
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan judul "PERTEMUAN", "TAKDIR", dan "CINTA KU MAFIA KU"....
.......
.......
.......
Saat itu Ben pun berdiri dengan gagah nya lalu lampu seketika dimatikan, hingga lampu sorot menyoroti Ben yang berjalan penuh dengan percaya diri ke atas panggung. Panggung itu mungkin tak sebesar panggung biasa nya, tapi panggung itu cukup untuk dikatakan panggung.
Ben kemudian duduk di atas kursi dan seperti siap akan memainkan piano.
"Karena saya telah membuat teman istri saya merasa tidak enak, malam ini saya akan sedikit menampilkan permainan piano saya" Ucap Ben.
semua orang menantikan permainan piano ben dengan semangat. Setelah mendengar permainan piano itu, semua orang merasa bahwa permainan piano itu melebihi ekspektasi mereka. Permainan piano Ben begitu indah, yang pasti nya semua memukau mata bagi yang melihat nya.
Hanya satu orang yang menjadi target untuk Ben, yaitu Nissa. Sambil memainkan piano, Ben terus menatap Nissa dengan harapan Nissa akan semakin terpesona dengan nya.
"Suami mu keren sekali, dia sepandai ini ya main piano nya?"
"Aku tidak tahu, biasanya di rumah dia sering main piano, tapi aku baru tahu dia bisa main sebagus ini"
Lampu sorot yang hanya menyoroti Ben, seakan menjadikan Ben seorang pemeran utama dalam sebuah drama. Lampu itu menjadikan Ben begitu indah dan intens dengan wajah yang ia miliki. Semua orang begitu terpesona seketika dengan Ben.
"Aku mau dong punya suami kayak suami mu Nissa"
"Emang kamu belum nikah?" Tanya Nissa.
"Udah umur segini siapa yang mau menikah dengan ku, orang tua ku aja udah nyerah, belum lagi tetangga yang ngatain aku perawan tua yang nggak laku"
Memang pernikahan mungkin suatu hal yang sedikit sensitif untuk di bicarakan, tapi terkadang ada orang yang belum nikah bukan karena dia tidak mau, tapi dia belum menemukan orang yang pas untuk jadi pendamping nya.
"Jahat sekali....lalu apa yang kamu lakukan kalau dengar itu?"
"Awal nya aku marah dan menjawab perkataan mereka, tapi sekarang aku sudah biasa"
Setiap wanita paling sensitif ketika ditanya kapan kamu menikah? Kapan kamu punya anak? Kapan kamu punya cucu? dan hal lain nya. Padahal jika kita bisa saling mengerti setiap orang, semua nya pasti akan terasa damai. Yang paling penting adalah bisa menjaga perasaan orang lain dari luka yang ia rasakan.
na....na.....tra..... Ting....Ting.....taaannn......
__ADS_1
Permainan pianonya Ben semakin hebat dan mata Ben terus melirik ke arah Nissa.
Bagaimana? Istri ku kamu pasti terpesona kan dengan penampilan ku?
Ketika Ben melirik ke arah Nissa, Nissa sedang asyik berbicara dengan teman - teman nya.
Apa?! Kenapa Nissa tidak melihat permainan ku? Bicara apa mereka sampai Nissa mengabaikan ku?
Ben terus bermain dengan cepat dan menambah tempo birama nya, serta melodi yang ia mainkan semakin cepat terdengar dan begitu bersemangat. Sampai akhir penampilan Ben, Nissa tak kunjung melihat Ben, namun Nissa tetap ikut bertepuk tangan mengikuti penonton lain nya.
Saat kembali ke tempat duduk, Ben menerima banyak ucapan selamat dan pujian atas permainan piano nya. Sebenarnya, permainan piano itu, ia persembahkan untuk event nya dengan Nissa siapa sangka ia harus memainkan nya untuk orang lain juga.
Saat ingin berbicara dengan Nissa, Nissa masih asyik berbicara dengan teman - teman nya yang duduk di samping Nissa. Bahkan sampai pulang pun Nissa tidak memberikan perhatian nya kepada Ben.
"Terimakasih banyak tuan atas makan malam nya, sangat luar biasa sekali" Ucap teman - teman Nissa.
Semua nya sudah berkumpul di depan restoran karena mereka akan segera kembali ke penginapan mereka.
"Ya sama - sama" Jawab Ben masih menjaga etika nya meskipun ia kesal Nissa mengabaikan nya.
"Sekali - sekali datang lah mengunjungi ku, Aku akan memberikan alamat ku pada kalian" Ucap Nissa.
"Kalau begitu kami pulang dulu ya"
Setelah selesai berpamitan, Ben dan Nissa masuk ke mobil. Belum sempat berbicara dengan Nissa, Nissa sudah menyandarkan tubuh nya kepada Ben.
"Haahh hari ini aku bahagia sekali, rasanya lelah tapi aku bahagia, sudah lama aku tidak bertemu teman - teman ku, kamu tahu sendiri aku bersusah payah buat punya teman di sini"
Ben tahu bahwa Nissa orang yang sulit untuk mengambil inisiatif dalam pertemanan sehingga di Paris ini bisa dihitung hanya beberapa orang saja yang menjadi teman Nissa. Apalagi Nissa bukan orang asli disini kadang rasa minder dan takut selalu mendatangi nya.
"Nissa..Apa kamu lihat penampilan ku tadi....?"
Tidak ada jawaban dari Nissa yang Ben dengar adalah suara nafas yang begitu berat seolah sangat lelah. Saat Ben menoleh ternyata Nissa sudah tidur dengan sangat lelah. Dengan kecewa Ben pun hanya memeluk Nissa dan membiarkan Nissa tidur dalam pelukan nya.
.
.
.
__ADS_1
Esok nya.....
Nissa bangun dengan perasaan yang sangat bahagia. Ia merentangkan tangan nya dan bangun menuju kamar mandi. Rasa ringan dan bahagia menjadi satu, seolah ia sudah tidur dalam waktu yang lama. Waktu pagi nya, belum pernah seringan ini, Nissa pun kaget masih bisa merasakan perasaan seperti ini diusia segini. Setelah keluar dari kamar mandi Nissa terkejut ketika melihat Ben yang sudah duduk di tempat tidur. Ben menatap Nissa dengan pandangan serius yang seolah terus menanti Nissa untuk keluar dari kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
"Kamu luar biasa ya belum puas mengabaikan ku tadi malam, pagi ini juga kamu mengabaikan ku" Ucap Ben.
"Ah....Maaf....."
"Padahal niat kemarin kan agar kita berdua aja, sudah di restoran kita nggak bisa berduaan, tadi malam kamu tega banget langsung tidur"
"Kan kamu bisa bangunin aku pas sampai di rumah"
"Kamu kira aku nggak bangunin kamu? Aku udah mencium mu berkali - kali, kamu aja yang nggak bangun, kok bisa sih tidur kamu begitu?"
Nissa merasa tak enak hati dengan hal itu....
"Maaf....Kalau begitu gimana kalau malam ini aja? Aku usahakan untuk menitipkan anak - anak lagi"
"Sudahlah, tidak usah berusaha terlalu keras, Aku tahu mungkin kamu tidak seingin itu untuk bersama ku"
"Ben...."
Ben pun bangun dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi tanpa menghiraukan ucapan Nissa sama sekali.
-bersambung-
__ADS_1
..."Bertanya kepada orang yang belum menikah bukan karena kemauan nya itu sama saja dengan bertanya kepada orang kapan kematian nya"...