
“Ehm... ehm...,” Isyana langsung berdehem tidak nyaman mendengar pertanyaan Putri.
Tuan Aksa pun melirik Isyana dengan pucat pasi.
“Janji nggak Daad!” tuntut Putri lagi.
Tuan Aksa melirik Isya lagi gelagapan.
“Ya sudah, Putri nggak mau ngomong sama Daddy, Huh!” ucap Putri menangkupkan tanganya bersedekap.
“I- iiya, Janji,” jawab Tuan Aksa cepat.
“Yeeaaayyy...,” seru Putri, lalu spontan mencium perut Isyana.
“Bolehkan? Kita berbagi Mommy? Nanti aku bagi juga Daddy buat kamu, kamu kan nggak punya Daddy kan?” tutur Putri lagi mengelus perut Isyana.
Isyana jadi tertegun begitu juga Tuan Aksa, rasanya hati Isyana berdesir mendengar kata Putri dan mendengarkan penuturanya.
“Sudah sana katanya mau main lagi, keburu sore lho... nggak baik adik bayi main kesorean,” lerai Bu Dini lalu melirik ke putranya.
“Oke... Oma...Oma mau ikut main?” tawar Putri.
“No.. Oma mau duduk aja, Oma capek!” jawab Bu Dini.
Bu Dini hanya tersenyum membiarkan Tuan Aksa dan Isyana masih berdiri tertegun di tempatnya masing- masing. Bu Dini memilih duduk di tempat duduk yang berjarak, sengaja memberi raung ke putranya untuk mengobrol.
“Ehm... maafkan Putri, tolong jangan diambil hati, saat di rumah sakit, saya terpaksa mengaku menjadi suami anda. Saya juga tidak menyangka Putri memendam tanya begitu,” tutur Tuan Aksa pelan, takut Isyana marah dan berusaha agar tidak malu.
“Saya mengerti. Saya mohon maaf sudah merepotkan, dan terimakasih,” jawab Isyana
“Anda tidak marah kan?” tanya Tuan Aksa sedikit senang.
“Tidak,” jawab Isyana tersenyum dan menggelengkan kepala.
Tuan Aksa mengangguk tersenyum lega.
“Terima kasih,” jawab Tuan Aksa senang.
Mereka kemudian saling melemparkan senyum.
Tiba- tiba suasana menjadi beku, masing- masing dari keduanya merasakan degupan jantung yang tidak menentu.
Jika saja Isyana sedang tidak hamil, jika saja Bu Tiara bukan baru saja meninggal, Tuan Aksa ingin berbicara lebih.
Hanya saja sesuai kata Bu Dini. Pastikan dulu asal usul Isyana. Akan tetapi tetap pantau dan lindungi tanpa Isyana tahu.
Mereka pun terdiam beberapa saat sama- sama mengawasi Putri. Putri sesekali melambai ceria saat main perosotan. Ya,Putri suka sekali main perosotan berkelak- kelok dan tinggi, apalagi mereka di bawah pohon- pohon yang rindang.
“Tapi Tuan,” ucap Isyana lagi membuka percakapan.
“Ya,” jawab Tuan Aksa menoleh.
“Apa ini tidak terlalu berlebihan dan membuatnya berharap, Tuan?” tanya Isyana lagi.
“Saya akan menyampaikan pelan- pelan tentang ini, setidaknya sampai dia mengerti,” jawab Tuan Aksa.
Padahal dalam hati Tuan Aksa, saya akan pelan- pelan membuat anda menyetujui janji ini.
__ADS_1
“Oh, ya!” jawab Isyana mengerti dan setuju.
“Anda tidak keberatan kan untuk mengatakan ya, pada Putri? Saya minta tolong setidaknya saya ingin lihat dia tidak lagi menangis dan murung,” tutur Tuan Aksa lagi semakin modus.
“Oh ya...” jawab Isyana tersenyum.
“Anda tidak keberatan kan?” tanya Tuan Aksa mengulangi, menatap Isyana dalam, sampai Isyana gelagapan ditatap tuan Aksa. Pertanyaan Tuan Aksa sampai membuat Isyana salah fokus dan terasa seperti ajakan bukan hanya di depan Putri tapi di kehidupan selanjutnya. Isyana pun terbengong.
“Nyonya Isyana,” panggil Tuan Aksa melihat Isyana melamun.
“Ah ya!” jawab Isyana kaget dan buyar dari lamunannya. “Sadar Isyana, ini hanya ajakan bohongan, demi Putri,” batin Isyana.
“Anda tidak keberatan kan bantu Putri agar tidak ngambek dan nangis lagi?” tanya Tuan Aksa mengulangi untuk yang ketiga kalinya.
“Ya.. saya tidak keberatan!” jawab Isyana.
“Terima kasih,” ucap Tuan Aksa lagi, “Mari silahkan duduk,” tutur Tuan Aksa lembut mempersilahkan Isyana duduk.
Isyana mengangguk dan kemudian duduk.
Sementara Tuan Aksa mendekat ke Putri menemani Putri main ayunan. Isyana pun duduk dengan Bu Dini.
“Kamu tahu, Nak?” tanya Bu Dini
“Iya Bu..,”
“Kata orang perkataan yang keluar dari hati yang polos dan tulus itu banyaknya bisa jadi kenyataan,” tutur Bu Dini memancing mengisyaratkan harapan dan lampu hijaunya.
“Ah ya... begitu ya Bu?” jawab Isyana menanggapi bingung.
“Iya... apalagi jika itu harapan baik, biasanya banyak malaikat yang mengaminkan,” sambung Bu Dini lagi...,
Sebenarnya bukan nggak dong. Tapi Isyana tidak mau GR. “Ini kenapa pembahasannya jadi begini sih? Kenapa aku mendadak berdebar begini, kenapa Bu Dini jadi aneh begini?” batin Isyana menunduk.
“Oh ya... acara 7 bulanan anakmu kapan? Ini sudah mulai masuk bulan keenam kan?” tanya Bu Dini.
“Ii ya, Bu... isyana belum diskusikan sama Nenek,” jawab Isyana.
“Kabari saja kapan, biar Ibu yang tanggung!” ucap Bu Dini lagi menawarkan.
Isyana jadi gelagapan merasa tidak nyaman.
“Isyana mau doa selamatan bareng anak yatim aja Bu, Insya Alloh Isyana bisa sendiri...” jawab Isyana menjawab dengan senyum dan tidak mau merepotkan.
“Lhoh nggak boleh gitu, anak pertama itu nggak boleh gitu, adat di orang tua ibu dulu ada mandinya juga, ada ngajinya juga. Besok Ibu yang atur kalau gitu,” tutur Bu Dini perhatian,
“Tapi Bu.... itu kan tidak wajib,”
“Tahu itu adat, tapi kan sekalian sama sedekah, seneng juga kan kita bisa berbagi sekaligus memelihara adat, toh adatnya bukan sesuatu yang membahayakan,”
“Tapi, Bu!”
“Tapi apa?”
“Isyana rasa tidak perlu. Lagian kan, status Isyana..,” ucap Isyana lirih merasa tidak perlu melakukan adat apapun yang penting berdoa pada Alloh.
“Ssssttt... sudah jangan protes!” jawab Bu Dini.
__ADS_1
Karena asik mengobrol, dan Putri asik bermain, tanpa mereka sadari sinar matahari yang tadi bersinar terik, kini menarik diri mundur perlahan. Langit yang biru berubah menjadi kelabu. Suasana hangat mulai terasa menghilang, pelan- pelan berganti dingin diikuti tiupan angin pegunungan.
“Cuaca sekarang tidak menentu yah?” gumam Bu Dini.
“Iyah Bu...,”
“Ibu pesankan teh hangat mau?” tanya Bu Dini.
“Tidak usah, ini masih banyak minum Isyana,” jawab Isyana.
Tidak lama terasa air menetes di tangan mereka.
“Gerimis Nak...,” ucap Bu Dini.
Bu Dini pun memanggil Tuan Aksa dan Putri.
“Binaaar.. Putri..., gerimis,” teriak Bu Dini.
Tuan Aksa pun menghentikan ayunan Putri dan segera mengajak menepi.
“Sudah mau ashar.. kita pulang saja ya!” ucap Bu Dini.
“Ya Oma...,” jawab Putri.
“Kita antar Tante Isyana dulu ya!” ucap Bu Dini lagi.
Putri mengangguk.
Tuan Aksa tadi diantar sopir, sesuai instruksi Bu Dini. Jadi Tuan Aksa yang mengemudi. Bu Dini duduk di depan dan Isyana dengan Putri di belakang.
Karena hujan, suasana dingin, Putri juga lelah bermain akhirnya Putri tertidur di pangkuan Isyana.
“Terima kasih ya Nak..buat Putri tertawa sepanjang hari,” tutur Bu Dini lembut.
Sayangnya tak ada sahutan. Bu Dini kemudian menoleh ke belakang ternyata Isyana juga terlelap.
Tuan Aksa dan Bu Dini pun menoleh lalu tersenyum.
“Dia cantik kan?” tanya Bu Dini ke Tuan Aksa.
“Ehm... ya Mah!” jawab Tuan Aksa sekarang terbuka dengan ibunya.
“Jangan sampai lengah dan kecolongan, jarang ada perempuan seperti dia, kamu memang harus bersabar, tapi tetap kawal!” ucap Bu Dini memberi pesan.
“Ya Mah!” jawab Tuan Aksa mengangguk.
Bu Dini dan tuan Aksa pun membiarkan mereka tidur.
Mereka kemudian terus melaju sampai rumah Nenek. Rupanya hujannya hujan lokal, karena begitu masuk kota masih kering meski mendung.
“Dheg,” Tuan Aksa dan Bu Dini mendadak membulatkan matanya dan jantungnya berdegub kencang.
“Mobil siapa itu? Muat parkir nggak nih?” gumam Tuan Aksa ragu.
Di depan rumah Nenek terparkir sebua mobil, padahal depan rumah Nenek kan jalan sempit. Tuan Aksa menoleh ke Isyana masih tidur.
“Kayaknya masih muat, itu tamu nenek juga?” tanya Bu Dini.
__ADS_1
“Sepertinya, maju ya Mah,”
“Yuk maju!” jawab Bu Dini,