
“Ada apa?” tanya Binar mendekat, ke Isyana yang duduk di tepian kasur sudah memakai busana hendak kuliah. Berangkatnya memang masih satu jam lagi, tapi sebelum berangkat, Isyana kan harus kasih minum Bian, belum lagi sarapan. Seharusnya juga memandikan, untuk satu itu, Isyana bagi dengan baby sister yang sudah dibayar mahral oleh Binar.
“Mamah, Mas!” jawab Isyana.
“Mamah?” tanya Binar heran, Binar merasa berapapun lamanya mereka bercum_bu, adalah sebentar, jadi heran Mamahnya wa, padahal masih satu rumah. Binar tidak tahu, anak, orang tua dan keluarganya sudah pergi semua dari rumahnya.
“Iyah!”
“Wa apa? Kenapa nggak ngomong langsung?” ucap Binar mencibir dengan tanpa dosa.
“Ehm...,” Isyana langsung berdehem dan menatap suaminya bersiap mengeluarkan tanduknya.
Binar memicingkan matanya kerasa.
“Kenapa?”
“Tadi kita lama banget yah?” tanya Isyana mau marah tapi sedikit malu karena dia sendiri menyukainya.
“Ehm...,” dehem Binar membalas sambil mengedikkan bahunya dan menatap nakal Isyana, “Menurutmu?”
“Lama banget!”
“Tapi kamu suka kan?” ledek Binar mengerlingkan matanya
“Ish...,” desis Isyana langsung mencubit Binar yang sekarang sudah mengenakan pakaian casual, celana ¾ dan kaos berkrah membuat Binar terlihat lebih muda. Istrinya kan masih 22 tahun dan anak kuliah, jadi Binar mengimbanginya.
“Pukul- pukul, mau lagi ya?”
“Nggak! Enak aja!”
“Helleh tadi bilangnya, lagi mas.. lagi... a_ah, gitu!” ledek Binar lagi sangat senang mengerjai istrinya.
Isyana yang wajahnya mendadak merona merah diingatkan ke mode gilanya ketika dibuat melayang oleh Binar jadi kesal, dan mencubit kencang paha Binar.
“Iih... bete!!!” Isyana langsung memalingkan wajahnya dan keningnya mengkerut.
Binar yang energinya sudah tercharge full, hany terkekeh kemudian mengulurkan tanganya merangkul Isyana.
“Iya... ya jangan ngambek gitulah, ada apa mamah whastap?” tanya Binar dengan mode serius.
Isyana sembuh malunya dan menatap Binar.
“Kita belum kb lho Mas!” ucap Isyana.
Binar pun mengangguk, “Katanya ibu pasca salin yang melalukan ASI Esklusif ada kb alami?” jawab Binar.
“Iya, sih! Insya Alloh selama Isyana ASI ekslusif aman. Tapi kata Mamah banyak yang kebobolan kalau ngandelin itu, sebab kan kita nggak tahu, aku bisa beneran ASI ekslusig apa enggak? Kan aku tidak full sama Bian. Aku harus kuliah juga!”
“Ya kan kamu perah ASI mu?” jawab Binar lagi ngeyel.
“Iya, tapi kata Mamah amanya kita tetp harus KB?”
__ADS_1
“Mamah ngomong gitu?”
“Huum!” jawab Isyana.
“Ya udah, KB aja!” jawab Binar.
“Ya kan kemarin kata Mas, Mas nggak suka kalau pakai IUD?” jawab Isyana jadi kesal ke Binar.
Jauh- jauh hari, Isyana sudah memilih tertarik denga IUD mengingat dia ingin menyelesaikan kuliah, juga katanya tidak menggganggu ASI.
“Ya... mas nggak suka! Serem dengernya!” jawab Binar malah Binar yang posesif kalau istrinya diapa- apain yang berbau tindakan medis.
“Ya terus gimana?”
“Ya gimana?” jawab Binar lagi malah ngebleng jadi buat Isyana kesal.
“Ish... maaf ya Mas, Isyana bukan nggak mau punya anak dari Mas cepat, bukan Isyana nggak bersyukur dengan pernikahan kita. Isyana juga pengen kasih Mas anak, tapi pernikahan kita aja, ini di luar rencana lho! Nenek dan Isyana juga Mamah kan ingin Isya selesaikan kuliah, juga besarkan Bian!” tutur Isyana lirih berharap suaminya mengerti.
“Maksudmu kamu nyalahin Mas?” jawab Binar tersinggung, kan Binar yang maksa deketin Isyana dan maksa nikah.
“Bukan Mas!”
“Terus?”
“Isyana sadar, semua udah kehendak yang di atas, semua udah diatur, Isyana bersyukur dan terima kasih Mas nikahin Isyana, kasih cinta dan tolong Isyana. Tapi...,”
“Tapi apa?”
“Ya ayo kita rencanakan? Sebagai manusia kan kita wajib punya planing dan usaha. Kita usahain yang terbaik buat jalan kita ke depan. Buat anak- anak kita, buat kuliah Isyana. Kita atur jaraknya!” tutur Isyana pelan merayu Binar agar acc berkb iud.
“Huum! He...,” jawab Isyana nyengir.
“Kalau nanti gagal dan nggak sesuai rencana lagi?” tanya Binar.
“Ya itu pikir nanti!”
“Oke... ya sudah ayo berangkat!”
“Entar dulu, tentuin dulu mau pilih kb apa?” jawabb Iyasana.
Binar garuk- garuk kepala. Isyana kemudian bangun dan mengambil beberapa leaflet dari dokter yang sudah dia pelajari dan sudah dijelaskan juga.
Binar pun membacanya satu persatu leaflet tentang macam- macam kb, lengkap dengan keuntungan dan kekurangan, efek samping serta kontraindikasi dan yang disarankan. Isyana juga mengulangi semua apa yang sudah dia dengar dan yang dia pahami.
“Tak..! Hh...,” Binar yang sedari tadi menyimak langsung meletakan semua leaflet sedikit kasar dan menghela nafasnya.
Isyana pun menatap aneh ke suaminya sedikit takut.
“Kalau masih kurang jelas, nanti kita tanya lagi ke dokter? Yah?” tutur Isyana pelan.
Binar tidak menjawab dan menatap Isyana dalam. Isyana pun hanya menelan ludahnya menebak isi kepala Binar.
__ADS_1
“Menurut Mas, mas setuju yang mana? Kalau Isya...,” tutur Isyana pelan tapi terpotong oleh Binar.
“Tidak ada!” ucap Binar cepat.
“Hoh?” pekik Isyana langsung memicingkan matanya dan mendadak cemberut.
Binar menghela nafasnya lalu menatap isyana dalam, kemudian meraih tangan Isyana.
“Sayang...,”
“Iyah!”
“Kamu tahu kan Mas pernah kehilangan Tiara?” ucap Binar lagi.
Isyana menelan ludahnya mengangguk dan menyiapkan hati mendengar semua penjelasan Binar.
Binar pun melanjutkan penjelasanya. Setelah apa yang terjadi dengan Tiara, Binar jadi trauma. Binar sangat takut dan menghindari semua hal yang beresiko terhadap kandungan dan kesehatan istrinya. Binar tidak mau tubuh Isyana dioperasi plastik, tidak mau dimacem- macemin juga dimasuki obat- obatan seperti halnya beberapa obat KB atau alat apapun.
“Tapi katanya aman Mas?” ucap Isyana merayu.
“No! Semua ada plus dan minusnya dan mas nggak mau ambil resiko!”
“Berarti mau kb alami? Mas mau dan bersedia pakai sarung? Atau di keluarin di luar? Atau masa pantang? Mas kan nggak sabaran dan nggak suka itu semua!” tanya Isyana sedikit emosi dan menyerahkann ke Binar.
“Ehm...,” Binar pun berdehem. Binar memang tidak suka kesemuanya. Binar merasa itu semua tidak nikmat, juga alergi sarung.
“Kan nggak bisa jawab?” cibir Isyana cemberut.
“Ya udah Mas vasektomi aja!” celetuk Binar mengalah.
“Hoh?” pekik Isyana kaget. Ini di luar perkiraan Isyana jika Binar memilih jalan sebesar itu.
“Mas aja yang berkb. Mas mau kamu tetap sehat dan tubuhmu alami, mas mau kita menua bersama!” ucap Binar lagi.
“Nggak!” kali ini Isyana yang menolak tegas.
“Kok nggak?” tanya Binar jadi kesal dan serba salah, dikasih solusi malah menolak.
Isyana diam, mereka berdua lalu saling diam sejenak. Menjalani sebuah hubungan, apalagi pernikahan memang akan banyak hal yang berbeda pendapat dan semuanya harus dibicarakan untuk kebaikan bersama, baik hal ataupun besar. Apalagi Binar dan Isyana seringkali mempunyai prinsip yang berbeda.
“Kenapa nggak jawab?” tanya Binar menuntut jawaban.
“Isyana juga pengen punya anak dari Mas. Mang mas nggak mau punya keturunan dari aku?” tanya Isyana pelan malah Isyana yang keberatan dan tersinggung.
“Hhh...” Binar jadi menghela nafasnya lagi. Isyana juga kadang membuatnya geram.
“Kan kamu daritadi yang ributin anak? Mas fine. Kamu kuliah nggak kuliah? Punya baby lagi nggak punya baby juga Fine. Sayang. Tuhan kasih Putri, kasih kamu, itu udah hadiah besar buat Mas. Mas Cuma pengen kamu bahagia, kamu ada terus dampingi Mas sampai maut pisahin kita. Mas kasih solusi terbaik, dan coba penuhi cita- citamu. Mas nggak masalah, tapi mas nggak mau menanggung semua resiko yang mungkin muncul dari obat- obatan kimia yang kamu jelasin ini!” ucap Binar tegas memberikan pendapatnya.
Isyana diam menimbang.
“Maaf juga, mas nggak bisa harus ngatur- ngatur dan nahan dengan pilihan alami ini,” ucap Binar lagi.
__ADS_1
“Ya udahlah pikir nanti!” jawab Isyana kemudian, endingnya mereka memutuskan untuk tidak memakai pilihan apapun dan pasrah.
“Lagi tidur kok dibangunin sih Yang?”