Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 87 - MUAK


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah, dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga dukung Novel Cinta Ku Mafia Ku yang merupakan lanjutan dari novel ini. Terimakasih....


...*...


...*...


...*...


...*...


"Maaf Adel, mama minta maaf....mama hanya tidak mau kehilangan kamu dan....."


"Mama nggak mau kehilangan Adel tapi nggak masalah kehilangan Collin? Ma, Collin masih kecil....dia butuh mama, Adel sangat takut sekali karena Collin terus menangis dan demam nya sangat tinggi"


Adel akhirnya menangis juga, Adel tidak menunjukkan ketakutan dan kesedihan nya di hadapan Ben. Adel berusaha untuk kuat karena ia seorang kakak, tapi Adel memikul juga rasa sedih dan ketakutan karena tak tahu harus berbuat apa.


Pelayan nya terus menanyakan akan bagaimana, bahkan ketika pelayan nya akan menelfon dokter, Adel juga ragu sekali takut apa yang akan ia lakukan salah. Adel terus berdoa dalam hatinya bahwa mama dan papa nya akan pulang. Syukurlah saat itu Papa nya pulang, meski begitu Adel masih harus tetap kuat.


Karena Adel tak ingin melihat papa nya juga khawatir kepada nya. Papa nya sudah cukup khawatir dengan keadaan Collin dan mencari keberadaan mama, Adel tak ingin menambah kekhawatiran papa nya.


Nissa segera memeluk Adel dengan erat dan ikut menangis. Nissa menyesal akan perbuatannya yang tak memikirkan perasaan yang lainnya. Nissa hanya bertumpu pada pikiran nya yang tak ingin ada pertikaian di pengadilan nanti.


"Maaf kan mama, seharusnya mama tidak pergi, jangan menangis ya Adel, mama yang salah, kamu berhak marah dengan mama, tapi jangan menangis ya"


"Huaaaaa huaaa huaaa" Suara Collin yang menangis mulai terdengar.


Nissa segera berlari menuju ke kamar dan mencari Collin. Nissa memeluk Collin sambil bercucuran air mata nya.


"Demam tuan muda tiba - tiba naik lagi Nyonya" Ucap Bentley.


"Maaf kan mama sayang, nggak Seharusnya mama ninggalin kamu kemarin, meski sebentar nggak seharusnya mama pergi ninggalin kamu"


Tak lama kemudian pintu kamar itu dibuka dengan sangat kasar. Ben masuk ke kamar dan melihat Nissa masih dengan tatapan yang marah.


"Ben...demam....Collin...."


Ben langsung mengambil Collin dari tangan Nissa dan pergi dari kamar.


"Ben, Collin masih demam, mau di bawa kemana dia?! Ben!!"

__ADS_1


"Kau tidak perduli pada kami semalaman, kenapa harus perduli pagi ini?" Sindir Ben dengan tajam.


"Ben aku salah, aku minta maaf, kamu boleh marah padaku, tapi jangan libatkan anak - anak"


"Kau masih ingat bahwa Collin anak mu? Kenapa semalaman bersama mantan suami dan mantan mertuamu kau tidak bisa ingat bahwa kau seorang ibu yang memiliki anak di rumah nya?!!" Bentak Ben dengan kesal.


Ben tak pernah sekesal ini kepada Nissa. Apapun yang Nissa lakukan belum pernah membuat nya semarah ini. Baginya yang Nissa lakukan itu konyol dan menyebalkan, Ben hanya tak menyangka bahwa Nissa bisa meninggalkan anak - anak di rumah dalam keadaan badai.


"Aku tak menyangka akan ada badai, karena saat aku pergi, badai belum turun....Aku juga sudah berbicara kepada pelayan bahwa aku pergi tapi aku tidak ingin kamu marah, makanya aku tidak bilang pergi kemana dengan jelas....Maaf Ben"


Entah kenapa Ben yang mendengar kata maaf itu merasakan muak. Karena hal ini sudah sangat keterlaluan, Ben bahkan berani bertaruh. Mana ada suami yang akan biasa saja ketika tahu istrinya menemui mantan suami dan mantan mertua nya semalaman, lalu terjebak badai tanpa berkabar.


"Aku muak mendengar kata maaf itu, simpan saja maaf mu dan silahkan menemui mantan suami dan mantan mertua mu itu!!"


Nissa menangis dengan isakan yang keras, jujur saja Nissa tahu Ben akan marah tapi Nissa tak menyangka Ben akan semarah ini. Ben langsung berjalan menuruni tangga sambil menggendong Collin yang terus saja menangis.


"Ben...." Nissa masih memanggil - manggil Ben dengan tangis nya.


"Papa mau pergi, Adel mau ikut papa atau tidak?" Tanya Ben kepada Adel.


Adel terlihat bingung namun akhirnya Adel memutuskan ikut dengan papa nya, Adel berfikir bahwa mama nya perlu kesendirian untuk memikirkan kesalahan nya.


"Aku akan membawa anak - anak pergi, Aku akan membuat mu merasakan apa yang ku rasakan semalaman, saat aku kembali, kuharap kau bisa tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu!!"


Ben dan Adel pun naik ke mobil bersama Collin yang masih terus menangis sejak tadi. Tubuh Collin semakin panas dalam pelukan Ben.


Maafkan papa yang harus memisahkan kami dengan mama mu Collin, tapi mama kamu perlu belajar untuk menghargai setiap apa yang dia punya.....


Nissa mengejar mobil Ben dan hampir terjatuh, karena mobil itu berlalu pergi dengan cepat, Nissa memandangi mobil itu dengan kesedihan yang tak bisa ia jelaskan dan mulai mencari cara untuk menemukan ke mana pergi.


*


*


*


*


__ADS_1


*


*


*


*


Nissa...apa selama nya kamu tidak akan pernah bisa lepas dari bayang - bayang Andhika? Mau seberapa banyak lagi kamu menyakiti ku karena Andhika dan keluarga nya? Kenapa kamu harus selalu menyusahkan diri demi orang itu?


"Trave, kita ke rumah sakit" Ucap Ben kepada supir nya.


"Siap tuan"


"Papa..." Adel berbicara kepada papa nya dengan nada khawatir.


Ben baru sadar bahwa tindakan nya juga gegabah karena melibatkan anak - anak dalam masalah ini.


"Maafkan papa ya sayang, nggak seharusnya papa melibatkan kalian dalam hal ini.... tapi....."


Adel bisa melihat papa nya begitu sedih, dan Adel bisa melihat dengan jelas bahwa mama nya telah menorehkan luka lagi kepada papa nya. Setitik air mata keluar dari pucuk kelopak mata Ben. Ben terus memeluk Collin dalam dekapan nya.


"Papa, maafkan mama ya....Adel rasa mama juga punya beban yang berat mengenai Adel dan Daddy, mama juga pasti sangat khawatir dan lupa dengan semua nya" Ucap Adel berusaha membuat suasana hati Ben lebih baik.


Ben memandang Adel dengan wajah terkejut.


"Adel, jangan bilang kamu mendengar semua yang mama kamu katakan?" Tanya Ben.


"....."Adel tak menjawab apapun tapi dari raut wajah Adel, Ben tahu bahwa Adel mendengar semua nya.


"Oh My God!!" Ben segera mendekat kan kepala nya ke dahi Adel.


Ben sedih bahwa anak sekecil Adel harus melihat pertengkaran orang tua nya. Pertengkaran bukan lah hal baik untuk dilihat anak - anak. Ben juga mengira bahwa sebelum pergi pun Adel bisa mengerti bahwa orang tua nya sedang bertengkar hebat.


"Adel maafkan papa, maafkan papa telah membuat kamu melihat semua hal ini"


-bersambung-


..."Orang akan lebih menghargai apa yang dimiliki nya setelah kehilangan"...

__ADS_1


__ADS_2