Istri Yang Terabaikan

Istri Yang Terabaikan
S3 EPISODE 84 - KEMANA NISSA?


__ADS_3

...Sebelum membaca novel ini jangan lupa untuk memberikan like, vote, hadiah dan komentar nya agar author semakin semangat dalam menulis novel ini. Selamat Membaca....


...*...


...*...


...*...


...*...


"Jadi? Kenapa kau memanggil ku juga ke rapat kalian ini?" Tanya Nissa.


Nissa merasa bahwa weekend nya harus terganggu karena Edison. Edison mengajak Ben dan Nissa untuk rapat sebuah ide gila lain nya. Padahal Nissa berharap weekend nya akan membahagiakan bersama Ben dan anak - anak nya.


"Duduk lah" Ucap Edison.


Dengan wajah cemberut Nissa pun duduk di samping Ben.


"Aku ingin membongkar kejahatan Mr.frank tapi aku butuh bantuan kalian, Kita harus membuat mr. Frank mengakui kejahatan nya, sejujurnya aku sudah menjadi spy ganda disana selama berapa bulan ini, tapi aku belum menemukan apapun sebagai bukti, pertahanan nya terlalu kuat"


"Lalu apa hubungannya sama kami?" Tanya Nissa.


"Kalian harus membereskan Dewina terlebih dahulu, Mr. Frank itu sangat menyayangi Dewina pasti ia akan menukar segala nya demi sang putri"


"Aku sungguh heran, kenapa Dewina begitu menyukai Ben? Memikirkan nya saja membuat ku sakit kepala" Ucap Nissa.


Edison menggeleng tak mengerti, ia juga tak tahu kenapa Dewina bisa sekukuh itu mempertahankan cinta nya kepada Ben. Dari pada cinta itu lebih bisa di sebut sebagai obsesi tingkat tinggi, dengan tambahan delusi dan khayalan fantasi nya.


"Dia sampai mewarnai rambut nya menjadi hitam!! Gila tuh cewek!!" Ucap Edison.


"Hitam? Kenapa?


*


*


*



*


*


*


"Ben kau tidak lihat?" Kata Edison.


"Aku tidak memperhatikan nya, Aku cuma kesal ketika melihat nya" Jawab Ben.


"Ben memang suka begitu, maklum saja" Nissa ikut menyambung.

__ADS_1


"Dia sengaja mewarnai rambut nya dengan hitam agar bisa seperti orang Asia, kau kan suka wanita Asia, bahkan dia menanyakan pendapat nya tentang warna rambut itu padaku, Aku mau gila karena dia menanyakan hal yang sama lebih dari sepuluh kali"


Edison mengeluh kepada Nissa dan Ben.


"Jadi ide gila apa yang akan kau lakukan Ed?" Tanya Ben kepada Edison.


"Untuk sementara, Ide yang kupunya adalah menyebarkan video Dewina, dan aku akan memblur kan wajah kalian, jadi sementara kita akan tahu keberadaan Dewina di mana, dia juga tidak bisa kabur ke luar negeri, ide lain nya akan ku katakan nanti"


Ben kemudian melihat ke arah jam tangan nya...


"Sudah selesai kan?" Tanya Ben.


"Sudah, kenapa?"


"Aku mau kencan dengan istri ku!!"


Edison segera melempar bantal duduk nya ke arah Ben dan ditangkap dengan baik oleh Ben.


"Nice Catch!!" Ucap Ben.


"Pamer Mulu !!" Protes Edison.


Nissa hanya tertawa saja melihat kedua nya. Saat Ben hendak melangkah ke luar, Ed memanggil Ben dengan pelan.


"Ben...."


"Apa?"


Nissa dan Ben tahu pasti, siapa yang Edison maksud dari dia. Ben ingin sedikit menggoda Edison sehingga Ben menjawab Edison dengan berkata.....


"Siapa yang kau maksud dengan dia?"


"Cih!! Kau kan tahu.....dia lah!!"


Melihat wajah Edison yang serius, Ben pun akhirnya menyerah dan memberikan informasi yang Edison inginkan.


"Dia baik - baik saja Ed, dia menikmati liburan nya" Ben pun kemudian memperlihatkan foto Lyra saat Lyra liburan.


Ben menanyakan kabar Lyra dan Lyra menjawab bahwa ia baik - baik saja, Lyra pun mengirimkan foto nya saat ia liburan. Edison memandang foto itu dengan kerinduan, ia ingin memeluk Lyra dan bercerita banyak hal. Selama ini meski mereka berada sangat dekat tapi jarak yang mereka terlalu jauh dan tak akan bisa diperbaiki dengan mudah.


"Syukurlah, dia terlihat bahagia" Ucap Edison.


"Ya, baru kali ini aku melihat Lyra sebahagia ini" Jawab Ben.


********


Beberapa hari kemudian.....


Ketika Ben pulang ke rumah, ia mendapati bahwa Adel ada di rumah dengan wajah khawatir nya.


"Papa!! Collin demam!! Bagaimana ini?!!" Adel terlihat sangat panik.

__ADS_1


Ben segera berlari untuk melihat keadaan Collin, tanpa mengganti sepatu maupun baju nya terlebih dahulu.


"Mama kamu mana?" Tanya Ben kepada Adel.


"Mama sudah pergi sejak dua jam yang lalu"


"Kemana?"


"Tidak tahu, mama pergi begitu saja setelah mendapat telfon dari telfon rumah, mama tidak membawa pengawal maupun mobil nya" Jelas Adel.


Ben pun memeriksa suhu Collin dan benar, suhu tubuh Collin sangat tinggi, Collin juga terlihat gelisah dan wajah nya sangat merah.


"Bentley, apa Collin sudah di periksa atau sudah dapat obat penurun panas?"


"Belum tuan, tuan muda sudah rewel sejak tadi pagi tapi baru sekarang suhu tubuh nya naik, kami baru mengompres nya sebentar"


Ben segera menghubungi dokter Eric, Meski hujan badai syukurlah dokter Eric bisa segera datang ke rumah mereka.


"Tuan, saya kira kali ini anda akan membodohi saya lagi, ternyata kali ini beneran ya"


"Kau gila? Mana mungkin aku bercanda jika mengenai anak ku!!" Jawab Ben dengan kesal.


Dokter Eric memeriksa Collin, Collin pun menangis - nangis dengan memberontak dengan kekuatan nya, Ben dan Adel berpelukan karena khawatir dengan keadaan Collin.


"Bagaimana?" Tanya Ben.


"Tuan muda hanya demam saja tuan, Seperti nya gigi tuan muda akan tumbuh, saya lihat di geraham tuan muda sedang mengalami pembengkakan dan terdapat tonjolan putih seperti gigi" Jelas dokter Eric.


"Oh pantas saja akhir - akhir ini Collin sulit untuk makan, Dulu gigi depan nya tumbuh tapi Collin tidak demam, kenapa sekarang demam?"


"Yah, biasanya fase tumbuh gigi orang berbeda - beda tergantung imun tubuh seseorang"


Dokter Eric hanya memberikan obat penurun demam, dan berkata untuk segera menghubungi nya jika ada sesuatu yang gawat terjadi pada tuan muda.


"Adel mama masih belum bisa dihubungi?" Tanya Ben kepada Adel.


"Tidak bisa pa, handphone mama sudah Adel coba hubungi lebih dari sepuluh kali, tidak ada balasan dari mama, bahkan nomor nya juga tidak aktif"


"Kemana sih Nissa?!!"


Ben teringat bahwa di sekitar perbatasan kota terjadi longsor akibat badai yang terjadi, sebab itulah Ben mencoba pulang lebih awal karena hujan badai semakin menyeramkan, jika ini terjadi biasanya akan ada pemadaman listrik dan banyak yang sulit untuk pulang ke rumah.


Ben terus gelisah, Ben khawatir pada Nissa, takut Nissa tak bisa pulang karena tertahan hujan badai. Saat mencoba mencari Nissa, Ben teringat kembali bahwa Collin sedang demam, dan ia berkewajiban untuk menjaga nya karena ia ayah dari Collin.


Tepat saat itu, pemadaman listrik terjadi....


"Adel, kamu tidur disini saja bersama papa dan Collin ya"


Akhirnya Ben pun menggelar kasur nya di bawah dan menyalakan penghangat di perapian. Ben ingin menjaga Adel dan Collin di dekat nya karena akan sulit untuk bergerak di saat gelap gulita.


-bersambung-

__ADS_1


"Merindu itu sangat lah menyesakkan, butuh kekuatan besar untuk menahan nya di hatimu"


__ADS_2