Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 149 - NISSA YANG POLOS (3)


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote,...


...hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel...


...ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan...


...judul "PERTEMUAN", "TAKDIR", dan "CINTA KU MAFIA KU" "AKHIRNYA ISTRI KU PERGI"...


...Tolong hargai penulis dengan menunjukan dukungan kalian....


.............


.......


.......


"Ben? "


Nissa tak mengerti kenapa ben memandang nya dengan tatapan itu.


"Kamu terlalu fokus pada lagu itu" Bisik Ben.


Ben berbisik dengan pelan di telinga nissa lalu mengecup sedikit kulit itu dan dengan sentuhan terakhir ben pun meniup telinga itu dengan nafas nya.


"Ben!!" sontak kaget pun terucap di bibir nissa.


"Aku suka mata mu yang berbinar menatap pertunjukan itu, tapi aku lebih suka jika kamu menatapku seperti itu" Kini tangan ben semakin nakal membelai nissa.


"Ben, Hentikan!! "


Perut nissa terasa tergelitik dengan sentuhan ben dan kini sensasi yang tadi nya terhenti ia rasakan kini kembali dirasakan.


"Ayo kita pulang... " Ben kembali berbisik kepada Nissa.


"Tapi pertunjukan nya belum selesai"


"Aku tidak keberatan jika kamu mau terus disini dengan hal ini"


Tangan Ben bergerak bebas membelai kulit nissa dan kecupan nakal terus menghujani kulit wanita itu. Nissa merasakan bahwa semua orang melihatnya meski itu hanya ilusi belaka.


Sungguh tidak mungkin ada yang melihat perilaku mereka di antara tirai yang terbuka sedikit itu.


"Baiklah! Tapi apa kita akan langsung pulang ke rumah? Jika iya aku akan lebih suka tetap disini"


Ben tersenyum bahagia...


"Tentu saja aku akan memesan Suit Room untuk kita berdua"


Ben pun merapikan diri dengan terburu - buru begitu pula dengan nissa. Ben menuntun tangan nissa dan mengaitkan tangan nissa di lengan nya. Luar biasa bahwa diumur segitu mereka masih merasakan rasa menggebu seolah mereka masih seperti anak SMA. Mereka pun sedikit menambah kecepatan untuk keluar dengan sedikit berlari.


"Oh my God!! " Ucap Ben terkejut.


Nissa pun melihat ke arah pandangan terkejut Ben. Bisa ia lihat hal itu memang membuat orang yang lewat pun akan bereaksi hal yang sama.


"Kalian?! Kenapa melakukan nya disini?! Kalian gila?! Jika orang lain ada yang lihat gimana?!!!"


"Bukan kah kau juga lihat? kau kan juga orang lain" ucap Ed.


Ed dan Lyra menghabiskan waktu mereka di pojokan dekat tangga. Mereka melakukan hal itu tanpa rasa takut bahkan dengan sangat berani layak nya hal yang lumrah.


"Jika memang ingin kalian bisa melakukan nya di mobil atau hotel! Kalian ini!! "

__ADS_1


"Memang nya kalian tidak terburu - buru? Bukan kah itu alasan kalian keluar sebelum pertunjukan selesai?"


Mendengar ucapan Lyra itu, Ben dan nissa tak bisa membalas apapun lagi. Yang mereka sadari bahwa memang mereka benar merasakan hal itu "Terburu - buru"


"Kami duluan, silahkan nikmati waktu kalian" Ucap Ben sambil melewati Lyra dan Ed.


"Ben!! "


Ed memanggil ben dengan kuat.


"Apa lagi?"


"Marley, dia ingin makan malam bersama"


Nissa merasakan bahwa ekspresi Ed sedikit berubah menyebut nama Marley.


"Hah? Lalu? Kalian saja yang pergi, lagian aku tidak kenal dengan nya"


"Ben... Marley... "


"Bilang saja aku menolak, Aku lebih ingin bersama istri ku daripada melakukan hal tidak penting itu"


Nissa menarik tangan Ben


"Tapi itu Marley lho? kamu tidak mau? Aku mau tanda tangan nya.... "


"Kamu mau cancel acara kita? " Bisik ben kepada nissa.


"Bukan begitu... Aku boleh ikut kan Ed? " Tanya nissa.


Lyra memandang ke arah Ed dan memandang ke arah nissa juga.


"Aku sarankan kalian tidak perlu datang, kami bisa menolak nya mewakili kalian nanti" ujar Lyra.


"Ed, kamu tidak lihat mata ben sudah melihat kita dengan kesal! Biarkan saja, ku rasa mereka punya acara sendiri"


"Untuk kali ini aku merasa kau sangat hebat Lyra" Ucap ben.


Ben kemudian melambaikan tangan nya ke arah Lyra dan Ed lalu buru - buru pergi.


"Ben pelan - pelan!! Aku susah berjalan dengan gaun dan sepatu ini" protes nissa.


"Aku lupa"


Ben pun menggerakan kedua tangan nya dan mengangkat tubuh nissa dalam dekapan nya.


"Ben!!!"


"Dengan cara ini kita bisa lebih cepat sampai ke parkiran"


"Tapi ini memalukan!! kita belum melewati para keamanan di depan"


"Kamu bisa memilih untuk pura - pura tidur atau pura - pura pingsan jika terlalu malu"


Nissa hanya bisa menenggelamkan wajah nya di dekapan Ben. Bahkan ketika semua nya mulai melihat Ben menggendong nissa layak nya orang yang sakit, nissa bisa merasakan nya dengan mata tertutup bahwa semua sedang memperhatikan mereka.


"Telinga mu memerah istri ku" Ben berbisik kepada nissa.


"Gara - gara siapa coba?! "


Ben hanya bisa tersenyum puas dan melewati para pihak keamanan dengan bangga.

__ADS_1


.


.


.


Di Hotel...


Nissa heran melihat Ben yang sudah lebih dulu memesan kamar Suit Room untuk mereka.


"Sejak kapan kamu memesan nya? "


"Sejak kamu asyik memperhatikan Marley, Aku ingin segera menculik kamu dan membawa mu kesini"


" Aku tidak percaya suami ku ternyata seorang penipu!!"


"Tidak masalah menipu istri sendiri, asalkan kamu juga menikmati nya, bukan kah begitu?"


Ben menaikan alis nya dengan penuh arti ke arah Nissa.


"Kamu sangat nakal Ben!! "


Nissa bisa merasakan tangan Ben yang sejak tadi terus merangkul pinggang nya dengan kuat.


"Kenapa Elevator ini begitu lama ya?"


"Kamu juga kenapa pesan ruangan yang tinggi begitu? kan lama sampai nya."


"Pemandangan nya luar biasa, Kamu akan betah dan aku yakin mungkin kita harus menambah waktu lagi untuk tidak pulang"


Nissa menggeser tubuh nya karena di Elevator itu, bukan cuma ada mereka berdua tapi ada pengunjung lain bersama mereka.


"Geser sedikit, malu dilihat orang lain" bisik nissa.


"Mereka tidak melihat, kita kan ada di belakang mereka"


Lantai pun berhenti di angka Tujuh belas.


"Kalian serasi sekali... pasangan yang baru menikah memang harus begitu" Ujar nenek - nenek yang turun tersebut bersama anak perempuan nya.


"Terimakasih Nyonya" Ucap Ben bangga.


Nissa menutup wajah nya dengan kedua tangan.


"Aku malu kita disebut pengantin baru"


"Memang nya bukan? aku selalu merasa sebagai pengantin baru bersama mu"


"Ben bisakah kamu berhenti? kamu membuat ku malu berkali - kali hari ini"


Nissa masih menutup wajah nya.


"Tapi bukan kah malu yang kamu rasakan dalam arti baik?"


Nissa hanya bisa menghela nafas dan berkata.


"Haaah memalukan"


Lantai pun menunjukkan angka dua puluh tiga disana lah mereka turun.


"Kamar.... " Ben mencari nomor kamar mereka.

__ADS_1


Tidak sulit mencari nya karena satu lantai itu hanya ada beberapa kamar saja.


-bersambung-


__ADS_2