
"E.e.e.m.p.t," tepat jam 2 malam Isyana terjaga dan terbangun dari tidurnya.
Suasana kamar Putri sunyi, hanya terdengar helaan nafas lembut Putri.
Akan tetapi sesaat Isyana merasa merinding, seperti ada jutaan kupu- kupu menghampirinya. Kumpulan kupu- kupu itu menyerbunya, menggelitik menimbulkan rasa dingin bercampur hangat.
Isyana meng geli at, menghindar, suasana gelap. Jantung Isyana pun berdetak kencang.
"Ya Tuhan apa aku mimpi?" batin Isyana mendadak tubuhnya meringkuk kaku, takut bergerak dan tetap memeluk Putri.
Akan tetapi Isyana kembali merasakan ada semburan nafas dari belakang tubuhnya, menyusuri belakang telinganya.
"Apa aku sangat merindukan Mas Binar sampai aku berhalusinasi bergini?" batin Isyana lagi. Isyana merasa ada jila tan lembut menyusuri lehernya. Padahal dia tahu suaminya sedang pergi.
Kemudian Isyana memberanikan diri tanganya menyentuh tengkuknya. Sayangnya tangan Isyana ada yang mencekal dan menyingkirkanya.
Isyana pun dibuat kaget dan terbelalak menoleh.
"Mas Binar!" pekik Isyana
"Sssstttt....," tegur Binar langsung membekap mulut Isyana
Tidak tahu kapan datangnya, katanya mau pulang seminggu, nyatanya Binar pulang.
Binar langsung ganti baju dan menyusul Isyana tidur di kamar Putri. Menuntut kehangatan, meminta energi, tanpa jemu menji lati tubuh Isyana.
"Mas kapan datang?" tanya Isyana berbisik lalu mencoba bangun
Akan tetapi Binar langsung meraihnya dan memintanya tidur lagi.
"Aku ingin memelukmu, hmmm," tutur Binar lirih.
"Ehm... iya. Tapi sepertinya Mas lebih dari itu?" tanya Isyana berbisik. Isyana tahu jika suhunya terasa panas dingin sedang ada tower yang menyala.
"Kenapa kamu selalu tahu tentang mauku sih? Curang. Tapi aku tidak tahu apapun tentang maumu?" jawab Binar menggoda.
"Isshh... Isyana masih nifas Mas, ini di kamar Putri juga. Maaf! Tahan dulu ya!" jawab Isyana.
"Santai saja. Aku selalu menepati janjiku. Jangan khawatir. Berbaringlah, aku hanya ingin menumpahkan lelahku! Peluk aku...please!" ucap Binar lagi dengan penuh harap.
Binar meraih tangan Isyana dan meletakan tangan Isyana di pipinya. Binar terpejam seakan meresapi sentuhan Isyana itu.
Isyana menelan ludahnya, Binar tidak bisa ditebak tapi cukup membuat Isyana senang, merasa dibutuhkan.
Isyana pun menatapnya penuh tanda tanya.
"Apa ada masalah lagi? Apa masalahnya sudah selesai?" tanya Isyana.
Binar selalu nekad, seperti jin yang tiba- tiba datang tak tau waktu. Saat di rumah Lana begitu, sekarang di rumahnya juga.
"Kenapa bawel sekali sih. Cepat berbaring aku tidak ingin dicereweti, aku ingin dipeluk!" rengek Binar lagi.
Isyana benar- benar baru tahu sisi manja Binar. Ya kata pakar psikolog yang pernah Isyana baca, pasangan memang butuh pelukan, untuk kekuatan, untuk perawatan dan sebagai tempat menyembuhkan semua gundahnya.
Isyana pun mengikuti Binar, berbaring membelakangi Putri dan membiarkan Binar tenggelam memeluk dadanya. Isyana kemudian membelai lembut kepala Binar.
"Mengendarai mobil di dini hari, petang begini tidak baik Mas. Mas sama sopir atau sendiri? Ada apa?" tanya Isyana.
Binar masih diam tidak menjawab. Isyana pun memberi waktu untuk Binar bicara.
Sekitar 5 menit berlangsung Binar mendongakan kepala.
"Buatkan aku teh hangat. Aku haus!" ucap Binar.
Isyana pun mengangguk. Lalu mereka merapihkan selimut Putri dan turun ke bawah. Tak ada yang melihatnya seisi rumah pada tidur.
Isyana pun membuatkan minuman hangat, menyajikan lembut pada Binar. Binar pun meraihnya dan meminumnya.
"Apa semua baik- baik saja?" tanya Isyana.
Binar menggelengkan kepalanya.
Isyana pun mengernyitkan matanya bertanya.
"Tante Mutia sakit!" ucap Binar pelan..
"Hooh?" pekik Isyana kaget. "Sakit?"
"Terjadi perdarahan hebat pada bagian lidahnya, dan langit- langit mulutnya!"
"Kok bisa?"
__ADS_1
"Hhhhh....," Binar menghela nafasnya.
Ingat Amanda jadi ingat Tiara. Mereka kan berteman.
"Ini salah Mas," ucap Binar.
"Kok salah Mas?"
"Dia makan kue yang seharusnya untuk kamu!"
"Untukku?" tanya Isyana kaget.
"Amanda ingin membunuhmu dan mencarimu. Tapi kukerjain biar menemui Lana. Kue yang seharusnya untukmu malah dimakan tante Mutia!"
Isyana menelan ludahnya syok. Mana terfikir Isyana ada orang yang ingin mencelakainya.
"Siapa Amanda Mas?"
"Ehm....," dehem Binar mendadak ingin narsis. Ingin menunjukan kalau dirinya tampan dan banyak yang suka.
Isyana kemudian berfikir seperti pernah dengar
"Oh ya. Mas Lana pernah cerita. Dia pacar kamu?" celetuk Isyana kemudian
"No... enak aja!" jawab Binar cepat. "Dia penggemarku bukan pacar!" jawab Binar sambil menyeruput kopi dan tampang pede maksimal.
"Isssh..., yee pedenya penggemar," desis Isyana geli sekali melihat Binar narsis begitu.
"Beneran... nggak liat suamimu ganteng begini? Dia cinta mati sama aku sampai ingin membunuhmu. Maka berhati- hatilah kamu!"
"Iyakah?" tanya Isyana mecucu.
Walau hatinya benar mengakui tapi gengsi di mulut memuji.
"Hu-uh!" jawab Binar mengangguk.
"Serem amat?"
"Iyah, aku juga heran. Kamu punya apa sih? benda tersembunyi apa sih? kok orang ingin membunuhmu? Kamu perempuan penyimpan koohinur ya? Apa mutiara ular?" tanya Binar mengajak bercanda lagi.
Malah teringat film- film action.
Isyana pun mencebik dan memukul paha Binar. Mungkin karena ngantuk Binar jadi ngelantur.
"Bercanda terus!" cibir Isyana.
"Hhhhh...," Binar meletakan tehnya dan menghela nafasnya serius lagi.
Binar kemudian menceritakan detail apa yang terjadi dengan Amanda dan Bu Mutia.
Isyana pun mendengarkan dengan seksama. Itu sebabnya Binar pulang malam.
"Mas benar- benar ya? Kok bisa sampai punya niat ngerjain Amanda gitu. Jadi gini kan? Coba kalau dibiarkan. Pasti kue itu nggak nyelakai Bu Mutia!" jawab Isyana menyalahkan Binar.
"Ehm... pikir Mas biar mereka jadian! Mereka cocok dan selalu kompak! Kalau nggak ke Lana malah bisa ke orang lain gimana?" jawab Binar beralasan.
"Hhh... alasan! Terus Tante Mutia gimana?"
"Entah, udah dioperasi. Untung kuenya nggak ditelan. Jadi yang rusak hanya rongga mulutnya? Jadi Tante Mutia masih hidup. Hanya saja katanya mengenai pita suaranya. Mungkin setelah ini bicara Tante Mutia sedikit terganggu,"
"Hh kasian sekali. Padahal Isyana suka lho dengar nasehat Bu Mutia!" celetuk Isyana polos.
Binar pun mencebik
"Pluk...!" Binar menyentil kening Isyana. "Nasehat yang buat kamu bodoh. Maumaunya nikah tapi diam aja disiksa!" cibir Binar.
"He... Enggak Isyana kabur kok!" jawab Isyana membela diri. "Oh ya..emang racun apa Mas? Sampai segitunya?"
"Entahlah. Hanya Amanda yang tahu. Air keras mungkin, atau siani da? Dia kan teman- temanya banyak. Tiap hari jetlight luar negeri!"
"Terus gimana? Dia dipenjara?"
"Mas nggak ikut campur. Biar Om Wira dan Tante Mutia yang tentukan. Mas kan cuma saksi! Korbanya kan mereka," jawab Binar lagi
Ya... sebelum pulang. Binar menuntaskan masalahnya dengan Amanda.
Binar tidak bisa membantu Amanda. Amanda mau diampuni atau tidak terserah Om Wira.
"Terus rencana gudang itu gimana?"
"Sssssttt... Itu sekarang sudah ranahnya pemerintah!"
__ADS_1
"Oooh. Kalau Om Wira dipenjara? Tante Mutia sakit? Mas Lana sakit? Terus gimana?" tanya Isyana masih peduli.
"Tauuk!" jawab Binar mencebik.
Isyana pun terdiam berfikir.
"Mending Amanda suruh rawat mereka sebagai tebusan kesalahanya ya Mas. Ketimbang dipenjara?" celetuk Isyana.
"Urusan mereka lah! Oh ya. Maaf aku tidak membalas pesanmu!" ucap Binar kemudian.
Isyana pun mengangguk. Kabar dari Tuti juga cukup mencengangkan mereka.
Binar pulang karena membaca pesan Isyana tentang laporan polisi yang mencari Mika.
"Sebenarnya siapa Adnan? Kenapa dia mendadak menghilang?" tanya Binar kemudian.
"Sudah kujawab dia temanku! Dia kenal dengan Putri juga!" jawab Isyana
"Kita harus berterima kasih padanya. Besok aku akan temani kamu ke kantor polisi. Mas Yakin Mika yang membakar kontrakanmu!" jawab Binar.
Ya, sesibuk apapun kepentingan Binar di Ibukota, mendengar laporan Isyana. Binar tidak tinggal diam.
Binar baru tahu, ternyata banyak orang yang menginginkan Isyana celaka. Walau Polisi tak bisa menemui Adnan, tapi mereka tidak kehilangan cara.
Isyana seharusnya tahu bukan, tentang Mika. Tanpa Adnan, Isyana dan Binar bisa cari tahu data Mika.
Dan besok Binar akan beritahu identitas Mika. Saka kan pernah selidiki asal usul Mika.
"Untuk apa ya Mas? Kenapa Mika sampai melakukan itu. Aku sudah merelakan Lana untuknya, tidak mengganggunya, tapi dia melakukan itu?" gumam Isyana heran
Hati orang baik dan orang jahat nggak satu tower dan tidak bisa dinalar.
"Karena dia ingin seperti kamu!" jawab Binar enteng.
"Iiissh dia punya segalanya, ketimbang aku! Cantik, tinggi... kenapa harus seperti aku? Dia juga dulu selalu menghinaku?" jawab Isyana.
"Kata siapa. Dia tidak punya aku, seperti kamu! Dia juga tidak punya hati seindah berlian seperi kamu! Kayaknya itu deh biang kerok kerusuhan ini!" jawab Binar lagi, selalu melambungkan hati Isyana, sambil menyandarkan tubuhnya ke Isyana.
"Iiih!" cebik Isyana lagi. "Nggak ada Isyana punya berlian macam itu!"
"Hehe! Ada... inih di sini!" jawab Binar terkekeh, menunjuk jantung Isyana.
Isyana melirik jam dinding sudah pukul 3 pagi. Isyana pun merasa pabrik minuman untuk Babynya penuh.
"Mas belum tidur kan? Sana tidur dulu! Lumayan masih ada waktu satu setengah jam sampai subuh!" jawab Isyana
"Lah kamu mau kemana? Kita tidur bareng?"
"Nanti Isyana nyusul!"
"Mang mau kemana sih?"
"Ehm...nggak!" jawab Isyana tersipu.
Isyana bangun ke alat sterilan pemompa ASI. Binar tersenyum melihatnya, lalu menyusul di belakang Isyana dan meletakan benda itu
"Jangan pakai ini? Mas bisa melakukanya!" bisik Binar lirih meletakan alat itu.
"Hooh?" pekik Isyana gelagapan. Siap- siap diunyel - unyel Binar.
"Sssstt... nggak usah protes!" jawab Binar menuntun Isyana duduk.
Lalu Binar mengambil penampung Asi. Binar suka sekali membantu anak Isyana mengambilkan minumanya.
"Nggak akan Daddy minta, Daddy cuma bantu ambil!" tutur Binar nakal.
"Isssh...,"
"Besok sore Mas ke rumah sakit lagi. Biar ini segera diberikan ke bayimu, semoga dinaikan dosis minumnya!" tutur Binar.
Isyana pun pasrah mengangguk.
****
Di rumah Mika.
Setelah mandi di sungai, Mika terlihat lebih normal.
Mika memutuskan pulang ke orang tuanya setelah menjual ponselnya. Ponsel yang harusnya harganya 15 juta hanya laku 3 juta.
Awalnya ayah dan Ibu Mika menangis melihat keadaan Mika, dan hampir mengusir Mika. Akan tetapi namanya orang tua, Mereka tetap menerima Mika.
__ADS_1