
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan judul "PERTEMUAN", "TAKDIR", dan "CINTA KU MAFIA KU"....
.......
.......
.......
Nissa pernah merasakan ketakutan dan rasa seolah akan muntah di atas kuda. Yang ia fikirkan adalah dirinya yang sudah tua saja bisa merasakan hal itu lalu bagaimana dengan Collin? Memang ia yakin Ben akan menjaga Collin dengan baik ditambah lagi dengan atribut berkuda yang lengkap. Tidak ada alasan lagi untuk melarang mereka berburu dengan kuda itu.
Ketika kuda berpacu dengan kencang, yang Nissa lihat ada lah wajah bahagia Collin dan suara kegirangan dari anak nya itu. Sedangkan jantung Nissa tak bisa berhenti untuk berpacu sangat cepat.
"Haaaah......Apa yang harus ku lakukan terhadap mereka?" Nissa mendumel dengan khawatir.
"Jangan khawatir nyonya, Tuan akan menjaga tuan muda dengan baik" Ujar Robert.
Nissa tahu hal itu tapi perkataan Robert tak bisa menghilangkan kekhawatiran Nissa sama sekali.
"Berburu...."
Nissa merasa ada yang janggal dengan kata itu tapi Nissa tak bisa mengingat hal tersebut. Ketika mendengar bunyi sebuah mainan dari sebrang danau Nissa baru teringat.
"Senapan!! Mereka akan berburu kan ?! Pasti ada senapan iya kan?!!" Tanya Nissa dengan panik.
Sekali dalam hidupnya, Nissa memegang pistol pada saat itu. Rasa trauma dan dunia yang ia pijaki bergetar Nissa masih mengingat nya. Nissa tak ingin Collin merasakan hal yang sama.
"Nyonya jangan khawatir itu sangat aman, tuan sudah mempersiapkan nya dengan sempurna termasuk di dalam hutan itu"
Meski Robert menunjuk hutan itu dengan santai tapi Nissa tahu bahwa hutan yang memang dalam wilayah kekuasaan keluarga silver itu pasti aman. Tapi tetap saja itu adalah sebuah hutan dan yang akan m masuki hutan itu adalah seorang anak kecil bersama Papa nya.
"Sebenarnya apa sih yang Ben pikirkan?!!"
"Mohon maaf Nyonya jika perkataan saya ini mengganggu, tapi pendidikan yang tuan muda dapatkan sangatlah jauh dari apa yang ada dalam tradisi keluarga silver, tuan sudah sangat melunak akan hal itu, tapi tetap saja...."
Robert ragu - ragu untuk mengatakan nya kepada Nissa.
"Katakan saja" Ucap Nissa pada akhirnya.
"Tuan muda adalah penerus keluarga ini, secara garis keturunan darah, meski saya tidak tahu apakah tuan muda akan menyerahkan nya kepada Nona Adel atau tidak tapi secara hukum seperti itu, Lalu Bagaimana tuan muda bisa bertahan dari para musuh keluarga ini jika tidak mendapatkan pendidikan yang layak?"
__ADS_1
"Apa maksudnya itu? Aku dan Ben bisa melindungi anak - anak kami"
"Bukan begitu Nyonya, musuh keluarga ini sangat banyak dan tidak sedikit yang menginginkan keluarga ini jatuh, tuan muda tidak akan selamanya mendapatkan perlindungan dari kalian bahkan nantinya tuan muda harus melindungi adik - adik nya dari bahaya, untuk itu tuan sadar dan pelan - pelan mengajarkan tuan muda banyak hal demi dirinya"
Nissa baru sadar bahwa selama ini dirinya tidak pernah memikirkan hal itu dengan matang. Harusnya anak - anak nya ia bekal kan banyak hal dan pelajaran untuk melindungi diri mereka dari bahaya orang - orang yang ingin menyakiti mereka.
"Lalu apakah menurut mu mengajar kan Collin berburu dan menaiki kuda serta masuk hutan adalah cara yang benar?" Tanya Nissa kepada Robert.
"Ya menurut saya itu hal yang benar, tidak seperti tradisi keluarga kami yang melepaskan anak - anak mereka berburu bersama pelayan, Tuan tidak meninggalkan tuan muda bahkan berburu bersama serta mempersiapkan nya dengan matang, bukan kah itu artinya tuan mau mendampingi tuan muda dan membantu nya?"
Nissa tahu Ben ada disana tanpa pernah meninggalkan Collin. Nissa yakin tak ada keraguan atas sikap Ben, tapi meski begitu dirinya tetaplah seorang Ibu yang sangat khawatir akan keadaan anak nya.
"Aku paham Robert, tapi biarpun begitu tolong biarkan aku untuk tetap khawatir karena aku seorang Ibu, biarkan aku khawatir dengan semestinya seorang Ibu khawatir terhadap anak nya" Ucap Nissa pelan.
.
.
.
"Papa! Bisakah lebih laju lagi?" Tanya Collin dengan gembira.
"Anak papa hebat ya! Mirip siapa sih kamu tidak takut begini?"
"Papa? Kita kemana? Kenapa ke tempat ini?"
"Kita akan berburu, kata mama Collin ingin sekali mempunyai kelinci sebagai peliharaan kan? Mari kita cari Kelinci di dalam sana"
"Di tempat ini? Tempat apa?"
"Ini hutan, hutan milik keluarga kita, jika kamu jadi seperti papa nanti nya, kamu harus bisa menjaga dan mengelola hutan ini dengan baik, nah mari kita hentikan kuda nya dan mencari kelinci"
Setelah masuk cukup dalam, Ben pun menghentikan kuda nya dan mengikat kuda nya pada sebuah pohon besar. Ben menurunkan Collin dan terlihat Collin sangat susah untuk berdiri tegak pada tanah yang penuh dengan daun dan ranting.
"ini hutan? Pohon yang banyak"
"Banyak pohon di hutan" Ben membenarkan ucapan Collin.
"Lalu di mana kelinci nya?"
__ADS_1
Ben pun memakai tas yang penuh dengan perlengkapan berburu. Serta makanan dan minuman yang cukup untuk mereka berdua nanti nya.
"Kamu gunakan dulu yang benar topi kamu ya" Dengan cepat Ben membantu Collin membenarkan arah topi Collin.
"Kenapa?"
"Supaya kelinci nya tidak sadar ada kita disini, nanti kelinci nya lari dong kalau tahu kamu ada disini"
Collin mengangguk mengerti dan berjalan dengan berjinjit. Kelucuan Collin itu hampir membuat tawa Ben meledak keluar.
"Papa! Capek! Kelinci tidak ada"
"Masih sedikit lagi, sebentar lagi kita sampai, disana juga ada air terjun lho, papa bawakan kamu yoghurt lho, makanya ayo tahan sedikit lagi ya"
"Baiklah"
Tak lama mereka pun sampai di sebuah tempat yang penuh dengan semak - semak.
"Papa! Suara apa itu?"
"Itu suara air terjun dan itu ada suara kelinci, Apa kamu dengar?"
"Kelinci? Rabbit?"
"Ya, Rabbit, disana" Ben menunjuk ke arah Kelinci yang sedang memakan wortel itu.
"Kelinci nya makan Wortel"
"Shuuttt!" Ben menyuruh Collin untuk mengecilkan suara nya.
Collin dengan cepat jongkok mengikuti Ben dan menutup mulut nya dengan kedua tangan kecil milik nya.
"Shuutt" Ucap Collin sambil meniru gaya papa nya.
Ben lalu mengeluarkan sebuah pistol besar, Collin terpana melihat itu dan tangan nya masih menutup mulut nya dengan baik.
"Kamu harus mengarahkan senapan ini ke arah Kelinci itu"
-bersambung-
__ADS_1
..."Seorang Ibu akan tetap khawatir terhadap anak nya meski ia tahu bahwa hal itu bukan lah hal yang berbahaya sedikit pun"...
......-Selamat Berbuka-......