
Sudah pukul 11.30, Binar dan Putri tak kunjung menampakan batang hidungnya di rumah mewahnya.
Amanda dan Jessy yang sudah menunggu dari pukul 07. 30, hilang kesabaranya. Make up flawlessnya melebihi dosis flawless, sampai tak terlihat make up-an lagi.
"Mbak Nik kamu ngerjain kita yah?" tuduh Amanda.
Memarahi Mbak Nik lagi yang sedang menyiangi sisa tanaman hias mendiang Bu Tiara.
"Ya ampun Non. Saya ngerjain gimana?" jawab Mbak Nik.
"Ini mereka pasti pergi bareng kan. Masa jemput sampai sesiang ini?" omel Jessy.
"Capek tauk aku nunggu. Kalau emang mereka pergi. Harusnua Mbak Nik ngomong dari awal. Mending ke salon kalau gini Mah," ucap Amanda.
Mbak Nik cuma menelan ludahnya. Mau ngusir Mbak Nik bukan yang punya rumah, nggak ngusir tapi mereka semua nyebelin.
"Iya nih. Mbak Nik php!" sambung Jessy.
"Lah saya php gimana Non. Non Non ini yang datang sendiri kesini. Tadi pagi emang Non Putri pamitnya mau jemput Mbak Isyana, mau belajar bikin kue di sini. Tuh sosis...mayonais keju dagingnya. Tapi kan kalau sekarang mereka pergi atau jalan-jalan ya saya nggak tahu. Toh?" jawab Mbak Nik.
"Ya udahlah gue pulang," ucap Amanda.
Jessy pun ikut menyusul.
Sementara Mbak Nik hanya bisa geleng- geleng kepala.
"Oalah perempuan jaman sekarang, tau aja ada duda ganteng langsung kecentilan, untuk Pak Binar nggak di rumah," batin Mbak Nik menutup pintu, dan mengintip dua mobil mewah yang menjauh dari pelataran rumah Binar.
"Tapi ngomong- ngomong mereka kemana ya?" batin Mbak Nik juga penasaran.
****
Bu Wira yang baru saja menghadiri undangan sebuah acara sosial, memicingkan matanya membuka ponselnya. Kedua rahangnya pun menyaty dan mengeras, darag Bu Wira terasa mendidik mengeja setiap kata yang Binar susun
"Kurang ajarrr...," gumam Bu Wira.
Isyana dan Binar ternyata menghubungi Bu Wira karena tidak punya nomer Mika.
"Hoooh. Kalay Isyana bersama Binar lalu siapa pemuda yang bernama Adnan itu. Kenapa Mika menyeretnya dan Mika jadikan dia penyebab perceraian Isyana?"
Bu Wira, berfikir dan Ingat Adnan. Dulu Bu Wira memang tidak datang di acara persidangan perceraian Isyana dan Lana. Bu Wira tidak tahu tentang Adnan.
"Ada apa Mah?" tanya Tuan Wira berbisik ke Bu Wira.
Mereka berdua kan tamu kehormatan dan duduk di bangku depan. Bu Wira dan Tuan Wira haruse selalu bersikap elegan dan ramah. Tuan Wira sangat peka, istrinya terlihat panik dan gusar.
"Lana sekarang ada di sebuah Puskesmas, di kampumg neneknya Isyana. Dia berkelahi dengan Binar," tutur Bu Wira berbisik
"Haaaisssshh si Lana," gumam. Tuan Wira mendesis.
__ADS_1
"Mamah ke belakang dulu Pah. Mamah harus telpon Arbi untuk jemput Lana!" bisik Bu Wira pamitan
"Ya, bereskan cepat!" jawab Tuan Wira.
Bu Wira kemudian menegakan tubuhnya, menata kembali rambut dan bibirnya agar tetap tersenyum elegan
"Bunda.. saya pamit ke kamar mandi dulu. Di sebelag mana ya?" bisik Bu Wira bertanya pada satu istri Bupati di bawah kekuaasaan Tuan Wira.
"Oh. Biar diantar panitia. Nyonya," jawabnya.
"Tidak usah, merepotkan sekali. Hanya ke kamar mandi ini. Kasian mereka kan sibuk. Tunjukan saja dimana?" jawab Bu Wira merendah dan bersikap humble.
Istri Bupati itu pun menunjukan arah kamar mandi. Dengan bergerak cepat Bu Wira menuju ke kamar mandi dan menelpon Arbi.
"Bawa Lana pulang. Biar dokter keluarga yanh merawatnya!" titah Bu Wira
"Siap Nyonya!" jawab Arbi.
Bu Wira segera menutup teleponya dan membenahi make up nya lalu kembali ke sisi Tuan Wira.
Karena gelisah ingin tahu keadaan Lana, Bu Wira dan Tuan Wira tak mengikuti acara sampai selesai. Setelah acara sambutan dan makan mereka langsung bertolak menuju ke rumah Lana.
"Itu mobil, siapa?" gumam Bu Wira.
Di depan pintu gerbang rumah Lana terparkir sebuah mobil kecil kelas menengah. Bu Wira dan Lana kan sangat menjaga privasi rumahnya. Siapa orang itu.
"Siapa dia kok ikut masuk?" gumam Bu Wira panik.
"Gimana sih kerja satpam?"gumam Tuan Wira ikut kesal.
Ya Tuan Wira juga sangat membatasi bertemu orang asing. Mereka berdua kemudian keluar dan menanti siapa pemilik mobil itu.
Tampak pria manis, tampak tinggi kecil, tak begitu kekar, wajahnya kalem dan tenang, seperti oramh baik- baik tapi nyalinya tinggi.
Security tampak mencegah langkah si pria itu.
"Maaf Mas, kalau mau bertemy Tuan harus ada janji dulu. Ayo ikut saya kantor," ucap satpam.
Pria itu menoleh ke Bu Wira dan Tuan Wira denngan memancarkan tatapan menelisik.
"Saya hanya meminta waktu sebentar," ucap Pria itu.
"Tapi harus isi buku tamu dulu," ucap satpam ngotot.
"Biar saja!" celetuk Tuan Wira.
Pria itu tampak tersenyum
Tuan Wira pun mendekat. "Siapa kamu? Ada perlu apa datang ke kediaman Putraku?" tanya Tuan Wira.
__ADS_1
Pria itu tersenyum lalu membungkukan badan.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Wira Hanggara," tutur Pria itu malah menyapa Tuan Wira.
Tuan Wira dan Bu Wira memperhatikan sejenak.
"Siapa kamu?"
"Perkenalkan, Saya Adnan. Saya harus menyampaikan beberapa hal pentinh pada Anda dan Tuan Lana," tutur Adnan sopan
"Gleg!" Bu Wira langsung melotot,baru tadi dia membatin tentang Adnan sekarang ada di depanya.
Tuan Wira kemudian menoleh ke istrinya.
"Mau ada perlu apa? Isyana sudah tidak tinggal di rumah ini!" tanya Bu Wira menyerobot.
Adnan tersenyum, rupanya dia tepat sasaran Bu Wira mengingatnya.
Sementara Tuan Wira yang tidak banyak ikut camlur urusan Lana hanya mengernyit.
"Saya tahu itu. Saya hanya ingin menggenapkan hytang saya pada Isyana, mohon waktunya sebentar," tutur Adnan meminta.
"Baiklah, silahkan masuk!" ucap Bu Wira.
Lalu Adnan mengikuti Bu Wira masuk ke ruang tamu.
****
"Oh my god. Si tua itu ngapain ke sini? Tukanh sayur itu? Haaah... tamat riwayatku?" batin Mika dari atas kasur mengintip dari jendela.
Mika langsung gelagapan dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ponsel Mika tak bisa digunakan, keluarpun tak bisa.
"Hiks... aku harus kemana? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Mika bingung.
****
Tuan Wira dan Bu Wira duduk. Pelayan yang menyadari kedatangan Tuan besarnya mendekat.
"Kenapa masih sepi? Apa Lana dan Arbi belum tiba?" tanya Bu Wira belum.
"Belum Nyonya," jawab pelayab
"Ya sudah buatkan minuman untuk tamuku!" perintah Bu Wira.
Bu Wira pun kembali menemui Adnan. Bu Wira menelisik Adnan, katanya Adnan tukang sayur, tapi sekarang tak seperri tukang sayur. Meski hanya mobil LCGC keluaran pabrik yang dia bawahi, tapi Adnan bawa mobil.
"Katakan apa yang ingin kamu sampaikan? Adnan?" tanya Bu Wira kemudian.
Belum Adnan memulai mobil Arbi dan Lana beserya anak buahnya tiba.
__ADS_1