Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 146 - BERBELANJA (2)


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan judul "PERTEMUAN", "TAKDIR", dan "CINTA KU MAFIA KU"....


.......


.......


.......


Kini Nissa dan Ben sudah berada di Supermarket. Dari makanan ringan, buah segar sampai daging sudah mereka beli tanpa harus berdebat. Soal makanan Ben memang agak cerewet mau yang bersih dan sehat tapi ketika berbelanja ia menyesuaikan dengan keinginan Nissa. Tak ada sekali pun keluar dari mulut nya bahwa ia tidak suka atau tidak mau makan makanan ini. Nissa tahu sekali Ben benci sekali dengan sayuran tapi ketika Nissa memilih dan memasukkan sayuran pada troli mereka Ben hanya membiarkan saja keinginan Nissa.


"Kamu tidak protes?" Tanya Nissa heran.


"Protes kenapa?"


"Sayuran! Kamu kan nggak suka makan sayur"


"Kamu mau makan nya ya aku ikut makan dong, itu juga bukan hal yang buruk kan?"


"Tentu saja! Sayur itu kan sehat, aku juga ingin Collin nggak pilih - pilih sayuran kayak kamu"


"Mungkin itu sulit, selera Collin itu sama seperti ku" Jawab Ben dengan bangga.


Ben kebanyakan memilih daging kesukaan nya. Beef maupun daging lain nya, Ben memang pecinta daging. Saat memilih daging Nissa sedikit memajukan tubuh nya untuk melihat dengan jelas tekstur daging itu.


Di samping mereka ada seorang pria keren dengan rambut pirang dan mata biru yang mempesona. Orang asli Eropa yang menunjukkan ciri khas dengan tubuh tinggi dan mata biru nya. Pria itu berada di samping Nissa dan ikut melihat daging itu bersama Nissa.


Ben memperhatikan dari samping dan tidak menyukai hal itu. Meski Nissa tak memiliki kecantikan orang Eropa tapi bukan berarti Nissa tidak menarik bahkan wanita itu sangat menarik dengan pesona Asia yang di miliki nya. Hari ini Nissa mengenakan Maxi dress dengan warna hijau mint berlengan pendek. Dress itu menampakkan tubuh ramping Nissa, lengan cantik nya bahkan betis Nissa yang kecil. Untuk ukuran orang Asia ukuran itu sangat standar tapi bagi wanita Eropa ukuran itu sangat lah kecil.


Ben yang cemburu pun segera berada di antara Nissa dan pria tersebut. Ben segera mengandeng tangan Nissa dan mendekatkan diri ke arah Nissa.


"Kita beli ini saja ya sayang, kita beli untuk di rumah kita"


Ben sengaja berbicara keras dan menekan kan aksen di kata rumah kita lalu menoleh dengan bengis ke arah pria tersebut. Nissa pun mengangguk dan mengambil pilihan Ben tersebut. Dengan cepat Ben membawa Nissa pergi dari area daging tersebut. Kini mereka berada di area makanan ringan lain untuk anak - anak mereka. Baru Ben tinggal sebentar pria barusan sudah ada lagi di samping Nissa dan kali ini pria tersebut berbicara dengan ramah kepada Nissa.

__ADS_1


"Ini sangat enak?" Tanya Nissa tidak percaya.


"Ya, banyak sekali anak - anak yang menyukai makanan ini" Jawab pria itu.


"Anda seperti nya banyak tahu sekali mengenai kesukaan anak - anak ya?"


"Ya, jika ada yang ingin anda tanya kan anda bisa menanyakan saya, By the way saya James, Anda?"


"Saya Nissa, Nice to meet you James"


Ben lagi - lagi benci melihat suasana ramah di antara kedua nya. Rasanya udara panas mengelilingi tubuh nya dan ia ingin meledak melihat keakraban Nissa. Kini Ben pun mengambil langkah kembali.


"Sudah dapat makanan untuk anak - anak kita?" Tanya Ben kepada Nissa.


"Sudah, karena saran James aku membeli ini semua, ku rasa anak - anak akan suka" Jawab Nissa dengan senang.


"Saya hanya membantu sebisa saya" Jawaban gentle dari James membuat nya makin sempurna berpadu dengan wajah indah itu.


Ben kemudian mengambil makanan itu dan memperhatikan nya dengan seksama.


"Ini hanya ekstrak tidak akan terasa jika di makan" Jawab James.


"Anak kami itu sangat sensitif kalau soal sayur dia pasti akan tahu!" Ben bersikeras.


Haahhh menyedihkan sekali sih kamu Ben, sebagai pria picik sekali kamu....


Ben tahu bahwa ia sangat picik tapi ia sungguh sangat kesal dengan Si James ini.


Setelah berhasil menjauhkan James dari Nissa tiba mereka di tempat bumbu makanan. Ben kelupaan sesuatu dan meninggalkan Nissa sebentar namun lagi - lagi James hadir di hadapan mereka. Dan kini mereka semakin akrab berbicara mengenai bumbu dapur.


"Kalau saya bilang jika untuk sup lebih baik gunakan lada hitam, rasa nya akan sangat pas"


"Benar kah? suami saya suka sekali steak daging, apa lada putih juga kurang pas?" Tanya Nissa dengan antusias.

__ADS_1


"Jika steak sudah pasti lada hitam lebih baik, kecuali tumisan lebih baik dengan lada putih"


Ben kini sudah habis akal menjauhkan istri nya dari James. Padahal supermarket ini begitu luas tapi mereka bisa berkali - kali bertemu dengan James.


"Ku rasa Supermarket ini terlalu sempit" ucap Ben dengan pelan.


"Nissa! Bumbu nya sudah beres?"


"Belum, Aku sedang bertanya kepada James resep - resep makanan dari daging, jadi di rumah nggak hanya makan sup ataupun steak"


"Tapi kita punya koki kan?"


"Aku hanya mau membuat nya untuk mu"


Kini perhatian Nissa kembali terarah kan ke James. Ben memperhatikan terus gerak - gerik James yang terus tersenyum kepada Nissa. Rasanya Ben ingin sekali menonjok wajah yang seperti malaikat itu.


Apa dia tidak sadar kalau dia sedang bicara pada istri orang?! Kenapa dia tidak sungkan sama sekali?! Kenapa Nissa cantik sekali sih hari ini?! Menyebalkan!!!


"Aku akan makan apapun buatan mu, jadi ayo kita sudahi belanja ini" Ucap Ben.


"Ben nanti dulu, James sedang menjelaskan cara membuat makanan enak, sebentar lagi ya"


Kini James lagi - lagi memasang wajah tersenyum penuh kemenangan. Ben membenci senyuman James dengan sangat.


Kenapa dia senyum - senyum begitu? di kira senyuman nya itu bagus? Kenapa? sudah merasa menang karena istri ku terus saja menaruh perhatian padamu? Aku tidak rela jika seperti ini terus!!


"Aduuuhhh" Ucap Ben.


"Ben kenapa?!" tanya Nissa dengan panik lalu memeriksa Ben.


"Seperti nya luka ku terbuka lagi, Aduuh tiba - tiba saja sakit"


"HaH? Yang benar? Aduh kan sudah ku bilang kalau mau belanja bagus nya tunggu kamu sembuh aja, kamu sih payah di bilang"

__ADS_1


Ben melihat nya dengan jelas, wajah James yang masam itu. Kini James memandangi mereka dengan wajah kecut dan murka. Ben tidak tahu pasti apa maksud dari ekspresi itu tapi yang pasti kini James sangat tidak menyukai hal itu.


-bersambung-


__ADS_2