
...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Jangan lupa juga untuk mengunjungi novel karya author yang lain dengan judul "CINTA KU MAFIA KU" dan "PERTEMUAN"....
...*...
...*...
...*...
Hujan turun pada senja yang terlihat cerah. Hujan panas di saat senja, tidak lebat namun tidak juga rintik. Senja adalah pemandangan yang paling Lyra sukai. Diantara banyak nya pemandangan indah yang pernah Lyra kunjungi, Lyra mengatakan nya dihadapan Edison bahwa ia menyukai langit senja dan pemandangan saat matahari itu akan terbenam.
Sebenarnya apa yang membuat ku begitu lama kesini? Padahal aku hanya perlu berusaha lebih keras, kenapa dari dulu aku selalu menjadi pria lemah yang pengecut di hadapan Lyr....
Edison saat ini berdiri di gerbang rumah keluarga Lyra, sejauh yang ia tahu Lyra terus mengurung diri di rumah itu. Keberadaan Edison selalu tak di terima di rumah itu, Ed tahu bahwa semua adalah kesalahan nya.
Keluarga Lyra terus menolak kunjungan pribadi Ed bahkan semua kontak dengan Lyra mulai diputus oleh keluarganya. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Ben, Ed memberanikan diri untuk menemui Lyra di pesta keluarga Elias.
Seolah takdir tak berpihak padanya, jangan kan menyapa Lyra. Saat hendak mendekati Lyra saja, keluarga nya langsung memandang nya dengan sinis bahkan membawa Lyra pergi dengan paksa.
"Hei penjaga!! Apa nona muda kalian ada di dalam?" Tanya Ed dengan lantang ke arah penjaga itu.
Tanpa membawa payung, hujan membasahi tubuh Ed perlahan. Para penjaga mendekati Edison dengan takut - takut.
"Tuan Canvendish saya mohon, anda jangan begini....Kami tidak bisa membiarkan Anda masuk, kami ditugaskan untuk mengusir anda jika anda datang"
"Lalu surat ku? Apa Lyra membaca surat ku? Tidak adakah balasan dari nya? Mengapa Handphone nya tidak bisa dihubungi?"
Sudah banyak pertanyaan dan segala hal yang ingin ia katakan di hadapan Lyra. Ed merasa jiwa nya sunyi tanpa kehadiran wanita yang ia cintai itu. Bahkan saat ini ia tak tahu bagaimana keadaan Lyra.
"Surat anda sudah saya sampaikan, tapi....saya rasa nona tidak membalas nya, karena saya melihat nona langsung membaca surat itu"
"Lalu kenapa tidak dibalas surat itu?"
"Saya tidak tahu tuan....saya mohon segeralah pergi dari sini sebelum tuan besar melihat...."
"Pergi dari sini sekarang juga!!!" Teriak seseorang.
Edison mendekat kan wajah nya ke celah gerbang besar dan melihat ke arah suara tersebut. Seorang lelaki tua dengan tongkat berjalan menuju kearah nya sambil dipayungi oleh pelayan nya.
"Tuan besar!" Para penjaga langsung memberi hormat.
Ayah Lyra memandang Ed dengan wajah tidak suka yang seolah ingin segera membuang Edison dari bumi ini.
"Ada apa sampai tuan muda keluarga Canvendish ini berani datang ke sini?" Tanya Ayah Lyra.
__ADS_1
"Om...saya"
"Berani nya kau memanggilku dengan sebutan itu!!"
"Tuan, saya mohon biarkan saya bertemu Lyra, banyak hal yang perlu saya katakan pada nya"
Wajah Ayah Lyra menjadi merah dan menegang karena amarah.
"Kau tidak diterima disini, apa kau tahu betapa besar dosamu? Aku tidak akan membiarkan putriku bersama dengan mu setelah apa yang orang tua mu lakukan pada keluarga kami"
Edison heran, kenapa dengan keluarga nya? Ini hal baru yang ia ketahui saat ini. Ia tak tahu kenapa tapi sepertinya itu bukan hal yang baik.
"Maaf, apa yang keluarga saya lakukan pada Lyra?"
"Mereka menolak Lyra! Saat aku tahu putriku hamil, Aku langsung pergi menemui keluarga mu, tapi kau tahu apa yang ayah mu katakan?"
Ayah Lyra mendekat ke arah Ed dan mencengkram besi pagar itu dengan kuat.
"Ayahmu berkata tidak mau menerima perempuan yang hamil di luar nikah, di mengatakan putriku kotor!! Aku harus mengusir putriku karena malu, setelah aku sadar bahwa Lyra menderita, Aku malah mendapati putriku tersiksa seperti orang mati karena keguguran"
Ayah Lyra tak bisa menghapus pemandangan itu dalam benak nya. Lyra, putrinya terlihat seakan tak bernyawa saat keguguran. Jika saat itu Ben tidak mengabari kondisi Lyra, selama nya sang ayah tak akan tahu bagaimana keadaan putri nya.
"Aku berharap bahwa lelaki yang putriku cintai adalah lelaki seperti Benedict, bukan lelaki pengecut seperti dirimu yang hanya bisa berdiri di belakang Lyra!! Sekarang pulang lah! Tempat mu bukan disini"
Bagaikan dentuman Drum dan gaung yang saling bersahutan. Hanya Lyra yang mampu mengguncang hatinya seperti gempa, begitu juga Lyra lah yang bisa meretakkan hati nya dan membuat jantung nya sakit.
"Om, mungkin saya..."
"Jangan panggil aku seperti itu!!"
"Tuan, mungkin saya memang lemah dan pengecut, tak ada kebaikan dalam diri saya, tapi saya selalu tulus mencintai Lyra, hanya ketulusan itu yang saya punya"
.
.
.
"Nona!! Nona!! Gawat!! Tuan muda Canvendish sedang bertengkar dengan Tuan besar di gerbang rumah" Ucap pelayan pribadi Lyra.
"Yuzu! Bawakan mantel ku!! Aku harus keluar sekarang!!" Teriak Lyra.
"Maaf nona, tapi ini perintah tuan besar!! Anda tidak boleh keluar sama sekali dari pintu ini" ucap si kepala pelayan.
__ADS_1
"Berani sekali pelayan seperti mu, mengunci diriku!! Cepat buka pintu ini!!"
.
.
.
.
.
.
"Maaf perintah adalah perintah, tuan besar adalah atasan saya, sudah sepantasnya saya mematuhi beliau"
"Warren!! Buka ini atau aku akan mendobrak pintu ini!!"
Bruk.....Brukkk.....Lyra mencoba mendobrak pintu dengan tubuh nya dan terus menggedor pintu itu. Semua pintu di rumah Lyra terbuat dengan bahan khusus dimana pistol atau senjata tajam pun tak akan bisa menembusnya. Lyra tahu bahwa tubuh nya akan sia - sia saja.
"Yuju!! Jika kau berani membuat nona muda keluar dari pintu ini, akan ku pasti kan tuan muda tak akan membiarkan kau hidup, Aku akan pergi untuk melihat keadaan di depan" Ucap Warren.
Saat Warren telah pergi dari kamar Lyra, Yuju mulai mengetuk pintu dengan pelan.
"Nona muda?"
"Yuju? Kau kah itu? Apa Warren masih di sana?"
"Tidak, Warren sudah pergi"
"Kalau begitu, bukalah pintu ini!! Aku harua keluar"
"Kunci nya ada pada Warren, saya tidak bisa membuka nya"
Lyra kemudian mencari sesuatu dari laci nya dan menyerahkan nya kepada Yuju dari celah bawah pintu.
"Tolong sampaikan ini kepada Ed dan Ayah ku" Ucap Lyra.
-bersambung-
..."Manusia terkadang selalu bersembunyi dalam kalimat tidak tahu namun sesungguhnya dia lah yang tak ingin mencoba tahu hal tersebut"...
__ADS_1