
pov Lana.
Karena macet, sekitar 2,5 jam Lana menempuh perjalanan ke kota B. Bu Wira pun tidak sabar untuk segera sampai.
"Dimana kamu bertemu denganya Lana?" tanya Bu Wira.
"Di sini Mah, kalau malam di bahu jalan dekat perempatan pendopo situ banyak pedagang kaki lima dan orang-orang pada ngopi," tutur Lana menunjukan bahu jalan yang memang oleh pemerintah setempat dipersilahkan sebagai tempat jualan makanan dan nongkrong.
"Kasian sekali kamu, Nak?" batin Bu Wira memperhatikan dengan seksama daerah tempat Isyana ngamen.
Kalau siang hari jalanan itu tampak lebih sepi, meski tetap indah banyak tiang lampu jalan dan bangku- bangku umum.
Lana pun membelokan mobilnya masuk ke gang.
"Jadi Isyana jualan jalan kaki dari perempatan situ masuk ke gang sini?" tanya Bu Wira kaget.
Lana mengangguk dengan tatapan menunduk.
"Coba dari dulu kamu dengerin Mamah. Dia nggak akan semenderita ini Lana!" omel Bu Wira dalam hati masih sangat kesal dan kecewa ke Lana.
Akan tetapi meski begitu, separah apapun Lana, Lana anak semata wayangnya Bu Wira. Satu- satunya penerus keluarga Hanggara.
"Maaf, Mah!" jawab Lana
"Mamah mau, setelah ini, saat Isyana kembali, kamu harus pastikan Isyana bahagia. Jangan sakiti dia lagi!" omel Bu Wira lagi
Lana berubah menjadi laki- laki manis dan patuh jika bersama Bu Wira begini.
Sekitar 5 menit mereka pun masuk ke jalan yang hanya muat satu mobil..
"Pemukiman padat penduduk ternyata?" gumam Bu Wira agak jijik masuk ke pemukiman padat penduduk.
Tidak menunggu lama Lana memarkirkan mobilnya di halaman sempit yang jika mobil parkir hampir menabrak jalan.
Mereka berhenti di depan rumah nenek yang semi permanen. Akan tetapi itu rumah pribadi Nenek. Rumah tua dari sejak dahulu kala, tidak bagus tapi kokoh dan nyaman untuk ditempati.
Bu Wira pun tertegun, sederhana, kecil dan sempit. Ya itu gambaran rumah Nenek. Samping kanan kirinya juga padat rumah.
Kalau dibanding rumah orang tua Isyana kandung, Bapak Atmadja sahabat Tuan Hanggara, rumah Isyana jauh lebih megah meski tipe klasik juga.
Bu Wira pun berfikir. Kenapa Isyana memilih tinggal bersama orang lain. Apa semenyakitkan itu ditinggal ayah ibunya dan tinggal bersama ibu tiri. Lalu anaknya malah menyakitinya lagi.
"Ini rumahnya?" tanya Bu Wira.
"Iya, ayo turun!" ajak Lana
Bu Wira mengangguk. Mereka pun membuka pintu dan turun. Dari celah jendela dua pasang mata memperhatikannya.
"Barang belanjaannya sekalian dibawa nggak Mah?" tanya Lana.
__ADS_1
"Nanti dulu!" jawab bu Wira.
Mereka pun mengetuk pintu rumah Nenek. Karena begitu mendengar suara mobil Nenek dan Dina mengintip, belum selesai salam Nenek sudah buka pintu.
"Selamat sore, Nenek!" sapa Bu Wira hormat dan formal.
Nenek pun memperhatikan Bu Wira dari atas sampai bawah. Nenek memperlihatkan wajah angker dan seramnya.
"Siapa ya?" tanya Nenek dingin, baru bertanya setelah memperhatikan Lana beberapa saat sampai Lana salah tingkah.
"Perkenalkan Saya. Mutia Larasati Hanggara. Istri dari Tuan Wira Hanggara. Anda bisa panggil Saya Bu Wira," jawab Bu Wira panjang kali lebar kali tinggi
Berharap Nenek mengenal nama besar suaminya. Lalu wajah angker di keriput nenek hilang dan pudar.
Sayangnya harapan Bu Wira pupus. Nenek kan hidupnya tidur, ibadah, bersih- bersih, masak, makan, dagang. Tak tahu berita politik, tak tahu gosip televisi. Apalagi Ibukota dan kota B beda kekuasaan.
Jadi masa bodoh sepanjang apapun nama Bu Wira. Setinggi apapun derajatnya, Nenek tidak peduli dan tidak tahu. Nenek masih tetap dingin.
"Ada perlu apa ya?" tanya Nenek singkat.
Bu Wira pun menelan ludah kecewa. Dirinya yang terhormat diperlakukan dingin. Entah nenek yang kurang tata krama, atau Bu Wira yang harus menyadari, di mata Tuhan semua manusia itu sama.
Sampai Bu Wira hampir mengira Lana salah alamat. Tapi Lana yakin masuk ke rumah ini.
"Ehm..maaf sore- sore mengganggu, apa benar di sini tempat tinggal Isyana Putri Anjani?" tanya Bu Wira.
Nenek mengangguk dan menatap tajam Lana.
"Hah..." Bu Wira menghela nafas lega. Lalu tersenyum pada nenek, tapi nenek tetap dingin.
"Ada apa?" tanya Nenek lagi.
"Bisa saya bertemu dengannya?" tanya Bu Wira.
"Neng Isyana sedang pergi!" jawab Nenek lagi.
"Pergi kemana?" tanya Bu Wira.
"Saya tidak tahu," jawab Nenek masih belum mempersilahkan masuk. Sengaja membuat lama
"Ehm...," Bu berdehem mulai kesal ke nenek. Tapi kan Bu Wira butuh jadi Bu Wira mengalah.
"Maaf Nek... boleh saya menunggu di sini. Saya ingin bertemu dengannya!" tutur Bu Wira meminta.
Nenek diam dan menatap Lana lagi. Belum mempersilahkan masuk.
"Kalian boleh menemuinya, tapi tidak boleh menyakitinya!" tutur Nenek galak.
Lana pun menunduk seperti ingin menenggelamkan wajahnya ke bumi. Rasanya malu sekali. Bu Wira pun melirik geram ke anaknya.
__ADS_1
"Ya... pasti. Saya ibunya, meski bukan ibu kandung, saya menyayangi Isyana seperti putriku. Ijinkan saya menemuinya," tutur Bu Wira merendahkan diri meminta.
Nenek kemudian mempersilahkan mereka masuk.
****
Saat mereka belum masuk, Dinda dan Nenek mengintip. Dina kenal siapa Lana.
"Nek...itu mantan suami Teteh. Itu yang buat Teteh nangis. Dia udah tuduh Teteh wanita murahan di depan Dina juga Nek!" ucap Dina mengompori.
Nenek masih diam
"Usir dia Nek. Kasian Teteh," cerocos Dina lagi.
"Tapi perempuan itu terlihat baik, Isyana pernah cerita mertuanya baik " jawab nenek
"Ih nenek tetap saja. Anaknya jahat!" kompor Dina lagi.
Nenek tetap menampung informasi dari Dina. Akan tetapi nenek tak mengambil mentah'-mentah saran dina.
Nenek tetap membukakan pintu tapi sengaja tak bersikap ramah pada Lana dan Bu Wira.
Bahkan sudah satu jam mereka menunggu. Nenek dan Dina tak memberi minum. Jangankan minum disapa pun tidak.
Nenek dan Dina masuk ke dalam rumah dan sibuk sendiri. Padahal kan Bu Wira dan Lana perjalanan dari ibu kota bertemu macet. Sungguh Bu Wira dan Lana sangat ingin ke kamat mandi dan kehausan.
Bu Wira pun menatap benci ke Lana. Ternyata tingginya status sosial mereka tidak serta merta membuat mereka selalu dihormati.
"Ini mereka yang kurang sopan santun Mah," tuduh Lana
"Tidak, sepertinya mereka tahu. Kamu orang yang sakiti Isyana," jawab Bu Wira.
"Lana pas kesini tidak ada mereka," jawab Lana membela diri
"Tapi mereka tahu kamu. Katamu kamu pernah kan sama Mika datang ke tempat ngamen?" omel Bu Wira.
Ya Lana memang pernah merendahkan Isyana dan Dina. Lebih tepatnya Mika.
"Maaf Mah," ucap Lana
"Ini balasan kamu jadi orang kejam!" omel Bu Wira lagi.
Lana mengepalkan tanganya tidak berkutik.
Di saat yang bersaman ada suara mobil terparkir.
Lana dan Bu Wira ikut kaget dan melihat ke luar. Nenek dan Dina juga keluar dari persembunyiannya.
Bu Wira dan Lana pun melotot gelagapan melihat siapa yang turun dari mobil. Sementara Nenek dan Dina tersenyum
__ADS_1
(bukan undur2 alur...ya. Biar mantep... tapi ini langsung cus ngetik episode setelahnya... tetep komen like, utama vote ya. Hehe