
Setelah makan tanpa banyak bicara, Nissa dan Ben kembali ke kamar Collin setelah sebelumnya mengambil obat Collin di apotek yang berada di lantai satu rumah sakit.
Suasana sangat hening di dalam elevator, Nissa merasakan bahwa ia perlu mencari pembicaraan, Nissa benci kesunyian yang ia rasakan ketika bersama Ben.
"Ben.... bolehkah aku menggenggam tangan mu? Aku merasa kamu selalu hangat, kali ini aku sangat kedinginan"
Ben hanya melirik Nissa sedikit dari sudut mata nya, namun tangan Ben yang besar langsung menggenggam tangan Nissa. Kehangatan yang selalu Nissa dapatkan dari Ben, tak akan pernah tergantikan.
"Adel, papa membawakan makanan untuk kamu dan Collin" Ucap Ben ketika masuk ke kamar inap Collin.
"Asyiikk, dari tadi Adel lapar banget pa" Adel langsung melirik ke arah tangan Ben yang sedang menggandeng mama nya.
"Hmmm mama pasti senang tuh, jadi mama sama papa sudah baikan ya?" Adel menggoda Ben dan Nissa habis - habisan.
"Iya, ini berkat nasihat Adel, mama jadi berani untuk minta maaf sama papa" Jawab Nissa dengan tersenyum.
Dokter Eric semakin muak berada di antara pasangan itu. "Kalau begitu saya permisi ya tuan, saya harus jaga malam" Ucap dokter Eric undur diri.
Tengah malam......
Ben mencari - cari keberadaan Nissa. Sofa di ruangan Collin hanya ada dua buah. Jadi satu khusus untuk Adel dan satu lagi dipakai oleh Ben dan Nissa berdua. Saat itu Ben yakin. bahwa mereka sudah tertidur sambil berpelukan, tapi ketika ia bangun Nissa tak ada disampingnya.
Ben kemudian memeriksa suhu tubuh Collin yang sudah mulai turun, Wajah Collin juga sudah terlihat tidak terlalu pucat seperti sebelumnya.
Ben sebenarnya benci harus merasakan rasa curiga yang belum tentu kebenarannya. Ia takut dan kedepannya mungkin akan curiga lagi kepada Nissa ketika Nissa tak ada disampingnya.
Aku harus menggunakan akal ku....Nissa tak akan mengkhianati ku untuk yang kedua kalinya....Kemana ya dia?
Ben mencari Nissa dan membuka pintu kamar inap Collin, saat berjalan di lorong, Ben mendengar suara orang menangis dari balik pintu di samping mesin penjual minuman otomatis.
"Siapa itu?"
Ben pun berjalan dan membuka pintu itu, ia terkejut karena yang ia lihat adalah Nissa yang sedang menangis di dekat tangga darurat. Pintu itu menghubungkan dengan tangga darurat.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan disini, malam - malam begini?" Tanya Ben.
"Aku....merasa sangat buruk, entah kenapa rasanya aku seperti ibu yang buruk, aku merasa gagal sebagai ibu maupun sebagai seorang istri, Ben maafkan aku, aku tak tahu seberapa banyak lagi maaf yang harus kukatakan"
Ben selalu merasa benci pada dirinya sendiri, ia ingin marah kepada sikap Nissa, tapi ketika Nissa sedih karena amarah yang ia berikan pada Nissa, hatinya berkali - kali lipat lebih terluka dari yang Nissa rasakan.
Ben pun mendekati Nissa yang terduduk dan masih sambil menangis. Ben mengulurkan tangan nya ke arah Nissa.
"Bangunlah, jangan buat diri kamu sakit, Kamu sedang hamil, anak kita akan sedih jika kamu sedih terus" Ucap Ben dengan lembut.
Nissa menyambut uluran tangan itu dan berdiri di hadapan Ben.
"Aku ingin mengutuk diriku, aku tak akan bisa memaafkan diriku jika terjadi hal yang gawat kepada Collin, sekarang saja aku tidak bisa memaafkan diriku"
Ben memeluk Nissa dengan pelan, semarah apapun ia, Nissa tetaplah istrinya, dan ia mencintai Nissa tanpa syarat.
"Kamu memang salah, tapi itu adalah pelajaran yang berharga, manusia harus selalu belajar dari kesalahannya, agar bisa lebih baik kedepannya".
Nissa membalas pelukan itu, air mata nya seperti tak berharga lagi, karena terlalu banyak keluar tanpa henti. Air mata itu tak akan bisa menebus dosa nya dan kelalaian nya sebagai seorang ibu dan istri.
"Maaf Ben dan terimakasih....Aku rela dipanggil bodoh karena aku memang bodoh"
"Kalau gitu gunakan lah aku Nissa, karena kamu bodoh jangan lakukan semua nya sendirian, Gunakan aku seolah kamu tidak bisa hidup tanpa aku!!"
"Aku memang tak akan bisa hidup tanpa kamu Ben....tapi aku tak ingin menggunakan kamu"
Apa maksud Nissa? Kenapa tidak mau? Apa karena dia mau bergantung pada Andhika?!!
Perasaan tak nyaman menyelimuti hati Ben, rasa cemburu bersatu dengan kekesalan yang konyol namun itu karena Ben pernah merasakan luka karena Nissa.
"Aku tak bisa menggunakan kamu, karena aku ingin mencintai kamu seumur hidup ku, aku ingin bersama mu dan terus mencintai kamu"
__ADS_1
Nissa selalu meluluhkan hatinya, menghangat kan hatinya bagaikan musim semi yang menghilangkan musim dingin dalam sekejap. Rasa bahagia yang tak ingin ia tunjukkan terlalu jelas.
"Kalau begitu, kamu akan mendengar ku kan mulai sekarang?" Tanya Ben dengan tegas.
"Tentu saja! Aku akan mendengar kan suami ku, aku akan memperlakukan mu lebih baik lagi kedepannya"
"Kalau begitu berhenti bersedih, adik Collin akan ikutan sedih di dalam sana" Ben mengelus perut Nissa dengan pelan.
Tak lama kemudian Nissa terus melirik ke kanan dan ke kiri. Berusaha memastikan bahwa di tangga tak akan ada orang yang melihat mereka.
"Apa diam - diam melakukan itu rasanya seperti ini?" Nissa memainkan telunjuk nya ke arah dada Ben.
"Oho!! kamu ingin menggodaku? Ini masih sangat kurang baby" Jawaban manis dari Ben membuat lelah dan sedih Nissa rasanya hilang dalam sekejap.
Inilah Ben, Ben yang ia kenal, Ben yang selalu lembut dan mempesona di hadapan nya.
"Lalu apa yang suami ku inginkan di tengah malam begini?"
"Bukankah istriku yang paling tahu hal itu?" Ben mendekatkan dirinya kepada Nissa.
Dekat....semakin dekat dan akhirnya Nissa terpojok kearah dinding yang ada di sana. Ben semakin menutup jarak di antara mereka.
"Dengan posisi begini?"
"Kenapa tidak?Aku bisa semalaman dengan posisi ini"
"Kurasa ini berlebihan, hanya demi ciuman"
Bibirnya yang mulai memanas terbuka perlahan - lahan, nafas mereka semakin dekat dan mulai hampir bersatu.
"Aku bisa bertahan hanya demi mencium bibir ini semalaman, diam - diam....di tempat yang sepi"
Dalam sekejap, Ben sudah mencium bibir Nissa dengan ganas. Ben ingin menyampaikan isi hatinya yang merindukan Nissa Karen khawatir. Ben ingin membuat Nissa mengerti dirinya dengan segala ciuman yang ia berikan. Nissa menerima ciuman itu dengan sangat intens dan ia dengan pasrah menerima Ben menuntunnya.
__ADS_1
"Uaaaaggghhhhhh!!!!!"
-bersambung-