
“Tinggalkan..tinggalkaan,” batin Isyana mengeratkan rahangnya sangat berharp.
Isyana pura- pura membaringkan tubuhnya, memejamkan matanya , tapi sedikit mengintip. Lana benar, mendekat ke laci , membukanya ternyata mengambil obat dan kemudian menguncinya lagi.
“Haaiiissshh... diambil, aku harus dapatkan malam ini juga!” gumam Isyana berfikir cepat. “Aku harus menggodanya<” batin Isyana memutskan.
“Mas!” panggil Isyana spontan terbangun.
Lana yang sudah sampai di pintu berhenti.
“Ya...,” jawab Lana.
“Aku... aku...,” ucap Isyana ragu.
Isyana berniat meminta Lana tidur di sampingnya. Setelah tidur, Isyna ambil kuncinya, Isyanna foto ambil surat dan beberapa hasil periksa Lana, agar Binar punya bukti kalau Lana tidak pantas jadi ketua Suntech.
Tapi kalau harus tidur bersama, bagaimana kalau malam- malam burung Lana bangun dan menerkamnya. Isyana saja kalau bukan karena ada misi, malas dan anti masuk ke rumah mantan suaminya lagi.
“Tinggalkan..tinggalkaan,” batin Isyana mengeratkan rahangnya sangat berharp.
Isyana pura- pura membaringkan tubuhnya, memejamkan matanya , tapi sedikit mengintip. Lana benar, mendekat ke laci , membukanya ternyata mengambil obat dan kemudian menguncinya lagi.
“Haaiiissshh... diambil, aku harus dapatkan malam ini juga!” gumam Isyana berfikir cepat. “Aku harus menggodanya<” batin Isyana memutskan.
“Mas!” panggil Isyana spontan terbangun.
Lana yang sudah sampai di pintu berhenti.
“Ya...,” jawab Lana.
“Aku... aku...,” ucap Isyana ragu.
__ADS_1
Isyana berniat meminta Lana tidur di sampingnya. Setelah tidur, Isyna ambil kuncinya, Isyanna foto ambil surat dan beberapa hasil periksa Lana, agar Binar punya bukti kalau Lana tidak pantas jadi ketua Suntech.
Tapi kalau harus tidur bersama, bagaimana kalau malam- malam burung Lana bangun dan menerkamnya. Isyana saja kalau bukan karena ada misi, malas dan anti masuk ke rumah mantan suaminya lagi.
"Kamu kenapa?" tanya Lana.
"Aku...," jawab Isyana berfikir.
Bagaimana ini? Besok Isyana akan ke kampung emak. Lalu persiapan selamatan lagi. Kan Isyana harus segera kumpulkan semuanya
"Katakan ada apa?" tanya Lana kini berbalik mendekat bahkan duduk di ujung kasur.
Isuana semakin terdesak. Harus ada ide.
"Aku takut!" jawab Isyana cepat
"Takut kenapa?" tanua Lana.
Lana tersenyum senang.
"Apa kamu ingin aku menemanimu?" tanya Lana.
"Ehm....," Isyana menunduk bingung.
"Katakan saja. Aku tidak akan melakukan apapun. Aku akan temani kamu!" ucap Lana cepat.
Tentu saja Lana sangat bahagia jika dia diijinkan tidur di kamar yang sama dengan Isyana. Itu kan memang yang dia inginkan.
Isyana mendongakan kepalanya. Meyakinkan dirinya lagi ini aman..
"Aku tidak mengganggumu Kan?" tanya Isuana
__ADS_1
"Tidak,"
Isyana tersenyim memganghuk
"Kamu mau aku tidur di sofa atai di sampingmu?" tanua Lana lagi
Isuana menelan ludajnya.
"Di sofa saja!" jawan Binar.
"Oke. Beri aku selimut dan bantal!" ucap Lana.
Isyana pun memberikan bantal dan selimut.
"Kalau boleh tahu, Mas Lana ambil apa di laci?" tanya Isyana nekad.
"Obat tidur." jawab Lana.
Isyana tersnyum, benar kan itu obat Lana.
"Oh..., memang Mas Lana insomnia sampai harus minum obat?" jawab Isyana memancing
"Iyaa. Kamu tau kan pekerjaanku punya stressor tinggi. Jadi aku susah tidur, maaf juga aku suka marah!" tutur Lana.
Isyana menelan ludahnya, dalam hati , tahu sudah. Dan Isyana sangat berharap Lana segera minum obat tidurnya dan malam ini tidur nyenyak.
"Tapi karena ada kamu. Aku tidak akan minum, biar aku jaga kamu!" ucap Lana
"Gleg!" Isyana langsung melotot.
Gawat bisa gagal total.
__ADS_1