Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 94 - PASTA YANG HOT


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa untuk memberikan dukungan ke karya author yang lain nya dengan judul "Cinta Ku Mafia Ku" dan "Pertemuan"....


...*...


...*...


...*...


...*...


Beberapa bulan kemudian......


Dua bulan lagi, Nissa akan melahirkan, semakin besar perutnya semakin malas pula ia untuk bangun pagi. Rasanya lelah semakin melanda tubuhnya di kehamilan nya ini, bahkan ia merasakan bahwa tubuhnya semakin gemuk dan berat badan nya bertambah lebih banyak dari saat ia hamil Collin dulu.


"Perut ku semakin besar saja ya" Ucap Nissa sambil memandang ke cermin.


"Yah wajar lah, kamu kan lagi hamil, gemuk juga nggak masalah, itu berarti kamu sangat sehat, Aku akan jadi suami yang buruk jika membiarkan istri yang sedang hamil punya tubuh yang kurus"


"Tapi beda Ben, dulu waktu hamil Collin, perut ku besar juga tapi nggak sebesar ini, waktu hamil Adel juga aku nggak gemuk begini"


Rasanya Nissa selalu stress setiap kali melihat cermin dan timbangan badan nya. Rasanya angka dari timbangan badan nya terus terbayang - bayang bahkan dalam tidur nya.


"Wajar aja kamu kurus saat hamil Adel, kamu itu stress gara - gara orang itu!! Masih aja ingat - ingat terus nostalgia kalian"


Semenjak kejadian di malam badai itu, Ben selalu menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Andhika. Meski obrolan yang bukan mengarah kesana, Ben akan menarik obrolan itu dan mengarahkan nya ke masa lalu nya. Nissa tahu Ben masih kesal mengenai hal itu, mungkin Nissa butuh waktu untuk melunakkan hati Ben.


"Nggak mungkin lah nostalgia, Kan yang ku pikirin cuma kamu dan anak - anak aja" Ucap Nissa.


Nissa harus selalu belajar untuk menyejukkan hati Ben lebih dalam lagi.


"Oh iya nis, mediasi untu hak asuh Adel bakal ditunda dulu"


"Kenapa? Padahal aku mau segera selesai, bentar lagi aku lahiran lho!"


Mediasi pertama sudah dijanjikan Minggu kemarin, tapi sayang nya Ben minta penundaan karena kondisi Nissa yang sedang hamil besar. Ben tak ingin Nissa stress karena sebentar lagi akan melahirkan. Dengan persetujuan dari semua pihak, mediasi juga diundur dan ini merupakan kesempatan bagi setiap pihak untuk mencari bukti sebanyak - banyak nya.


"Kamu sedang hamil besar, dua bulan lagi melahirkan, persidangan itu tidak mungkin hanya sebulan dua bulan saja, jadi aku meminta mengundurkan jadwal mediasi, dan sudah disetujui semua pihak"


"Kenapa? Kok bisa? Tumben banget orang itu membiarkan ini begitu saja"


"Itu juga yang bikin aku heran, dia langsung setuju begitu saja, mungkin kamu udah ngebujuk dia saat badai waktu itu" Ben menatap Nissa dengan curiga.

__ADS_1


"Ben!! Aku berani bersumpah, malam itu aku tidak ngobrol apapun dengan nya, aku hanya bicara pada ibu nya dan beberapa anak - anak yang ada disana bersama orang tua nya"


"Aku percaya, tapi....jika suatu saat aku tahu kamu berbohong, aku tidak akan memaafkan mu, kamu tahu kan?"


Nissa tahu itu, moto di keluarga nya untuk tak berbohong. Ben sudah membuat keputusan bulat, tapi tak ada yang perlu Nissa khawatir kan karena ia tak berbohong. Nissa hanya perlu lebih banyak sadar diri dan introspeksi dirinya.


"Aku tahu" Jawab Nissa lirih.


"Aku bersyukur kamu jujur padaku, meski salah.... kamu mau jujur itu adalah keberanian yang besar, dan aku menghargai nya, itulah yang membuatku mampu memaafkan mu"


"Terimakasih Ben"


.


.


.


Esok nya......


Harum semerbak memenuhi rumah, bau dari pasta yang gurih dan lezat berpadu pada aroma khas rumah yang seperti kastil itu. Nissa buru - buru turun dan membawa Collin yang baru saja membangunkan Nissa dari tidur nya.


Collin terus saja membangunkan Nissa tadi dengan mencium Nissa dan berbicara mencari papa nya. Saat menuruni tangga, harum dari pasta mulai semakin tercium dengan kuat.


"Pasta? Siapa yang masak pasta pagi - pagi? Tumben banget?"


Nissa tahu koki di rumah jarang sekali memasak pasta pagi - pagi. Semua orang di rumah tahu bahwa pasta bukan makanan yang cocok disajikan pada pagi hari. Nissa pun segera ke arah dapur dan melihat...


Ben.....memasak pasta? Hmmm harum sekali bau nya? Perutku semakin besar gini, kalah makan pasta berapa banyak kalori nya ya? Tidak - tidak! Ini bukan berat badan ku, tapi berat anak ku, aku masih kurus dan ringan.


Nissa memperhatikan Ben memasak dari kejauhan. Postur tubuh yang tegap, tangan yang berotot dan lekukan tubuh yang bidang itu membuat Nissa terpesona. Pagi nya terasa panas dengan pasta yang terlihat begitu HOT itu.


.


.


.


.


__ADS_1


.


.


.


.


Jari - jari Ben yang panjang terlihat memukau ketika membalik pasta dengan spatula yang ada. Keringat Ben menetes seperti butiran air yang semakin mempesona dan menambah gairah nya terhadap Ben.


"Papa!!" Ucap Collin.


Ben langsung menoleh....


"Collin, kamu sudah bangun? Hari ini papa buat pasta spesial untuk kamu, pasta dari sayuran, papa sengaja buat nggak pedas, hanya pakai saus tomat dan campuran daging cincang." Ucap Ben sambil mengaduk pasta itu.


"Memangnya kita ada pasta sayuran? Setahu ku saat mengecek keperluan bulanan nggak ada mesan itu deh"


Belanja keperluan rumah adalah tugas Nissa, tapi tugas Nissa yang utama adalah memeriksa setiap pengeluaran dan barang apa - apa saja yang dibeli untuk keperluan rumah.


"Aku membuat nya, sudah kubuat sejak kemarin, Aku membuat adonan mie pasta dari campuran sayur, Collin harus mulai belajar makan sayur"


"Akhirnya! kamu sadar kan kalau sayur itu penting? Collin itu mirip sama kamu yang nggak suka sayuran"


"Aku suka kok, apalagi asparagus dan brokoli, kalau nggak Collin nggak bakal lahir dong" Goda Ben.


"Apaan sih, kamu ini ya...."


Nissa hanya bisa tertawa geli dengan candaan Ben yang terdengar sangat menggelitik itu.


Ben kemudian menuangkan pasta ke piring Collin. Ben membuat pasta ini karena sebelumnya saat Ben dan Nissa makan pasta di sebuah restoran, Collin tiba - tiba menyambar piring Nissa dan memakan pasta dengan tangan nya.


Dalam lima detik, Collin menangis dengan kuat karena pasta itu sangat pedas dengan campuran paprika dan cabai yang banyak sekali. Sejak itu Ben belajar membuat pasta namun Ben ingin Collin lebih menyukai sayuran, karena Collin selama ini tidak suka sayuran, Ben menambah kan variasi baru agar Collin mau makan sayur.


"Bagaimana my boy? Enak kan?" Tanya Ben kepada Collin.


"Yum Yum" Jawab Collin dengan lucu, saus pasta pun berlepotan di wajah Collin.


-bersambung-


..."Hari - hari akan semakin sempurna dengan kehadiran orang yang selalu mencintai kita ada disisi kita"...

__ADS_1


__ADS_2