Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 108 - KETIKA MEMBUKA MATA


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa untuk memberikan dukungan ke karya author yang lain dengan judul "Cinta Ku Mafia Ku" dan "Pertemuan"....


...*...


...*...


...*...


Mata Nissa terlalu berat untuk ia buka, tubuhnya lelah dan setiap inci tubuhnya terasa perih dan pegal serta terasa sakit yang luar biasa. Ia mendengar suara buah hatinya, Collin, Edgar dan Edmund, suara mereka terus terngiang-ngiang. Dengan kondisi Nissa yang belum stabil sejak kemarin, Nissa tidak dianjurkan untuk menyusui, Nissa menangis karena mau tidak mau si kembar harus diberikan susu formula.


Ben berkata bahwa ini hanya sementara karena, Nissa belum boleh menyusui, Nissa telah disuntikkan obat penghilang rasa sakit yang takutnya akan mempengaruhi asi serta dari asi itu akan dikonsumsi oleh si kembar, itu sangat tidak dianjurkan.


Tak...tak...tak....tak


Bunyi - bunyi itu membuat Nissa mau tidak mau membuka mata nya. Dilihatnya Ben ada di sampingnya sambil mengetik sesuatu. Suami nya merupakan orang yang suka bekerja keras meski begitu, tak pernah sekalipun Ben mengabaikan tugasnya sebagai suami, bahkan Ben telah memberikan banyak hal berlebih yang belum tentu dilakukan oleh suami - suami lainnya di dunia ini.


"Hmmm.....jam berapa ini?" Tanya Nissa, suara nya masih serak dan belum bisa pulih karena kelelahan.


"Masih pagi, tidurlah lagi, anak - anak juga masih tidur"


.


.


.



.


.


.


Ben menunjuk ke hadapan Nissa yang sudah tersedia tiga ranjang bayi, yang dimana ada Collin, Edgar dan Edmund disana.


"Ben, Aku merindukan mereka, biarkan aku memeluk mereka"

__ADS_1


"Nanti ya, mereka masih tidur....dan juga tulang kamu bisa bergeser lagi kalau banyak bergerak, tidur lah lagi"


Ben pun fokus kembali dengan layar laptop nya dan mulai mengetik. Nissa memperhatikan Ben lekat - lekat, suami nya memang sangat tampan, dan ketampanan Ben itu mengalir kental ke wajah anak - anak nya.


"Kenapa memandangi ku seperti itu? Wajahku bisa berlubang jika dipandangi dengan terang - terangan begitu" Ben menggoda Nissa yang tak sadar tingkahnya terlihat oleh Ben.


"Kamu sedang apa sih?" Tanya Nissa.


"Membalas surat dari pihak kerajaan, Dubes tidak bisa berkompromi dengan baik, Aku sudah memberikan waktu tiga hari mulai dari sekarang, jika eksekusi ku tidak di terima, Aku yang akan turun tangan langsung, berani sekali orang dari warga negara lain menghancurkan rumah Silver, rumah itu punya sejarah yang panjang, Boston saja dulu, tidak sampai menghancurkan rumah meski dia melakukan pembantaian"


"Dewina dimana? Dia terluka keras, aku kasihan dengan nya"


"Khawatirkan saja tubuh kamu dulu, tulang kamu banyak yang bergeser, butuh waktu lama buat kamu bisa berjalan normal"


Ben benar, ini bukan waktu nya untuk mengkhawatirkan orang lain. Ia harus fokus dengan kesembuhan nya terlebih dahulu.


"Bagaimana dengan Ed dan Lyra? Mereka baik - baik saja?"


"Ed masih kritis, dan Lyra....dia sedang melakukan misi memusnahkan Bianca bersama Alex"


"Bianca? Siapa Bianca?"


"Tapi kenapa Lyra...."


"Nissa, terkadang rasa yang amat kuat lah yang mendorong orang untuk lebih berani, begitu juga dengan yang Lyra perbuat sekarang, ia tahu bahwa hukum dan negara pasti akan membebaskan Bianca makanya ia melakukan hal ini"


Sejak Nissa melihat Lyra bercerita tentang masa lalunya, Nissa yakin masih ada rasa cinta di lubuk hati Lyra meski sudah tertumpuk oleh rasa sakit dan luka, meski begitu keduanya masih bisa saling memperbaiki segalanya perlahan - lahan. Hubungan mereka masih bisa diperbaiki karena mereka masih saling merindukan satu sama lainnya dan menjaga perasaan itu.


"Nissa, berapa hari lagi, aku akan membawa mu kehadapan keluarga kerajaan, kita akan rapat mengenai masalah Dewina ini bersama dengan keluarga kerajaan, apa kamu mau?"


"Tentu saja, ada kamu juga kan Ben?"


"Iya, tapi... keluarga kerajaan itu bukan lah orang yang menyenangkan dan akan membiarkan kesalahan sedikit saja lewat, Aku bisa melindungi mu, tapi kamu juga harus tetap waspada, mereka bukanlah orang yang ramah"


"Aku akan berjuang jika ada kamu bersama ku"


"Terimakasih Nissa"

__ADS_1


.


.


.


Di Area Rumah Silver.....


"Waahhh, rumah nya hancur sekali, butuh berapa lama ya buat membangun kembali rumah ini?" Kate membantu Bentley dan Robert membersihkan rumah Silver dan mengambil barang - barang penting lainnya.


"Entahlah, pembangunan mulai di bangun besok, mungkin akan memakan waktu berbulan - bulan" Jawab Bentley.


Robert memandangi ke arah makam dan rumah yang dibangun tuan nya demi mengenang nyonya nya, Orang tua dari Ben dan Simon. Satu - satunya bangunan yang masih berdiri kokoh, serta ruangan bawah tanah yang tak tersentuh sama sekali. Selain itu, semua nya hancur menjadi puing - puing karena ledakan bom dan tembakan yang merajalela.


"Tuan, Nyonya, maafkan kesalahan saya yang tidak bisa melindungi rumah ini dengan baik" Ucap Robert sedih.


"Jangan bersedih Robert, meski rumah ini tidak bisa diselamatkan oleh mu, tapi kau bisa menyelamatkan cucu - cucu mereka meski tubuh mu menghalau semua peluru yang datang" Ucap Kate.


Kate lah yang paling tahu, bahwa Robert berusaha mati - matian melindungi si kembar dan Collin dari arah tembakan. Kate pun berpindah mencari barang - barang berharga lainnya. Kate sangat terkejut bahwa ternyata Boss nya sangat Bucin terhadap istri dan anak - anak nya.


"Mengapa banyak sekali foto nyonya dan tuan muda?" Tanya Kate pada Bentley.


"Tuan memang begitu, karena dia sangat menyayangi keluarga nya, tuan selalu mengabadikan nya dengan video atau foto, baginya itu benda bersejarah dan wajib di selamatkan. Saya dulu bekerja di rumah mantan Boss anda, saya kira bahwa semua Majikan itu seperti mantan Boss anda, tapi setelah saya bekerja disini, ternyata pikiran saya salah"


"Tunggu mantan Boss saya? Pak Andhika?"


"Ya, Dulu saat saya kerja disana, beliau sering menghancurkan piring - piring ketika marah dan sering menyuruh - nyuruh saya melakukan banyak hal, yang kadang itu bukan tugas saya"


Kate mengangguk mengerti, ia tahu bertapa tempramen nya pak Andhika itu.


"Tapi tuan beda sekali, Tuan Benedict memperlakukan semua pekerja dengan baik dan hormat, bahkan ia mau bekerja di dapur sendiri demi nyonya, di tengah malam pun ia tidak pernah membangunkan pelayan jika bukan hal mendesak, yang paling saya senangi saat disini adalah, semua pelayan disambut hangat dan dihargai, makanya rumah ini juga penting bagi kami para pelayan"


Kate tersenyum dan mengerti arti dari ucapan Bentley, Boss Benedict memang berbeda dari Boss yang lainnya, bahkan ditempat kerja pun ia begitu perhatian kepada para pegawai dan menyediakan banyak fasilitas untuk membuat pegawai betah berada di kantor dan mempekerjakan mereka secara manusiawi.


"Baiklah, demi Boss Benedict, Ayo kita bantu dia membangun rumah yang baru!!!" Teriak Kate.


"Bagus!! Itu yang dinamakan semangat"

__ADS_1


-bersambung-


..."Seseorang bukan dihargai karena kekayaan nya tapi karena kebajikan dan perbuatannya lah yang membuat orang lain menghargai nya dengan tulus"...


__ADS_2