Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 118 - TIDAK MENGERTI DIRINYA


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga kunjungi novel author yang lain dengan judul "Cinta Ku Mafia Ku" dan "Pertemuan". Terimakasih....


...*...


...*...


...*...


Pagi yang indah terasa ketika Ben membuka mata nya. Nissa berbaring di sampingnya sambil memeluk tubuh nya yang kekar. Beberapa hari terakhir, Nissa sudah mulai bisa membuka hatinya dan mengikhlaskan Adel pergi menemui Andhika.


Setiap saat Nissa menelfon Adel, hanya ada suara tawa dan bahagia yang Nissa dengar dari Adel. Meski suasana disana cukup canggung karena Sherly tak berniat memaafkan Andhika dengan mudah.


Dhuaakkk.....Tok....tok...tok....


Suara ketukan pintu rumah musim panas nya terdengar sangat keras. Menjelang akhir tahun, Angin sering bertiup dengan kencang, Ben mengira bahwa itu hanya suara angin belaka.


Tok.....tok....tok.....


Kali ini suara nya semakin keras dan bernada. Ben melihat Nissa semakin gelisah, sehingga Ben menyelimuti Nissa sebentar dan turun untuk melihat sumber bunyi itu.


Ben melangkah cepat menuju pintu utama dan membuka pintu rumah nya.


"Benedict!! Tega sekali kau......Uhhpppp"


Ben segera menutup mulut Edison yang tiba - tiba saja datang ke rumah nya di pagi hari.


"Kau tahu kan jam berapa sekarang?! Istri dan anak - anak ku masih tidur semua!! Kau kan bisa menelfon ku dulu!!"


"Apa kau pernah menjawab telfon ku berapa hari ini?"


Ben baru ingat bahwa sejak persidangan hak asuh Adel sampai sekarang ia selalu mengabaikan pesan Edison dan memberikan nya harapan nanti.


"Baiklah, kita keluar dulu...."


Ben membawa Edison ke halaman rumah nya dan duduk di gazebo taman milik nya.


"Jadi? Apa ini masih masalah Lyra? Kenapa kau ingin menemui ku begini? Lihat saja luka mu, harus nya kau istirahat saja dulu"


"Aku tidak bisa menunda nya lebih lama Ben!! Aku takut Lyra akan pergi lagi dari hidup ku, Aku tidak bisa hidup tanpa Lyra!!"


Ben baru kali ini melihat Edison seperti ini, rasa takut dan putus asa yang tampak dari wajah nya. Edison selalu melakukan semua nya dengan santai dan memilih untuk melihat dunia dengan santai,sehingga jarang sekali Edison terlihat panik dan kacau seperti saat ini.


"Jadi kenapa Lyra bisa menolak lamaran itu? Bagaimana kau melakukan lamaran mu? Cerita kan lebih detail"

__ADS_1


Edison pun mulai bercerita dari awal, dimana Lyra dan dirinya berbincang di ruangan Edison. Edison mulai dipindahkan ke rumah demi kenyamanan pribadi nya yang membenci rumah sakit.


Ketika melihat Lyra yang sedang merawat nya dengan penuh perhatian, hatinya kembali terhanyut akan perasaan nya. Edison selalu menyukai ekspresi serius dari wanita itu. Mengingat betapa berdosa nya ia terhadap wanita itu membuat nya takut untuk mengatakan lebih dalam perasaanya.


Saat tangan Lyra menyentuh tangan Edison, saat itu tanpa sadar Edison mengatakan nya. Edison tak ingin jauh dari Lyra, ia tak ingin menunda lebih lama waktu yang ia punya. Mempunyai Lyra sebagai seseorang yang selalu ada di sampingnya adalah kebahagiaan nya.


"Lyr, Menikah lah dengan ku, Aku akan menjaga dan merawat mu....Aku sangat mencintai mu"


Butuh berapa detik sampai Lyra akhirnya sadar akan apa yang terjadi padanya. Lyra terlihat sedih dan hanya mengatakan maaf kepada Edison.


"Lihat!! Apa yang salah dari lamaran ku?"


Ben memikirkan nya kembali, juga tak ada yang salah, bahkan dari kata - kata yang Edison katakan pun tak ada yang salah sama sekali.


"Apa kau sebelum nya membuat Lyra marah?" Tanya Ben.


"Tentu saja tidak, bahkan Lyra selalu memeluk ku dan menjagaku setiap malam. Aku tidak tahu kenapa dia menolak lamaran ku, kalau dia tidak suka kenapa dia masih mau memeluk ku dan menjaga ku?"


"Apa dia masih trauma?"


"Trauma?"


"Ya, dengan anak kalian"


"Karena kau lelaki yang sudah beristri, katakan padaku bagaimana kau melamar istri mu?"


Ben tersentak kaget, ketika memikirkan kembali saat ia melamar istrinya. Rasanya hari itu masih terjadi kemarin, tanpa terasa sudah bertahun - tahun berlalu. Saat itu yang Ben rasakan adalah rasa tenang dan ingin memiliki istri nya secara sah.


"Yah Aku hanya selalu bersikap jujur di hadapan istri ku, Tapi sungguh sebelum kami menikah adalah saat - saat terberat bagi ku"


Ben bercerita bagaimana waktu yang ia habiskan dengan mencintai wanita yang memiliki lelaki lain di hatinya meski saat itu di hati Nissa hanya lah rasa sakit dari lelaki itu, tapi lelaki itu masih ada di hati nya.


Butuh bertahun - tahun untuk membuat Nissa menerima nya. Bahkan untuk menghapus luka di hati Nissa butuh bertahun - tahun bagi Ben.


"Yah setiap orang tidak akan memiliki kisah cinta yang sama, ku saran kan untuk bicarakan lagi dengan Lyra baik - baik"


"Apa dia mau bicara dengan ku?"


"Coba saja!! Kalian ini selalu menahan diri untuk mengungkapkan perasaan kalian, cobalah untuk mengungkapkan isi hati mu, Kunci dalam suatu hubungan itu adalah saling berbicara"


Ben belajar banyak hal, dalam suatu hubungan tak akan bisa bertahan jika tidak saling mengungkapkan perasaan apa yang saling mereka rasakan.


"Aku akan mencoba lagi!!" Ucap Edison dengan semangat.

__ADS_1


"Baik!! Selamat berjuang"


.


.


.


Di suatu kediaman besar dan megah....


Jendela kamar terbuka dengan lebar. Angin pagi mulai bertiup memasuki kamar itu. Lyra duduk di hadapan meja kerja nya dengan masih menggunakan gaun tidur nya. Mata nya terus tertuju pada laci meja yang terbuka.


"Nona Lyra, Apa anda ingin menu spesial untuk sarapan Anda?" Tanya para maid nya.


"Bawakan aku buah beri saja, Aku tidak selera untuk makan"


Dari laci meja nya terdapat beberapa tumpuk surat dan beberapa surat yang sudah robek dan ronyok.


.


.


.



.


.


.


Lyra hanya memandang semua surat itu dengan tatapan sedih. Sudah beberapa bulan yang lalu ia menerima lamaran Edison, sejak itulah ia belum menemui Edison lagi. Hatinya terlalu merasakan banyak hal yang tak bisa ia jelaskan.


"Nona Lyra, besok ada party besar di kediaman Keluarga Elias, Apa anda akan hadir? Anda belum membalas undangan nya sejak beberapa hari yang lalu"


Lyra yang tersadar pun segera mengangguk dan tersenyum simpul kepada pelayan nya.


"Aku akan datang, tolong tulis balasan undangan nya"


-bersambung-


..."Terlalu terik untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, cobalah melihat nya dengan hati mu, hati dapat menuntun mu ke jalan yang terbaik"...

__ADS_1


__ADS_2