Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 86 - SEBENARNYA....


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa untuk mengunjungi novel lanjutan dari novel ini, Cinta Ku Mafia Ku. Terimakasih....


...*...


...*...


...*...


...*...


"Sebenarnya....."


"Sebenarnya apa Nissa?" Ben masih bertanya dengan lembut.


Jujur saja, Ben takut terjadi apa - apa kepada Nissa, sehingga Ben tak bisa memikirkan hal lainnya dengan tenang, tapi ketika melihat Nissa yang baik - baik saja dihadapan nya, Ben mulai merasa lega. Rasa kantuk dan lelah nya mulai terasa berlahan, sehingga untuk nya bicara pun mulai terasa sulit.


"Apa kamu bisa tidak marah jika mendengar nya?"


Entah kenapa Ben merasa tidak enak mendengar Nissa yang ragu - ragu bicara padanya.


"Katakan saja"


"Sebenarnya Ibu Andhika menghubungi ku, dia baru saja sampai ke Paris kemarin dan ingin menemui ku, karena itulah aku menemui nya ke Restoran di dekat bandara, tapi kami terjebak badai, jadi kami menginap di restoran itu bersama yang lain nya" Nissa menjelaskan nya dengan hati - hati.


Wajah Ben mulai tegang dan mengeras, raut wajah yang berbeda tampak dari wajah Ben. Nissa menunggu reaksi yang Ben berikan padanya.


"Apa orang itu ada di sana?" Tanya Ben.


"Tapi ramai kok, ada pengunjung restoran yang lain nya, dan ada ibu nya juga....ada...."


"Aku tanya, apa Andhika ada bersama mu?!!!!" Teriak Ben dengan kesal.


Nissa terkejut karena kemarahan Ben, lalu tak ada guna nya bagi Nissa mengelak lagi, Nissa pun mengangguk.


"Tapi....tapi...."


"Nissa! Aku tidak pernah mengajari mu seperti ini, Aku selalu memberikan apapun yang kau mau bahkan tidak pernah membatasi kegiatan mu, apa lagi yang kurang? Kau masih menginginkan menemui mantan suami dan mantan nenek mu tanpa Adel?!! Apalagi yang akan kau jadikan alasan?!!"


Kau.....Ben belum pernah berkata pada Nissa menggunakan kata "Kau". Bahkan sebelum mereka menjadi suami istri Ben selalu menggunakan kata Anda atau Kamu kepada Nissa, tapi ini.....Kau. Nissa sadar bahwa ia salah dan ini bukan hal yang sepele, padahal ia tak bermaksud begitu.

__ADS_1


"Ben aku salah, maafkan aku, tapi ibu Andhika tak kenal siapa pun disini, dia datang ke sini sebagai saksi untuk pengadilan nanti, Ibu Andhika tak bisa menghubungi Andhika sama sekali, jadinya dia menghubungi ku, Aku pikir jika menemui nya maka aku bisa menyelesaikan dengan jalur damai dan meminta nya ada di pihak ku"


Nissa mencoba menjelaskan maksud nya dengan pelan dan lemah lembut agar Ben bisa mengerti bahwa ini adalah kesalahan yang tak disengaja.


"Lalu bagaimana Andhika bisa bersama kalian?" Ada nada dingin dari ucapan Ben.


"Andhika datang setelah membaca pesan dari ibunya, ia bisa sampai ke Restoran sebelum badai semakin besar, Aku bersumpah tak melakukan hal apapun, kami hanya berbicara dan berdiskusi bersama ibu nya, bahkan disana ramai dengan para pengunjung Restoran yang tak bisa pergi"


Nissa melihat nya....Ben mengepalkan tangan nya dengan kuat, tanda bahwa Ben menahan amarah nya.


"Lalu kenapa kau tidak menjawab telfon ku?" Ben mencoba mengerti dan mendengarkan semua hal yang perlu ia ketahui.


"Handphone ku kehabisan baterai, disana sedang ada pemadaman sampai pagi ini, Bahkan tak ada yang bawa power Bank, Maaf Ben....sungguh aku minta maaf"


"Handphone Andhika? atau handphone yang lain nya? Kenapa kau tidak menelfon ku dengan handphone mereka?"


"Aku....aku tak hafal nomor mu"


Seketika amarah Ben ingin ia luapkan semua nya. Semalam ia khawatir bahwa Nissa bisa kenapa - napa tapi ini.....Nissa dengan santai dan menjawab bahwa ia tak hafal nomor Ben yang merupakan suami nya.


"Kau keterlaluan Nissa!" Itulah komentar yang Ben berikan, masih berusaha tak mengeluarkan semua amarah nya yang memuncak.


"Kau serius bicara begitu? Nissa....kau sedang hamil !! Aku sebagai suami khawatir kepada mu yang tak bisa dihubungi, apa itu salah? Anak kita semalaman demam tinggi, apa kau tahu itu?!! Aku ingin mencari mu dan menerjang badai, tapi Collin sedang demam dan Adel di rumah, bagaimana bisa aku meninggalkan anak - anak?!"


"Ben aku sungguh tak tahu Collin demam, aku ..."


"Tentu saja kau tak tahu, karena orang itu lebih penting!"


"Bukan begitu!!!!"


"Lalu seperti apa?!!! Aku tak tidur dan tetap terjaga dengan handphone ku, barangkali akan ada telfon mengenai keberadaan mu!! Aku mengirim anak buah ku ke segala penjuru!! Mereka hampir mati beku karena melewati badai demi mencari mu, di rumah sakit, daerah longsor, bahkan bandara, mereka menyusuri tempat itu berkali - kali, Dan kau bilang apa? Lupa nomor ku?"


"Maaf tapi aku memang lupa nomor mu!!"


"Apa kau ingat bahwa gelang keluarga yang kita bikin, Ada nomor ku disana, bahkan ada lambang keluarga serta diperbaharui dengan sensor GPS jika kau mengaktifkan nya, Apa kau ingat, tentang gelang yang masih ada di tangan mu itu?"


Nissa baru ingat, bahwa sejak Adel diculik terakhir kali, Ben sudah memperbaharui fitur di gelang dengan sensor GPS yang akan memberitahu kan keberadaan mereka jika mengaktifkan tombol yang ada di gelang. Karena Nissa tak terbiasa dengan barang seperti itu, pikiran nya tak sampai ke sana.


"Tidak ingat kan? Karena selama kau disana, tak ada celah di hatimu yang memikirkan aku maupun anak - anak!! Padahal jika kau memasang nama mu di jendela restoran, anak buah ku pasti akan menemukan mu!! Kau terlalu hanyut dalam reuni mu dengan mantan suami dan mantan mertua mu!!"

__ADS_1


"Ben sungguh tidak begitu...."


Srakkkk.....Ben menepis tangan Nissa yang menyentuh nya.


"Harus seberapa banyak lagi, kau mau menyakiti ku?"


.


.


.


.



.


.


.


.


Ben melewati Nissa dan pergi tanpa menoleh, Ben sepertinya menuju ke ruangan kerja nya, Nissa merasakan Ben seakan menjauh darinya. Bantingan keras dari pintu di ruang kerja Ben menandakan Ben tak akan mau diganggu siapapun. Tanpa diketahui oleh keduanya Adel sudah ada disana sejak pertengkaran mereka. Saat Nissa hendak naik ke kamar nya, Nissa terkejut melihat Adel yang berdiri tegap di ujung tangga.


"Adel? Bagaimana keadaan Collin? Kamu sudah sarapan?" Tanya Nissa.


"Apa mama tahu, papa semalaman tak makan maupun minum? Pagi ini saja papa tak makan atau minum apapun, Apa mama tahu, saat Adel menyuruh papa makan, papa bilang begini.........Bagaimana bisa papa makan saat papa tak tahu apa mama sudah makan atau belum"


Hati Nissa terasa sakit, ia sangat kelewatan kali ini.


"Adel maaf kan mama....tapi mama...."


"Jangan minta maaf sama Adel ma, Adel baik - baik saja karena papa mengurus Adel dan Collin dengan sangat baik semalaman, tapi hati papa terluka, Adel tidak akan ikut campur karena ini masalah orang tua, tapi ma...Adel berharap mama bisa pulang tadi malam"


-bersambung-


..."Terkadang Luka gores di hati lebih sulit untuk diobati daripada luka gores di fisik"...

__ADS_1


__ADS_2