
Adel kecil menatap pepohonan di luar jendela kelas. Saat ini sedang berlangsung pelajaran sejarah yang menurut Adel begitu membosankan. Adel telah banyak belajar sejarah keluarga papa nya dari Robert, meskipun Adel tidak mempunyai minat terhadap sejarah sama sekali, pelajaran nya saat ini lebih membosankan dari pada pelajaran lainnya.
"Adelaide?" Professor Felicia memanggil Adel, ketika melihat gadis kecil itu terus menatap ke luar tanpa memperhatikan pelajaran nya.
Adel sama sekali tak menyahut, wajahnya terus menatap pohon di luar seolah nyawanya sedang tak berada di tubuhnya.
"Adelaide!!"
Teman sebangku Adel, Medellin menyikut Adel dengan keras.
"Awww" Teriak Adel.
Medellin segera menunjuk ke arah Professor Felicia yang terlihat sangat jengkel.
"Ada apa Adelaide? Kamu tidak enak badan? Tumben sekali kamu tidak fokus saat belajar"
"Maaf Professor, bisakah saya pergi ke ruang kesehatan? Seperti nya saya sedikit pusing hari ini" Alasan Adel saja untuk menghindari pelajaran ini.
"Baiklah, silahkan istirahat di ruang kesehatan"
Ruang kesehatan yang sunyi, Adel memikirkan banyak hal. Sidang penentuan hak asuh nya akan dilaksanakan beberapa Minggu lagi, mengingat sidang itu terus ditunda dan dilakukan berbagai macam mediasi dan Arbitrase, namun tidak satupun cara menemui jalan keluar nya.
Adel mengingat kembali berbagai kotak hadiah yang dikirimkan Daddy nya. Setiap hari sejak Daddy nya berada di sini, kotak - kotak penuh hadiah pun dikirimkan untuk Adel dari Daddy nya. Bahkan Daddy nya selalu rutin menemui Adel di sekolah nya, tak jarang banyak yang mengatakan hal buruk tentang kedatangan Andhika itu.
"Apa Adel harus bersama Daddy? Kenapa orang tua sangat sulit dimengerti?"
Malam nya.....
"Siswi yang bernama Adelaide, silahkan menghadap ke ruang informasi, pihak keluarga sudah menunggu, Sekali lagi kepada Siswi bernama Adelaide....." Pengumuman dari speaker asrama terdengar begitu jelas.
Dengan piyama dan sandal nya, Adel berlari menuju ke ruang informasi. Hatinya senang, ia menunggu kedatangan papa dan mama nya,setelah tahu apa yang terjadi kepada rumah Silver, Papa dan Mama nya belum pernah menemui Adel, namun dengan rutin Ben selalu menelfon Adel dikala waktu yang ia sempatkan.
"Papa!! Mama!!" Teriak Adel saat membuka pintu di ruang informasi.
__ADS_1
Namun orang yang ia lihat bukanlah orang yang ia harapkan. Daddy nya kembali datang di hadapan Adel.
"Adel, Ayo makan malam dengan Daddy, ambil jaket mu, Daddy sudah minta izin kepada pihak sekolah, Ayo kita makan malam bersama"
Sepanjang perjalanan menuju restoran, Andhika terus berbicara banyak hal namun hanya beberapa kata saja Jawaban dari mulut Adel.
"Bagaimana sekolah mu hari ini?" Tanya Andhika.
"Seperti biasanya baik" Jawab Adel.
Adel merasa asing, canggung dan terlihat tidak nyaman. Adel tak terbiasa diberi perhatian oleh Daddy nya seperti ini. Jangankan hadiah ataupun bertemu, dulu menelfon putri nya saja adalah hal yang sangat jarang dilakukan oleh Andhika. Adel tak terbiasa menerima perlakuan hangat ini tiba - tiba.
Sesampainya di restoran, Andhika memesankan banyak makanan untuk Adel, namun Adel hanya tertunduk sedih memakan makanan itu. Entah kenapa gadis kecil itu begitu sedih mendapatkan perhatian dari Ayah kandung nya.
"Adel, Daddy memesankan cake coklat untuk kamu, Daddy dengar kamu suka coklat kan?"
"Iya suka, tapi Adel dilarang mama makan coklat di malam hari, kata mama bisa sakit perut dan bikin gigi berlubang"
"Hahaha, mama kamu selalu saja aneh, tidak masalah makan coklat di malam hari tapi jangan lupa gosok gigi nya yang benar"
Garpu yang Adel pegang terus bergesekan dengan piring di hadapan nya.
"Dimana Tante? Bukan nya sekarang Daddy sudah punya anak kembar?" Tanya Adel.
Perkataan itu begitu menusuk hati Andhika, entah kenapa ketika mendengar Adel berbicara begitu, hatinya terasa ngilu. Adel jarang berbicara kepada Andhika tanpa di tanya terlebih dahulu, ketika pertanyaan pertama itu Adel tanyakan kepada Andhika, ia tak menyangka akan begitu menusuk hatinya.
Andhika bisa melihat ia telah melewatkan banyak hal dalam hidupnya, ia kehilangan momen nya bersama putri nya. Lebih daripada itu, Andhika bisa melihat betapa jauh jarak di antara mereka.
"Tante sekarang sedang liburan bersama anak - anak, Apa kamu mau menemui Tante dan anak Daddy?" Tanya Andhika dengan lembut.
"Daddy...kenapa Daddy terus datang kesini? Bukankah biasanya Daddy hanya mengirim hadiah dengan kartu saja?"
__ADS_1
Adhika terdiam dan tak bisa berkutik dihadapan Adel ketika Adel mengatakan hal itu. Hatinya penuh dengan penyesalan, padahal yang ia harapkan adalah dekat dengan putri nya.
"Daddy ingin tinggal bersama Adel dan membawa Adel bersama Daddy, apa Adel mau? Kamu bisa bebas melakukan apapun tanpa khawatir ada yang mengejek kamu berbeda. Disini kamu akan selalu diperlukan berbeda, tapi di tempat Daddy berbeda"
Adel menatap Andhika dengan diam, sedangkan Andhika terus menunggu jawaban dari Adel.
"Kenapa?" Tanya Adel.
"Apa maksudnya dengan kenapa?"
"Kenapa Daddy mau membawa Adel?"
"Kenapa? Karena Daddy adalah Ayah kamu, Daddy tidak ingin kamu diperlakukan seperti kemarin, Daddy ini ayah kandung mu, sudah sepantasnya kamu ikut Daddy, Mama kamu sudah punya keluarga baru dan adik - adik kamu yang banyak, mama tidak akan punya waktu untuk mengurus kamu kedepannya".
Tiba - tiba saja air mata Adel jatuh, layaknya anak kecil yang dicuri permen nya, Adel begitu sedih. Yang dikatakan Andhika, semuanya adalah kekhawatiran yang Adel rasakan namun tak bisa ia katakan.
"Bukan nya kemarin Daddy sudah setuju Adel tinggal dengan mama?"
"Itu karena Daddy pikir kamu akan bahagia, jika tahu kamu mendapat perlakuan begini di sekolah, Daddy tak akan pernah mengizinkan nya."
"Hiks...tapi Adel suka tinggal disini"
"Adel tolong!! Dewasa lah sedikit!! Kamu pikir Daddy bisa bahagia mendengar kamu memanggil orang lain dengan papa? Padahal Daddy ayah kandung mu!! Daddy ingin memberikan segala hal nya untuk kamu, Daddy tidak ingin kamu direndahkan!! Disini kamu selalu diperlakukan berbeda!! Dan berhentilah menggunakan bahasa Prancis ketika bicara dengan Daddy!"
Belum pernah ada yang menegur cara bicara Adel, meskipun ia memakai bahasa Prancis, ataupun bahasa Inggris, namun kenapa Daddy nya yang tidak pernah mengajarinya cara berbicara harus menegurnya dengan keras seperti ini?
"Ini bahasa Adel, sejak lahir Adel selalu bicara dengan bahasa Prancis atau bahasa Inggris...."
"Itu alasan saja! Mama sama Ben pasti tidak mengajarkan kamu untuk mempertahankan budaya kamu, padahal darah kamu itu bukan darah keturunan Prancis ataupun Inggris, kenapa harus berbicara dengan bahasa itu?"
"Kalau begitu, kenapa Daddy membuang mama dan Adel? Daddy tidak ingin punya anak seperti Adel kan?"
-bersambung-
__ADS_1