Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 148 (3) - MANIS NYA ISTRI KU


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote,...


...hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel...


...ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi karya Author yang lain dengan...


...judul "PERTEMUAN", "TAKDIR", dan "CINTA KU MAFIA KU" "AKHIRNYA ISTRI KU PERGI"...


...Tolong hargai penulis dengan menunjukan dukungan kalian....


.............


.......


.......


Collin memeluk kedua adik nya dengan erat meski adik - adik nya yang aktif itu memasang wajah tak suka. Adik - adik Collin yang sangat aktif itu menyukai kebebasan, selain papa dan mama nya yang memeluk mereka, mereka akan sangat risih meski pelukan itu dari Collin sendiri maupun kakak nya Adel.


"Ku rasa sudah banyak deh video nya, kamu juga Nissa kesini, biar kita bikin video sama - sama"


"Nggak mau kalau bikin sama - sama nanti kamu lupa buat videoin diri sendiri"


Nissa tahu betul sifat suami nya itu, Suami yang hanya mencintai nya itu tak akan pernah menampakkan wajah nya dalam video. Ben akan fokus memvideokan anak - anak dan istri nya. Seolah memang itu lah pekerjaan nya.


"Nggak kok...."


Ben masih bersikeras bahwa pria yang disebutkan oleh Nissa itu bukan diri nya.


"Permisi Tuan, Nyonya....."


Percakapan kedua nya terhenti oleh kedatangan Robert yang membawa sebuah amplop di tangan nya.


"Ada apa Robert?" Tanya Ben.


"Ini ada kiriman dari Tuan Edison, saya rasa ini tiket teater dari tuan Edison"


"Baiklah, taruh saja di ruang kerja ku, siapa nama penyanyi teater itu?"


"Nona Marley Tuan, Marley Edenbert"


"Baiklah, kau boleh pergi"


Nissa tak percaya bahwa tiket teater yang biasa nya harus pesan jauh - jauh hari bisa langsung ada hanya sekali telfon.


"Cepat sekali ya dapat tiket nya, kalau pakai cara biasa mungkin bakal lama buat pesan nya"


"Yah Edison teman dekat Marley...."


Ben terlihat sedang tidak fokus seolah pikiran nya sedang tak ada di sini bersama Nissa.

__ADS_1


"Kenapa Ben?"


"Nggak, ku rasa aku pernah mendengar nama Marley Edenbert......tapi di mana ya?"


"Bukan kah dia penyanyi terkenal? Aku juga sering liat poster nya di gedung - gedung besar"


"Kamu kan tahu aku tidak tertarik begitu, dan aku belum pernah menonton pertunjukan Marley sekalipun....Yah mungkin saja aku pernah melihat nya di suatu acara"


Nissa pun mengangguk setuju, belum sempat ia menyimpan video di handphone nya, tiba - tiba saja ada bau menyengat yang keluar dan seketika air kolam berubah warna.


"Ma!! Edmund Pup Ma!! Iih jorokkk!!" Collin yang berteriak itu segera menjauhi air keruh itu dan berenang ke tepian untuk naik ke tepi kolam.


"Ya ampun Edmund!! Kamu Kok Pup di sini" Ben segera mengangkat Edmund dari pelampung.


Nissa juga melakukan hal yang sama kepada Edgar. Karena mereka menggunakan pelampung yang berbeda dari bebek karet tadi, sehingga tubuh si kembar menyentuh langsung air kolam.


"Hahahaha seperti nya bau kita sudah sama seperti pup nya Edmund" Ucap Ben sambil tertawa riang.


"Kalau begitu, kita mandi kan saja semua nya, kolam juga harus di kuras semua tuh"


"Biar saja pelayan yang mengganti air nya, sekarang kita harus memandikan mereka" Ucap Ben.


"Papa! Collin juga!! Bau Collin ueekkk!! Nggak enak"


Wajah Collin yang ingin muntah itu membuat semua nya tertawa akan kelucuan Collin kecil.


.


.


.


"Ohhh Red"


Ben berdiri di depan pintu sambil menatap istri nya yang sedang berhias diri.


"Sabar ya... sebentar lagi selesai"


"Santai saja, Aku suka melihat mu berdandan, tapi jarang sekali ya kamu pakai gaun ini, apalagi warna merah terang begini bahkan lipstik kamu..."


Ben mendekat kan bibir nya ke bibir Nissa namun segera Nissa halang dengan tangan nya.


"Kenapa?!"


"Ingat kan aku masih berdandan? Kalau kamu rusak sekarang, tahu kan aku harus mengulang lagi make up nya?"


"Kita batalkan saja menonton nya, bibir kamu lebih nikmat istri ku"


"Ben!! Sayang dong tiket nya, lagian apa jadi nya kalau bangku kita kosong, kan kasian sama orang yang datang bakal pusing cari bangku nya"

__ADS_1


"Tempat duduk kita VVIP jadi nggak masalah"


"Ben....."


Ben pun akhirnya mengalah dan memperhatikan Nissa dari belakang saja. Setiap Nissa menyapu kuas wajah di pipi Nissa untuk membubuhkan perona pipi, jantung Ben berdetak kencang. Setiap bedak yang terbubuhkan di wajah Nissa membuat kilau wajah wanita itu semakin indah. Terutama lipstik merah mawar itu semakin membuat Nissa sangat mempesona layak nya Taylor Swift.


"Beres deh"


"Kamu cantik sekali"


"Terimakasih My Lord"


Nissa pun menggandeng tangan Ben dan bersiap pergi ke Gedung Teater.


.


.


.


Di gedung Teater....


Ini pertama kali nya Nissa memasuki gedung teater Opera. Cerita The Phantom of Opera cukup terkenal dan sudah sering di bawakan kan dengan berbagai mac penyanyi dari berbagai negara. Kali ini penyanyi yang akan membawa kan nyanyian sebagai peran utama wanita adalah Marley Edenbert.


Nissa sudah melihat poster di depan gedung, wajah Marley itu sangat - sangat indah. Mata nya yang sehijauh topaz dan kulit putih nya berpadu indah dengan rambut nya yang pirang. Marley Edenbert sangat indah mempesona.


Nissa bisa melihat aura bintang dari Marley Edenbert meski hanya dari poster di depan.


"Ben!!" Suara yang tak asing menyapa mereka.


Siapa sangka Edison dan Lyra pun sedang menonton pertunjukan itu juga. Kedua nya terlihat sangat mesra sambil mengenakan pakaian yang senada. Keduanya terlihat begitu indah bersama terutama wajah mereka.


"Kalian di kursi ke berapa?" Tanya Ben sambil melihat ke sekitar.


"Kami di sebelah kalian, maaf jika suara kami akan menggangu kalian" Ucap Lyra.


Lyra tersenyum jahil sambil memeluk lengan Ed dengan mesra. Bahkan meski Nissa dan Ben sudah menikah jarang sekali Nissa menggandeng suami nya dengan gerakan mesra seperti lyra. Edison dan Lyra pun segera menaiki tangga menuju ke lantai dua.


"Kita juga naik?" Tanya Nissa.


Ben membantu Nissa menaiki tangga dan menjaga agar gaun Nissa tidak terinjak.


"Iya, VVIP itu berada di balkon atas dan yang pasti tempat duduk nya bisa dengan mudah melihat pertunjukan dan suara nya juga akan lebih keras terdengar"


Bangku VVIP akan melihat pertunjukan dari atas dan melihat semua isi panggung dengan luas. Seolah pertunjukan itu memang milik mereka.


"Hmm gitu, lalu apa maksud Lyra bahwa suara mereka akan mengganggu kita?"


Nissa yang polos itu, meski sudah melahirkan empat orang anak, ben tak menyangka bahwa istri nya sangat lah polos.

__ADS_1


"Kamu akan tahu apa maksud dari perkataan Lyra dan Edison tadi, kamu tahu nggak kenapa banyak orang yang berkencan dengan mencari bangku VVIP?"


-bersambung-


__ADS_2