
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya ya. Jangan lupa juga kunjungi karya author yang lain nya dengan judul "Cinta Ku Mafia Ku" dan "Pertemuan"....
...*...
...*...
...*...
...~3 Bulan Kemudian~...
Rasa dingin memenuhi kamar nya. Nissa hanya memeluk tubuhnya berusaha untuk mencari kehangatan yang telah hilang dari hidup nya sejak beberapa bulan yang lalu. Jendela kamar selalu tertutup meski siang ataupun malam terus saling berganti.
"Nyonya!! Tuan muda Edmund dan Edgar baru saja bangun, Mereka mencari Nyonya". Ucap Bentley.
"Aku akan segera turun"
Terkadang Nissa melupakan tugas nya, ia seorang ibu yang memiliki tiga anak yang harus ia urus dengan penuh kehangatan. Karena kehilangan salah satu cinta nya itu, Nissa melupakan hidup nya sendiri. Ia melupakan bahwa putra - putra nya butuh dirinya.
"Mama!!" Collin memanggil ibu nya dengan suara yang lantang.
Nissa memeluk Collin sebentar, lalu ia memeluk Edgar dan Edmund. Dalam sekejap si kembar langsung berhenti menangis.
"Anak mama, sedih sekali ya nggak lihat mama saat bangun?"
Nissa menghujani si kembar dengan banyak sekali kecupan. Collin pun ikut - ikutan mengecup adik nya dengan rasa gembira yang tak kalah besar nya.
"Maaf ya akhir - akhir ini mama selalu bersedih dan jarang memperhatikan kalian dengan baik"
Ketiga putra nya, adalah kebanggaan miliknya. Nissa ingin menghantam kepala nya karena melupakan hal itu.
"Aku pulang!!"
Nissa mendengar suara lantang Ben yang baru saja pulang. Karena kondisi Nissa, akhir - akhir ini suami nya selalu pulang lebih awal hanya untuk memperhatikan Nissa yang terus bersedih.
"Selamat datang sayang" Ucap Nissa.
Sudah lama rasanya Nissa tak menyambut suami nya dengan senyuman yang membahagiakan. Ben pun membalas senyuman itu dengan kecupan ringan, lalu ia menggendong Collin dan mengecup si kembar.
"Kenapa ini? Tumben sekali Edmund dan Edgar masih bangun? Biasanya mereka masih tidur jam segini"
"Anak kamu baru saja bangun, suara mereka sangat besar, bahkan sampai kedengaran ke atas"
Ben tertawa, sudah lama ia tidak mendengar sedikit candaan dari Istri nya itu. Ben merindukan kehangatan dan candaan kecil dari istri nya.
"Kamu sudah makan?" Tanya Ben.
"Aku tidak selera untuk makan Ben"
Ben menyentuh pundak Nissa yang mulai mengurus seakan hidup nya telah berakhir.
__ADS_1
"Makan lah sedikit, Aku akan menyuapi mu, Ya?"
.
.
.
.
.
.
Nissa hanya memasang wajah sebal. Saat ini ia hanya tak ingin makan. Rasanya menyesakkan untuk menelan makanan di situasi sekarang. Semuanya terasa menyesakkan bagi Nissa.
"Aku tidak lapar...."
Nissa membawa Collin ke kamar dan pergi dari hadapan Ben. Ben pun menggendong kembali si kembar sambil menatap punggung istri nya yang terus menjauh dari nya.
Nissa menyandarkan tubuhnya sambil memeluk Collin. Setiap ia menutup mata ataupun makan, ia selalu terbayang akan Adel. Semuanya terasa seperti neraka baginya. Tak ada lagi harapan yang tersisa.
Tok....tok....tok....
Ben masuk dengan membawa si kembar. Nissa segera menghapus air mata nya. Collin yang melihat mama nya bersedih segera menghapus air mata Nissa dengan tangan kecil nya. Nissa kemudian melihat para pelayan yang membawa banyak makanan di belakang Ben.
"Bukan untuk kamu, tapi untuk anak - anak ku dan Aku" Ucap Ben.
"Apa?!"
"Kamu kan nggak mau makan, Aku lapar, dan aku mau makan dengan anak - anak"
Ben bergantian menyuapi makanan untuk Collin dan dirinya. Si kembar menikmati susu nya dengan cepat. Ben sengaja memamerkan hidangan utama itu di hadapan Nissa.
"Masih nggak mau makan?" Tanya Ben akhirnya.
"Mau!!" Jawab Nissa dengan kesal.
Menjadi seorang ibu dengan tiga anak tak pernah membuat Nissa terlihat dewasa. Nissa bisa jadi kekanak-kanakan hanya di hadapan Ben saja.
Ben menyuapi Nissa dan Nissa makan dengan lahap. Potongan daging dan salad Mayonaise bercampur di dalam mulut Nissa.
"Daging nya!!" Nissa menunjuk ke arah piring yang penuh daging itu.
Ben hanya menggelengkan kepala nya dengan penuh arti.
"Kamu lihat itu Collin, mama kamu ini suka tidak jujur, suka bilang nggak lapar tapi makan nya lebih lahap dari kamu ya, Jangan jadi kayak mama kamu ya sayang"
__ADS_1
Nissa memandangi Ben dengan cemberut.
"Oh iya tadi pagi Adel menelfon ku saat aku di perusahaan...."
"Ben!!" Nissa meminta Ben untuk menghentikan percakapan itu.
"Tapi Adel menitipkan pesan untuk mu padaku, karena kamu tidak mau menerima telfon nya sejak....."
Sejak Adel pergi, rasanya selalu menyesakkan bagi Nissa. Bukan hanya Nissa yang merasakan hal itu, tapi Ben dan anak - anak nya juga merasakan hal yang sama. Nissa melampiaskan rasa sesak nya kepada Ben dan anak - anak nya. Hal itu membuat Ben merasa gila.
"Nissa aku sudah berusaha untuk sabar dan memahami mu, tapi sampai kapan kamu akan begini?!"
"Ben, kumohon jangan bicara apapun lagi!! Aku sangat tersiksa membicarakan hal ini !!"
Ben tahu hal itu, ia lah yang paling tahu apa yang Nissa rasakan. Tapi jika perasaan Nissa itu malah membuat Nissa mengabaikan anak - anak nya, itulah yang tak akan bisa Ben toleransi lebih lama.
"Kamu tahu kan kalau kamu sudah keterlaluan!! Bahkan kamu selalu bersedih di hadapan Collin dan si kembar, Aku tidak mau berdebat di depan mereka seperti ini, tapi kamu keterlaluan Nissa"
Siapapun tahu bahwa itu adalah kesalahan Nissa. Semua nya tahu bahwa Nissa selalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu tapi untuk melepaskan Adel dalam hidupnya itu adalah hal terberat baginya.
"Tolong katakan dengan jelas, berapa lama lagi kamu perlu waktu untuk bersedih?" Tanya Ben.
"Aku tidak tahu, aku juga Berharap aku tidak akan sesedih ini, tapi rasanya menyesakkan sekali Ben....."
Collin memandangi kedua orang tuanya dan menarik tangan Nissa dan Ben lalu menyatu kan keduanya.
"Kenapa Collin?" Tanya Ben.
Ketika memandang wajah Collin, Ben dan Nissa tahu bahwa Collin berfikir kedua orang tua nya sedang bertengkar dan Collin ingin mereka segera berbaikan dengan menyatukan kedua tangan orang tua nya itu.
"Terimakasih sayang, tapi mama dan papa tidak bertengkar kok, mama dan papa sedang berdiskusi, maaf membuat kamu khawatir". Ucap Nissa kepada Collin.
Dengan mengambil nafas nya Nissa akhirnya berkata....
"Tolong berikan aku dua hari lagi untuk bersedih"
"Hah?!! Nissa please!!"
"Ben please, Aku tidak bisa berhenti bersedih saat Adel pergi"
"Nissa tolong lah jangan begini....."
"Ben tolong mengertilah.....ini sangat berat bagiku".
Ben menepuk kepala nya dengan kuat.
"Yang benar saja!! Adel baru pergi selama tiga hari!!!"
-bersambung-
__ADS_1
..."Menjadi seorang ibu yang tegar adalah kesulitan yang hanya akan seorang ibu rasakan demi keluarga nya"...