, Adel belajar banyak cara bermain alat musik. Serta Andhika begitu perhatian kepada Adel. Perhatian yang tak pernah Nissa bayangan dari seorang Andhika.


"Apa aku Egois jika aku menginginkan Adel hanya untuk diriku disini, padahal aku tahu bahwa Andhika adalah ayah nya"


"Kamu hanya baru kali ini jauh dari Adel, seiring berjalannya waktu kamu pasti akan terbiasa, kita perlu melangkah kedepan Nissa, meski Andhika dulu begitu terhadap kamu dan Adel, bisa saja Andhika sungguh telah berubah"


"Benarkah?"


"Tentu saja, apalagi Andhika adalah seorang lelaki yang sudah memiliki tiga anak, dia pasti telah belajar banyak hal dan kedewasaan sebagai seorang Ayah"


Mungkin saja, yang terakhir kali Nissa dengar dari Andhika tentang Adel adalah kebenaran. Bahwa Andhika begitu menyesal dan ingin membangun hubungan dengan Adel.


Andhika telah sadar dan belajar bahwa selama ini ia telah banyak kehilangan hal berharga dalam hidup nya. Terutama saat melepaskan Nissa dan Adel dalam hidupnya.


"Jangan terlalu sedih begini Nissa, Jangan membuat ku merasa bahwa membuat mu memilih ku adalah kesalahan"


"Kenapa begitu?"


"Karena aku hanya ingin kamu selalu bahagia bersama ku, tidak ada gunanya membuat mu bersama ku jika kamu terus bersedih"


Nissa akhirnya berbaring dan memeluk Ben dalam pelukan nya.


"Tidur lah, besok kamu akan berangkat pagi ke perusahaan kan?"


Dengan kecupan pelan Nissa mengecup bibir Ben.


"Aku tidak akan pernah menyesal memilih kamu dalam hidup ku"


-bersambung-


..."Kadang keegoisan seorang ibu terhadap anaknya nya selalu dianggap adalah hal yang membebani namun itu karena seorang ibu sangat menyanyi anak nya"...

__ADS_1


__ADS_2